
Aim bersandar di dinding, hatinya merasa teriris oleh perlakuan hina Shina terhadapnya, Aim yang sudah tau segalanya kini yakin dan akan membulatkan tekadnya untuk bercerai dengan Shina.
Pernikahan ini terlalu berat, bukan karena perbedaan kasta atau perbedaan martabat yang menyulitkan mereka untuk bersama, tapi perbedaan perasaan dan tak pernah tertambat ada rindu dihati keduanya.
Aim duduk diatas dipan sambil membuka-buka buku mengalihkan perhatiannya dan menjaga kepura-puraannya, pura pura tidak mengetahui apapun dihadapan Shina. Aim hanya ingin tau langkah apa yang akan Shina lakukan terhadapnya.
"Im, minum dulu" Shina menyodorkan segelas susu.
Untuk menghilangkan kecurigaan Shina Aim segera menerimanya dengan senyum senang penuh rasa terima kasih.
Aim baru ingat, selama menikah dengan Shina setiap malam ketika hendak tidur berdua dia akan dibuatkan susu dan dipaksa untuk menghabiskannya.
Diperhatikannya dengan teliti isi gelas tersebut sekilas tak ada yang keliru, warna dan baunya tetap sama namun Aim yakin Shina telah mencampurkan sesuatu pada minumannya yang berpengaruh pada nafsu sexsualnya.
"Kenapa cuma diperhatikan Im?" Suara Shina memecah semua kecurigaan yang ada di fikirannya.
Aim mengerejab, "Oh ini, masih panas" kilah Aim, Shina tampak mengangguk paham.
Aim lalu pura pura meniupinya mengecapnya sedikit agar Shina berhenti mencurigainya. Aim meringis khawatir.
Beberapa saat kemudian wajah Aim tiba tiba panik karena Shina tidak melepaskan tatapan darinya, Aim tidak ingin menghabiskan susu itu, tapi bagai mana jika Shina bertanya 'Kenapa tidak diminum?' apa kira kira alasan yang harus Aim berikan.
Yang ada didalam fikirannya saat ini hanya kebuntuan melihat gelas yang terisi penuh Aim semakin cemas.
Mau tidak mau Aim harus meneguknya hingga tuntas.
Shina terus memerhatikannya dan melayangkan ekspresi tidak senang saat Aim tidak juga meneguk susu tersebut "Apa kau tidak suka susunya Im? Kenapa cuma dipegang? Aku perhatikan sepertinya kamu keberatan dengan minuman yang aku buat?"
"Bu bukan begitu" Aim gugup, secara tidak langsung dia sedang ditindas untuk menghabiskan obat tersebut.
"Aku akan menghabiskannya" Aim memiring kesisi lain pura pura meminumnya, tapi Shina tampaknya tidak bodoh Shina beranjak ke sisi yang sama pura pura menaruh handphone ke atas nakas reflek Aim meneguknya beberapa tegukan.
Aim meringis saat sadar betapa bodohnya perlakuan itu.
"Krriiiiingggg" Aim menoleh, dilayar handphone dia melihat Id Name 'Guna' Aim mendesah lega, bantuan kecil menyelamatkanya dari terkaman serigala berwujud Shina.
Ada gunannya juga ini manusia.
"Berisik" Shina mendelik malas lalu melengos pergi duduk didepan cermin.
"Kalau gitu aku bicara diluar" Aim membawa serta gelas susu tersebut.
Aim menoleh kebelakang memastikan Shina tidak mengikutinya.
"Loe di mana Im?" tanya Guna. Saat ini Guna sedang duduk diruang keluarga Apartemen milik Aim menilik dengan teliti biodata yang sempat diserahkan Aim.
Sebelumnya Aim menyuruh Guna menyelidiki perempuan yang bernama Amira.
Guna tau pin kode apartemen Aim untuk itu dia bisa keluar masuk dengan leluasa, Aim pun mengijinkan itu.
"Gue ditempat Shina" jawab Aim tanpa ragu.
"Loe datang kesana? loe rindu? Nggak usah jawab gue udah bisa gue baca kok Im." goda Guna sambil terkikik mengejek.
"Rindu pala lu bonyok, ketemu nanti gue pukul itu kepala, nyinyir aja lu." Aim seakan tak terima Guna mengatakan dirinya merindukan Shina.
"Loe ngoceh gini gue tutup sekarang juga" Ancam Aim kesal.
"Tunggu, tunggu.. Tut tut tut" Aim benar benar mengakhiri panggilan. Aim mendesah lelah dia tidak berharap siapapun membahas hubungannya dengan Shina meski itu hanya sekedar bercanda.
