Oh My Boss.

Oh My Boss.
83.



"Baiklah, Aku berjanji" kalimat itu terucap penuh kepastian, "Apa itu cukup?"


Kinan dan Aim beradu tatap, saling menumpahkan perasaan mereka masing masing.


"Tidak, aku ingin setiap hari kamu berjanji pada dirimu sendiri, berjanji kalau dirimu tidak akan meninggalkan ku" pinta Aim, menatap iris berwarna coklat pekat dibawahnya, Kinan pun demikian, tersenyum kecil sambil menatap mata lelaki yang menjatuhkan tatapan pada dirinya.


"Aku.." Kinan tak jadi berbicara saat perlahan Aim menurunkan kepalanya, semakin mendekat ke wajah Kinan.


Wajah menawan itu memang selalu menggodanya, mata kecil sedikit bulat, baibir merah jambu membingai'i wajah putih bersih tanpa sentuhan mekeup, dari jauh dari dekat bahkan saat telah bersentuhan, seakan menyisakan candu yang membuatnya ingin dan ingin mengulangi tanpa puas.


Keduanya telah siap untuk saling bersentuhan, namun..


"Khm khm.." Surya menajadi penghalau.


Kinan terkejut bukan main saat mendapati Surya berdiri tak jauh dari tempat dirinya berbaring dengan Aim, spontan Kinan bangkit dengan terburu buru, membentur Aim yang belum beralih dari posisinya, "Aww" Aim merintih sambil memegangi wajahnya.


"Sa saya minta maaf," Kinan beringsut turun.


"Mau kemana?" Aim kembali menahan Kinan, tangannya masih memegangi bagian yang terbentur.


"Aku, membuatkan tea untuk Dokter Surya" Kinan gugup dan malu bukan main, berniat segera labur dari situasi memalu'kan ini.


"Sudah nggak usah, biar dia ambil sendiri ke dapur" wajah Aim berubah kesal.


Wajah datar tanpa merasa bersalah, "Mm, aku datang disaat yang kurang tepat ya? pergi lagi aja kali ya?" Aim mendelik .


Kinan membeku karena malu, sementara Aim telah memasang wajah tidak senang terhadap Surya.


"Ckkk, begini ya kalau punya dua teman bujang nggak laku, bisanya cuma ngerecoki orang, jangan jangan kalian sengaja ngancurin momen intim gue," desis Aim.


"Dih," Surya duduk berhadapan dengan Aim, menaruh tas peralatannya disebelah kaki, "Loe beneran sakit nggak sih Im?" Surya terlihat agak kurang yakin.


"Aku pergi ambilin minum dulu," ucap Kinan, Aim terus menahan, kali ini mulai menunjukkan wajah manjanya dihadapan Kinan.


"Cuma sebentar kok" -Kinan.


"Kamu boleh pergi setelah," Aim menunjuk pipinya.


"Apaan sih" desis Kinan setengah berbisik. Mengingatkan bahwa didalam ruangan ini tidak hanya mereka berdua.


"Kalau begitu," Aim menunjuk ke bibirnya, "Aku akan mencium mu dihadapan Surya" balas Aim sama berbisik.


"Ihh,"


Aim kembali menunjuk pipinya, dengan tepaksa Kinan mengikuti permintaan Aim walau cuma sekilas.


Surya cuma bisa mengelus dadanya saat melihat kelakuan bucin Aim kepada Kinan. Surya mendengus kesal dibuatnya.


"Bisa kita mulai pemeriksaannya sekarang?"


Surya merasa perlu segera pergi dari tempat ini, kalau tidak mau terbakar dengan perilaku Aim kepada Kinan.


Aim mengangguk, namun matanya terarah mengikuti Kinan.


Pemeriksan telah hampir selesai, Kinan pun telah kembali duduk dari menyeduh tea untuk Surya.


"Bagai mana Dok, apa demamnya sudah turun?" -Kinan.


"Masih 38,6. Tapi kamu tenang saja, suamimu ini bukan orang cengeng, bukan pula orang manja" Surya sengaja menekan kalimat kalimat yang keluar dari mulutnya, sengaja untuk menyindir Aim yang bersikap manja kepada Kinan, "Biasanya di 40° pun dia masih kuat untuk bekerja,"


Aim hanya diam, membiarkan Surya mengoceh tentang dirinya.


