Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.33



Kinan mendesah kesal hasratnya yang menggebu untuk menyantap kuah pedas itu harus tertunda.


Tapi Kinan tidak menyerah begitu saja ia segera mencari dompet miliknya bergegas untuk membeli mie yang dia inginkan.


Beberapa saat sibuk mengecek setiap celah dompet yang dia punya berharap mendapatkan pecahan yang dia butuhkan. Setelah sekian lama mencari dan berulang kali mengecek ternyata dompet itu tetap kosong tak ada pecahan rupiah yang bisa temukan didalamnya.


Kinan kembali mendesah kesal, kali ini diiringi rasa khawatir barangkali sudah tidak ada sesen pun uang dimilikinya, Kinan lalu beralih pada tas kecil yang setiap hari setia menemaninya kemana pun, dengan harapan ada pecahan rupiah terselip didalam sana.


Semua isi tas dikeluarkan Kinan, beberapa menit masih mengecek namun tidak menemukan apa apa, Kinan lalu ingat pada tas tersebut ada selipan kecil yang biasa Kinan gunakan untuk menyembunyikan uang dari geledahan Mina, Kinan lalu membuka tempat kecil yang cukup tersembunyi itu dengan harapan akan menemukan pecahan yang dia inginkan.


"Ha....'


Kinan tersenyum dengan mata berbinar sebuah harapan tampaknya akan segera terkabul selipan itu menampakan kertas berwarna merah, besar harapan dibenak Kinan warna merah itu uang bernominal besar.


Kinan berangan-angan


Sebelum mengambilnya terlebih dahulu Kinan melontarkan doa dan harapan, Kinan bahkan sampai menutup matanya., Nominal besar pasti akan sangat mengejutkan dan membuatnya senang bukan kepalang.


Dengan mata setengah mengintip, pelan pelan Kinan membuka kertas merah yang terselip itu, harapannya masih pada nominal yang banyak, tapi.... Saat Kinan membuka dan memperjelas penglihatannya kertas itu ternyata bernominal kecil hanya pecahan RP10.000 saja, Kinan menghela, ada sedikit kecewa didadanya, andai saja waktu itu dia menyelipkan lebih banyak lagi atau setidaknya nominalnya besar mungkin saat sulit seperti sekarang dia masih ada sedikit pegangan.


Ditengah itu Kinan ingat masih memiliki sesuatu.


"ATM," katanya penuh semangat, seingatnya dari beberapa hari yang lalu harusnya Kinan sudah menerima gajinya.


Segera dicarinya kartu yang berwarna orange itu tapi sayang Kinan lupa menyimpannya dimana Kinan lalu mencoba mengingat-ingatnya dengan baik ternyata setelah diperjelas kartu ATMnya itu masih ada pada Mina.


Terpaksa deh harus kesana..


Kinan sempat ragu.


Tapi nggak apa-apalah sambil ngucapin selamat ulang tahun sama Mama.


Uang sepuluh ribu itu akhirnya Kinan putuskan digunakan untuk membayar ongkos angkot menuju kediaman Mina.


Sekitar 20 menit kemudian, Kinan telah sampai didepan rumah Mina.


Dipekarangan Kinan sempat tertegun menatap rumah itu penuh kerinduan.


Masih dalam tatapan yang beredar Kinan dikejutkan oleh suara yang mendengung, "Hei anak tidak tau diri! mau apa datang ke sini?" Kinan disambut dengan teriakan tidak sedap dari mulut Mina, tapi biar begitu Kinan tetap menyapa dengan sopan.


"Mamah" Kinan berjalan kehadapan Mina, mengulur kan tangannya dan menyapa dengan hangat "Apa kabar?" Kata Kinan tapi dibalas dengan perlakuan kurang menyenangkan dari Mina, Mina lebih memilih bersedekap dada dibanding harus menerima uluran tangan Kinan.


"Baik buruknya kabarku, tidak penting untuk kamu ketahui, bukankah kamu lebih senang aku sengsara!" ketusnya. Kinan meremas jemarinya dengan hampa.


" Berani juga datang kerumah ini? Apa kau sudah tidak memiliki rasa malau? Atau diluar sana hidupmu sangat susah sehingga memutuskan datang untuk memohon iba ku? Maaf aku tak akan tersentuh oleh semu wajah mu Kinan"


"Mah"


"Jangan panggil aku dengan kalimat itu! apa perlu aku beri tau seberapa muaknya aku pada kalimat itu karena keluar dari mulutmu?" Pekik Mina. Kinan tertegun sesaat saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Mina, sebuah pisau tajam sedang mengiris hatinya dengan pelan,. "Sebulan ini aku merasakan hidup yang sangat damai dan tentram karena tidak melihat wajahmu yang menjijikan, tapi kenapa hari ini kau datang dan merusak suasana hatiku?"


