
Kinan tau Amira sedang mencoba menggoda Aim.
Dan Kinan tidak ingin kalah.
Kinan ingin tau siapa yang akan lebih mampu menggoda Aim, dirinya kah atau Amira, siapa yang akan membuatnya tertarik.
Jurus pun dikeluarkan.
"Ah kenapa harus jatuh sih?" Kesal Kinan saat ikat rambut yang akan ia kenakkan terjatuh dengan disengaja.
Kinan memungutnya sesaat, sambil mengusap lembut paha Aim, kemudian Kinan mulai mengikat rambut yang terurai, menampilkan pesona leher jenjang dan pundak yang putih mulus, selain itu Kinan juga menurunkan kaos yang dipakainya, sehingga pundak halus dan lembut tadi tampil mempesona membuat Aim harus menahan saliva yang hampir meleleh keluar, saat melihat kulit putih bersih milik Kinan Aim sempat tidak berkedip, menggoda dibanding belahan dada yang ditunjukkan Amira.
Aim pun mulai merasakan ada persaingan yang cukup sengit.
"Oh ia Nan, hari ini kau bolos kerja? Apa atasan mu tau akan hal ini? Setelah menikahi Bos mu apa kau merasa leluasa untuk masuk keluar kantor seenaknya? Kamu harus ingat Nan, sekarang aku termasuk pemilik perusahaan jadi aku bisa memecat pegawai ku kapan pun aku mau" setelah merasa kalah dari pamer kecantikan Amira kemudian bermaksud mengancam Kinan dengan memecatnya dari perusahaan karena bolos.
Tetapi Kinan tampak tidak peduli akan hal itu, Kinan malah asik menggoda Aim seperti Amira mencoba menggodanya.
"Mau aku bantu mengelap tubuh mu Mas?" Tanya Kinan, berusaha menggoda Aim, supaya Aim hanya fokus pada dirinya sendiri.
"Boleh, lakukan apa saja yang kamu mau" titah Aim sambil melirik Kinan dengan senyuman.
Kinan beranjak mengambil air untuk mengelap tubuh Aim, saat harus melewati Amira, dengan sengaja Kinan membetulkan bajunya, menutupi dada yang sengaja Amira pamerkan dihadapan Aim.
Gila, itu yang ada difikirann Aim sekarang untuk Amira.
Bagai mana tidak.
Diam diam Amira terus menggoda Aim. Dibawah meja Amira memaikan kakinya, menggesek gesekkan kakinya untuk menggoda Aim.
Aim terpaku dan diam, menatap Amira dengan tatapan dingin.
Beberapa saat kemudian Kinan kembali dengan baskom berisi air hangat beserta sebuah handuk kecil.
Aim tersenyum menyambut kedatangan Kinan, Kinan pun duduk disamping Aim, membuka kancing kemeja dan mulai mengusapnya halus dan penuh perasaan, bahkan Kinan sengaja meninggalkan sentuhan sentuhan menggoda ditubuh Aim.
Aim meremang tatkala disentuh dengan lembut, bersamaan dengan itu melihat lekuk tubuh Kinan yang sengaja ia pamerkan dari dekat, Aim tak bisa sedikit pun beralih dari belahan dada yang terbentuk indah sedang terekspos dihadapannya.
Perempuan ini sedang melakukan pembuktian kepemilikan, Aim senang melihat Kinan agresif seperti sekarang.
Tapi semua itu belum berakhir, Amira masih menunjukkan perlawanan. Dia sengaja menjatuhkan sesuatu lalu memungut benda tersebut, tak lupa meninggalkan belaian penggoda di kaki Aim.
Kali ini Aim mulai marah terhadap sikap yang ditunjukkan Amira, awalnya Aim menerima Amira sebagi tamu yang perlu dihormati namun Amira terus melakukan segala hal diluar batas, Aim berfikir perlu menerjang Amira, supaya tidak berfikir untuk menggodanya lagi.
"Sayang,"
Aim balas menyentuh Kinan dengan penuh semangat, seperti seharusnya.
"Mm? Kenapa? Sudah cukup kah(mengelap tubuh)?" Tanya Kinan sambil merapihkan rambut Aim, memberikan sentuhan lembut penuh kasih sayang di kepala suaminya.
"Disini?" Kinan menuruti, mengelapnya dengan lembut.
"Hei, kau mencoba menggodaku?" Tanya Aim sambil terkikik geli disaat Kinan mengelap leher sesuai permintaannya.
"Aku tidak menggoda mu," Kilah Kinan. "Kau yang terlalu sensitif" desis Kinan.
"Tidak, kau memang sengaja menggodaku'kan?," Aim terus bersikeras membuat Kinan terkikik.
