Oh My Boss.

Oh My Boss.
72



Pelukan itu tertaut cukup lama.


Aim melepaskan semua beban dan semua rasa sakitnya kepada Kinan, semua rasa frustasi dan semua luka yang membekas dihatinya.


Aku siap memulai semuanya. Aku akan memulai semuanya. Aku akan memulai hidup dengan orang yang aku cintai dan mempertahankan orang yang pantas aku pertahankan.


Melepaskan pelukannya, kemudian menatap mata Kinan dengan lekat.


"Nan, maukah hidup denganku?"


Kinan sontak melongo ketika mendengar ucapan polos Bosnya.


Tidak percaya itulah yang terjadi sekarang.


"Kita rawat bayi ini bersama"


Aim mengelus perut Kinan yang masih rata.


Tapi Kinan masih termenggu, tak percaya dengan yang diucapkan Bosnya, seperti guyon.


Lalu Aim meraih kepala Kinan, mengecupnya dengan lembut.


"Maaf, karena telah membuatmu menunggu lama"


(Dalam arti lain).


Namun Kinan fikir ungkapan itu karena Aim telah membuatnya menunggu sehari semalam.


Bingung apa yang harus Kinan lakukan akhirnya dia hanya berkata.


"Apa Bos lapar?" itulah pertanyaan yang keluar dari bibirnya yang gugup.


Perasaannya sedang berkecamuk, Kinan pun tak mengerti kenapa Aim tiba tiba mengatakan itu dan memeluk dirinya, mengecup keningnya dengan lembut, menyalurkan aura perasaan yang tidak cukup andal untuk dimengerti.


Aim terkekeh.


"Aku tidak lapar. Tapi kalau mau kamu temani sekarang pun aku bisa jadi lapar"


Kinan tersenyum kecil.


Tapi sungguh bukan senyum senang atau semacamnya, hanya senyum tak mengerti dengan perubahan sikap Aim yang tiba tiba.


"Aku lapar. Tapi kalau Bos tidak lapar, aku akan makan sendiri"


Kinan masih kebingungan.


"Baiklah, aku juga lapar yuk"


Meraih tangan Kinan lalu membimbingnya ke ruang makan.


"Mulai sekarang kamu pantang memanggilku Bos, panggil aku Aim." Pintanya disela melangkah.


Sepanjang Aim menggenggam jemarinya, sepanjang itu pula Kinan tidak bisa henti berfikir, dan heran.


Genggam erat pelukan hangat kecupan lembut, apakah ini artinya.


Tidak mungkin ini ungkapan perlakuan dari Bos untuk karyawannya.


Terlalu manis.


Tak lupa Aim menarik kursi untuk Kinan duduk.


"Duduklah disini" ucapnya penuh semangat.


Kinan tidak bisa menolak permintaan Aim.


"Ini semua kamu yang masak, Nan?" tanya Aim tampak antusias.


Kinan hanya mengangguk canggung.


"Semoga Bos menyukainya" ungkapnya hati hati.


"Ini tampak enak" Aim menyendok beberapa menu dan memindahkannya pada piring.


Mencicipinya,.


"Mm ini sangat luar biasa" puji Aim.


"Ternyata kamu jago masak ya, Nan" imbuhnya.


"Cuma masakan sederhana, makanan seperti ini tidak akan laku dijual" -Kinan.


"Aku ingin menikmati masakan mu setiap hari. Apa kamu bersedia membuatkannya?"


Kinan yang sedang asik menyantap makanannya mendongak sesaat.


"I ia, Saya bersedia. Nanti setiap hari saya akan membuatkan makanan, saya akan menyerahkannya di Kantor" -Kinan.


"Jadi maksud kamu, kamu buatkan makanan makan untuk saya diluar?" -Aim.


Kinan mengangguk.


"Tapi bukan itu maksud saya Nan, kamu harus tinggal disini dan memasak setiap hari untukku"


"Kamu kenapa Nan?"


Segera menyodorkan Air untuk Kinan.


Kinan menerima lalu meminumnya.


Bisa saja Kinan menyiapkan makanan untuk Aim, tetapi untuk tinggal rasanya sangat tidak mungkin.


Sebagai karyawan rasanya sangat lancang, terlebih Aim adalah lelaki beristri.


"Tidak apa apa Bos. Oh ia Bos, terimakasih untuk tumpangannya beberapa hari ini. Situasinya mungkin sudah membaik, besok saya akan pulang, maaf karena telah banyak merepotkan"


Kinan membuat topik pembicaraan sendiri, pura pura tidak mendengar apa yang Aim katakan barusan.


mendengar itu Aim memelankan kunyahannya sambil mencerna apa yang Kinan inginkan.