"Memangnya dia sakit apa?" -Kinan.


"Apa yang kau bicarakan? Kau menghasut istriku?" Kesal Aim.


"Enggak Gue nggak lagi ngehasut, cuma lagi memberi tau Kinan doang, bahwa lelaki bisa bersikap manja dengan orang yang dicintainya"


"Eh tadi lu nggak bilang gitu Ya,"


"Ia tadi'kan cuma kiasan," -Surya, bersikeras.


"Eh ya, lu, lu mending cepet balik deh, kelamaan disini lu bisa ngeracunin istri gue lu"


"Ia ia gue pergi" merapihkan peralatan medis yang dibawanya, "Bilang aja mau bermesraan, apa susahnya sih"


"Silahkan di minum Dok" suguh Kinan. Surya tersenyum untuk berterima kasih.


"Eh lu nggak boleh senyum gitu sama istri gue, gue tabok bibir lu Ya, cepet pulang lu!"


"Isshhh. Baiklah gue pergi sekarang juga," Surya beranjak untuk pergi, Kinan pun ikut berdiri untuk mengantarnya, namun lagi lagi Aim menahan dengan tidak rela.


"Sudah kamu tidak usah mengantarnya, biarkan dia pergi sendiri"


Kinan mengernyit keheranan, tidak biasanya Aim seperti ini, sikapnya sungguh aneh.


Surya pun paham, mengentikan Kinan yang hampir mengikutinya,


"Sudah nggak usah di antar, aku pergi sendiri saja, jaga orang manja itu baik baik. Pastikan dia menelan semua obatnya" Surya pun dibuat kesal oleh sikap Aim.


"Baik Dok"


Surya sempat berbalik sesaat, "Oh ia Im, jangan terlalu banyak melakukan kontak fisik dengan Istrimu, kau! bisa menularkan penyakitmu ini kepada istri dan anakmu, ingat itu" Selepas memperingatkan Aim, Surya bergegas keluar.


Kinan menatap kepergian Surya.


"Yang, apa yang kamu lihat? Kamu tidak boleh menatap laki laki lain seperti itu,"


"Aku tidak melakukan apa apa, aku hanya mengantar Surya, apa ada yang salah?" Mengernyit lagi, berjalan kedekat Aim dan melayangkan tatapan penuh pertanyaan dan penjelasan atas sikap anehnya.


Aim berbicara sambil membuang mukanya, "Semakin lama kamu memperhatikan orang maka akan semakin nampak semua kesempurnaannya," Berbicara dengan nada lirih tidak berniat didengar Kinan.


"Maka akan tampak pula kekurangannya. Aku mendengarkan gerutuan mu, Bos" Melengos pergi.


"Hei" Aim terkejut, tidak menyangka Kinan bisa mendengarkan ucapannya, "Kemana lagi?" tanyanya.


"Aku pergi, aku tak mau mengurusi suami aneh kayak kamu, Bos" ucapnya sambil berjalan pergi.


"Nan, Nan, kamu mau kemana? Aku tak mau kamu tinggalkan, tetaplah disini" tanpa kontrol Aim gegas hendak menyusul Kinan.


Tetapi "Aww.."kembali terduduk dengan kasar, tidak bisa menahan rasa sakit rasa sakit di kepalanya.


"Aww,"


"Bos," Kinan berlari melintang Aim, "Kamu tidak apa apa? Ada yang sakit?"


"Tidak, aku baik baik saja,"


Kinan bantu Aim duduk bersandar.


"Apa yang kamu perlukan? Kamu tinggal bilang, aku bisa ambilkan, Kamu mau minum? Mau aku ambilkan buah?" -Kinan.


"Tidak aku tidak mau apa apa, aku hanya ingin kamu tetap di sini, jangan tinggalkan aku"


"Aku tidak akan kemana mana, aku hanya ke dapur mengambilkan mu bubur, tunggu sebentar ok." Aim berniat kembali mencegah, tapi kali ini Kinan tak ingin mengalah "Aku benar benar akan meninggalkan mu kalau kamu membantah!" Aim langsung diam tak berkutik.