"Sudah ku bilang, aku tidak menggoda mu, lagi pula untuk apa aku menggoda? Kau pun sakit pasti tidak akan mampu berbuat apa apa, percuma saja 'kan aku menggoda"
"Hei, berkata seperti itu awas saja kau" ancam Aim, Kinan memeletkan lidahnya membuat Aim semakin bersemangat.
"Trik mu terlalu klasik, lakukan ini saat menggodaku!" Aim memangku Kinan lalu mendudukkannya di atas paha, lalu dengan sengaja Kinan menyingkap rok untuk memamerkan paha halus, mulusnya.
"Ku pikir ini bukan apa apa," mendekatkan wajahnya ketelinga Aim, kemudian berbisik, "Aku bisa melakukan yang lebih dari ini"
Spontan Aim menoleh, tergiur akan ucapan penuh semangat yang dilontarkan istrinya. Tapi sayang Aim tidak punya banyak tenaga untuk meladeni itu, yang ada hanya hasrat menggebu yang berapi api namun kondisinya masih lemah.
"Lakukan sekarang!" Titah Aim.
Kinan terkikik, mendengar permintaan itu, setidaknya dia merasa godaannya berhasil.
Amira berdehem, namun diabaikan oleh Aim begitu juga dengan Kinan. Sengaja atau tidak tetapi dua orang pengantin baru ini tengah dimabuk perasaan, awalnya Kinan hanya ingin menggoda suaminya seperti yang dilakukan Amira. Namun, Kinan malah terjerumus pada perasaan ingin disaat Aim menunjukkan balasan atas perlakuannya.
Amira dibakar api kemarahan, "Hei Nan, apa kau serendah itu?!" Kinan tak menoleh, "Kau tidak perlu melakukan banyak hal untuk menggoda Bos mu, tidak kah kau sadar apa yang kau lakukan ini menjijikan!" pekik Amira.
Kinan terdiam sesaat, wajah pun dibuat mendung oleh ucapan Amira.
"Sayang, kemarin saat kamu meminta aku membuka mata, kamu ingat? kamu berjanji akan membawaku pulang kerumah, aku tagih janjimu sekarang, aku ingin pulang supaya kamu bisa melakukan ini tanpa diganggu siapapun, tanpa Guna, Surya tanpa siapapun yang akan mengganggu kita" membelai pipi sambil menekan lembut pinggang Kinan.
"Aku tidak akan membawamu pulang, aku takut kau mengurungku seharian" -Kinan sengaja mengeluarkan kata kata menggoda, untuk membalas ucapan pahit yang keluar dari mulut Amira.
"Itu yang akan aku lakukan, tapi ingat! Kamu tidak akan bisa lari dari aku, karena aku akan menagih semua hak ku, kamu lari aku akan mengejarmu, kau bersembunyi aku akan menemukan mu, jadi terima dan nikmati saja ok"
"Huuhhh, apa dia benar benar akan melakukan itu? Apa dia serius?" Batin Kinan bertanya tanya.
"Mm, kau suka kucing kucingan?" Aim mengangguk, "Baiklah, aku suka tantangan, lakukan itu nanti ok" lagi lagi Kinan membisik ditelingnya, membuat Aim semakin meremang, bahkan beberapa bagian tampak tidak akan terkendalikan lagi.
"Hei," Amira mulai merasa kesal karena terus diabaikan, terlebih pasangan itu dengan sengaja memamerkan kemesraan yang menurutnya hanya berpura pura "Kalian berdua, berhentilah! Aku tau pernikahan kalian hanya sebuah kebutuhan untuk menutupi kehamilanmu," menunjuk Kinan "tanpa niat, perasaan, apalagi keinginan melakukan hal gila seperti itu(bermesraan), aku tau sebenarnya kau sangat jijik dengan kakak ku yang tampangnya polos tapi kelakuannya bejat ini, silahkan teruskan drama kalian, karena suatu saat akan terbukti bahwa kalian berdua itu hanya berakting, terutama kau, Aim!. Sadar atau tidak kau baru saja memungut sampah lalu menikmatinya! ayolah Im kau pasti tau siapa dirimu dan kau juga harus sadar siapa Kinan!"
Kinan mulai terpancing emosi, b.eberapa ucapan yang keluar dari mulut Amira menyakiti hati Kinan, Kinan berniat melawan, namun tidak disangka Aim terlebih dahulu melakukan perlawanan diluar dugaan.
Tiba tiba Aim melayangkan ciuman dibibir Kinan, menikmatinya dengan rakus.
Kinan membeku namun akhirnya mengikuti permainan Aim yang menggila.
Daripada meladeni Amira alangkah baiknya menikmati sentuhan suaminya.