Aim lalu kembali ke dalam kamar menghabiskan sisa susu digelasnya lalu menaruhnya diatas nakas, menghilangkan kecurigaan, melihat itu Shina tampak diam diam tersenyum jahat dibelakang Aim.
Klung... Notif pesan, Aim segera membukanya "Aku harus pergi" katanya sekilas lalu dengan terburu-buru bergegas mengambil barang-barangnya dan meninggalkan Shina.
"Im.. Ada sesuatu yang perlu kita bahas" Karena Aim tidak menerima telponnya lagi Guna terpaksa mengirimnya pesan.
"Baiklah, kebetulan ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengan mu, Gun"
Shina tidak menahan Aim selayaknya istri menahan suaminya saat harus keluar malam, Shina malah terkesan senang saat Aim bilang harus pergi.
Begitulah pernikahan mereka berjalan.
"Sayang, Aim tidak jadi nginep, kamu mau datang nggak? aku kangen bangeet nih." Shina mengirimkan pesan suara kepada Anton, dengan aksen manja.
Keadaan sekitar sudah sangat gelap saat Kinan turun dari angkot. Menakutkan .. Kinan melihat bayangan berdiri diantara temaramnya lampu lorong.
Kinan sempat mematung memerhatikan bayangan itu dengan waspada, Kinan dibuat maju mundur enggan melewati lorong tersebut. Kinan bahkan sempat berbalik untuk melewati lorong yang lain.
"Kinan..." terdengar suara yang dikenali memanggilnya, Kinan segera berbalik kesumber suara, Kinan terbelakak, benar saja yang difikirkan Kinan, Dirga sedang berdiri dihadapannya menatap dirinya dengan tatapan yang menakutkan.
"Dirga" gumam Kinan terkejut. Seperdetik selanjutnua Dirga langsung merangkul Kinan, "Aku merindukanmu sayang" bisiknya bersemangat nafas Dirga begitu memburu.
Kinan yang tidak sengaja mencium bau alkohol dari tubuh Dirga reflek mendorongnya.
Dirga tergopoh berusaha berdiri kembali.
"Darimana kamu tau aku tinggal disini?" tanya Kinan gemeretak.
Dirga melangkah lebih mendekat merengkuh Kinan mendekatkan bibirnya ketengkuk jejnjang perempuan berkulit langsat penuh gairah.
Kinan meringis jijik.
"Aku mengikutimu sayang," Dirga mengendus'i aroma rambut Kinan yang lembut.
Kinan terkejut hebat mendengar pengakuan Dirga.
"Apa yang kamu inginkan Dirga?" pekik Kinan meringis ketakutan kembali memberi penolakan pada tubuh Dirga.
"Aku hanya ingin membuatmu kembali kepadaku, kamu harus membayar kesalahanmu Kinan! karena telah lari dihari pernikah kita" Dirga menyeret-seret kakinya mendesak Kinan, Kinan yang ketakutan terus memundurkan langkahnya menjauh dari Dirga berupaya melindungi dirinya, namun dingding dibelakang menyulitkan Kinan sementara Dirga terus mendesaknya.
"Tidak Dirga, apa yang akan kamu lakukan? Aku mohon! Jangan sakiti aku" Kian menggeleng dan merintih meminta belas kasihan.
"Kau terlihat sexy saat menangis sayang" Dirga mengukung Kinan menekannya sekuat tenaga menjilat air mata yang jatuh dipipi Kinan penuh gairah.
"Dirga aku mohon! Aku mohon lepaskan aku" Kinan terisak, dia yang tak berdaya terus memohon belas kasihan karena untuk melawan Dirga tangannya tidak akan sanggup tenaga Dirga bukan tandingannya.
Kinan terus mencoba memberontak namun dengan cepat tangannya diringkus oleh Dirga kedua lututnya juga diapit kuat, Kinan terus menangis tapi Dirga tidak menghentikan aksi menjijikannya, Kinan semakin panik saat Dirga terus merangsakinya dan yang paling menyedihkan dia hanya bisa menangis.
"Tolong....!!" Kinan memberanikan diri untuk berteriak walau pada akhirnya Dirga membekapnya, namun Kinan tak ingin menyerah dengan sisa tenaganya Kinan terus berusaha menjerit meminta pertolongan, Kinan berteriak didalam bekapan Dirga sayangnya sampai suaranya habis tak ada yang datang menolong, mungkin selain gelap lorong ini terbilang jarang dilewati orang.