Dalam batin Aim merasa kesal karena Kinan tidak menurutinya.


"Terserah kamu saja Nan" ucap Aim dingin.


Tanpa basa basi membawa piringnya ke wastafel.


Kinan sempat dibuat heran atas perubahan sikap Aim barusan.


Oh, kenapa anginnya tiba tiba dingin ya? tadi rasanya masih baik baik saja?.


"Kalau kamu mau pulang, pulang saja Nan, maaf aku tidak bisa mengantar kamu, aku banyak urusan mendesak besok pagi" Aim yang melewatinya sejenak berhenti dan berbicara kepada Kinan.


Kinan pun mengangguk antusias.


"Bos"


Kinan memanggil, tetapi Aim tidak mendengar dan tidak peduli.


Pagi harinya Kinan telah bersiap pergi, tetapi sempat tertahan karena Aim tidak muncul keluar dari kamarnya. Kinan hanya ingin berpamitan.


Setelah menunggu lama, Kinan memutuskan untuk turun tanpa menunggu Aim lagi.


Diam diam sepanjang perjalanan Aim mengikuti Kinan, memastikan dia aman sampai ke tujuan.


....


"Ayah, ada sebuah projek besar di Belitung, Aim ingin ayah bantu melihatnya dan bantu tentukan apa Aim boleh mengambilnya atau tidak" Aim mendatangi Arman dikantornya.


"Projek apa ini Im, kenapa tidak kamu tinjau sendiri? dengan begitu kamu akan tau celah kelemahan projek ini dimana" -Arman.


"Sudah ada keputusan yang Aim ambil, tetapi Aim khawatir keputusan Aim tidak akurat, untuk itu Aim ingin Ayah bantu melihat lagi" -Aim.


"Baiklah, kapan ayah harus pergi?" Arman merapihkan kertas-kertas laporan perusahaan.


"Secepatnya Ayah, Aim tidak ingin terus mengundur waktu"


"Baik, besok Ayah akan pergi. Kalau projek ini berhasil kamu harus menyiapkan hadiah besar untuk Ayah" -Ucap Arman dengan senyum penuh semangat.


"Tentu Ayah. Oh, ia. Aim sudah memesan satu kamar untuk Ayah, Ayah tidak perlu khawatir Aim sudah membayar semuanya" -Aim.


Arman mengernyit, "Kau sebaik ini apa ada tujuan tersendiri?. Kenapa Ayah rasa ada yang sedang kamu sembunyikan?"


Aim menggeleng sambil tersenyum, "Benar, tujuan Aim adalah memenangkan projek besar ini" -Aim.


"Ohh, maaf ayah terlalu serius dengan kamu,"


"Tidak apa apa"


Arman lalu mempersilahkan Aim masuk keruang rapat, begitu juga dirinya.


Kantor LK sekarang sedang sibuk sibuknya, mempersiapkan projek besar yang sejak beberapa hari ini mulai dilakukan, tak ada kabin yang lengganh hari ini, semuanya disibuk dengan tugas tugas yang menumpuk.


Begitu pula dengan Amor dan Kinan, keduanya sibuk merapihkan file file yang nantinya akan di storkan kepada Manag tanpa kesalahan.


"Aku pusing banget hari ini" Amor mendesah kebingungan, juga lelah.


Tak ada waktu sedetik pun untuk dirinya istirahat.


"Tidak apa apa Mor" ucap Kinan tanpa berbalik dari kertas yang ditelitinya, selepas itu ia rekap kedalam komputer, "Harusnya kita bersyukur, bisa bekerja di perusahaan ini. Masih ingat tidak saat kamu bersaing dan berdesak desakan dengan ribuan pelamar? Kamu loh yang paling semangat ngajuin VC buat perusahaan ini. Sekarang, nggak mungkinkan ngeluh hanya karena kerjaannya susah atau apalah gitu, yang penting kan hasilnya manis" Kinan tersenyum penuh semangat, merapihkan kertas yang dipegangnya lalu berdiri hendak ke suatu tempat.


"Ia ia, kalau debat soal kerjaan emang nggak akan pernak kalah sama kamu Nan"


mata Amor lingkup saking lelahnya.


"Eh Nan," Amor menahan Kinan yang hampir keluar dari kubikelnya.


Kinan sempat berhenti sejenak.


Menoleh kearah yang Amor tunjuk.


"Dia mau ngapain lagi?" -Amor.


Diujung pintu Kinan melihat kedatangan Amira, melihat dari wajahnya ia tampak sedang marah besar.