Kinan terdiam menahan air matanya agar tidak jatuh dan terlihat lemah didepan Mina walau setiap kalimat yang keluar dari bibir Mina seperti bilahan pedang yang dihunuskan tepat pada hatinya.


Kinan terus berfikir bagai mana mungkin seorang ibu bisa melupakan anak yang hidup bersamanya selama hampir 23 tiga tahun dengan mudah.


"Selamat ulang tahun Mah" itulah kalimat yang pertama Kinan ucapkan dengan tegar untuk membalas pahitnya perkataan Mina.


"Kalau kalimat itu harus keluar dari bibirmu lagi aku berharap dunia menghapus hari lahir ku saat itu juga" kata Mina sambil memalingkan sisi wajahnya dengan angkuh.


Kinan menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan kasar, batinnya bergejolak tapi terus mencoba tenang dan tegar menerima semua perkataan Mina yang sangat menyakitkan.


"Katakan apa yang kamu inginkan dan segeralah pergi! kau disini aku jadi muak dan susah bernafas" kata Mina tanpa menoleh kepada Kinan.


Kinan mengatur nafasnya agar tidak gemetar "Kinan cuma mau minta ATM Kinan Mah" kata Kinan. Mina sontak melayangkan tatapan yang menakutkan, Mina melotot dengan mata yang hampir terjulur keluar.


"Kau!" Mina menunjuk Kinan dengan kasar, "Kau benar benar tak punya rasa malu? aku membesarkan mu berpuluh puluh tahun.


Tidak disangka aku membesarkan manusia tidak tau diri, harusnya sejak awal aku memutuskan hubungan terkutuk ini!" teriak Mina.


"Mama bilang kita sudah saling memutuskan hubungan selama sebulan ini, Kinan tidak ingin ada yang tertinggal untuk itu Kinan minta kembali ATM Kinan, Kinan takut nantinya Mama tidak bisa lepas dari Kinan karena terikat uang yang setiap bulan Mama ambil dari hasil kerja keras Kinan"


Sebelum Kinan menyelesaikan ucapannya Mina lantas pergi tergesa dan penuh emosi melempar tongkat sapu yang dipegangnya tepat diujung jari kaki Kinan, Kinan hanya bisa mendesah lelah menghadapi sikap Mina.


"Tuh pungut!" Mina melemparnya kedepan Kinan, "Kau kira bisa berbangga dihadapanku dengan gaji mu yang hanya lima ribu perak itu?" Teriak Mina.


Kinan berjongkok dengan hati yang terasa hancur air matanya hampir jatuh saat akan mengambil kartu yang dilempar dengan tidak hormat oleh ibunya.


Kinan menarik nafasnya dengan perlahan menekan hatinya yang terus ingin menangis dan berteriak.


"Terima kasih Mah, karena Mama bersedia mengembalikan harta Kinan, lima ribu yang Mama maksud bagi Kinan sangat besar dan berharga Mah"


"Cih" Mina melengos dengan angkuh meninggalkan Kinan yang masih terpaku menatapnya sendu.


"Mah apa Kinan benar benar tidak berharga untuk Mama?"


Mina sempat berhenti.


"Siapa kau? Sehingga merasa berhak bertanya seperti itu?" Tanya Mina, menoleh dengan sudut matanya yang selalu merendahkan Kinan.


"Aku Kinan anak mu Mah"


"Anak? Kau bukan anak ku Kinan..." Mina sempat diam sejenak seperti menyesali sesuatu gang baru keluar dari mulutnya, hendak mengungkap sesuatu tapi enggan "Sejak sebulan yang lalu," Mina mengalihkan ucapan "Cepat pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku!" Mina lalu pergi tanpa menoleh atau mendengarkan Kinan.


Kinan lalu berteriak.


"Tapi hubungan ibu dan Anak tidak bisa putus begitu saja, Ma Ma" teriak Kinan.


"Ma, tunggu Ma!" Teriak Kinan. Mina yang hampir melangkah masuk berhenti sejenak.


"Ma kenapa Mama lebih bisa menerima Amira, sedang aku Mama buang" tanya Kinan dalam tangisnya yang pecah.


Mina menoleh sekilas, "Karena dia lebih berguna.


Dari pada kamu Amira lebih tau diri dan tau terima kasih" katanya sebelum benar benar masuk kedalam rumah, membanting pintu.


Sementara Kinan mematung remuk reda pecah menangis menahan semua yang tak adil dalam hidupnya.