
"Kau manusia buruk rupa, tapi banyak sekali tingkah mu!" Dirga tiba tiba ,menghadang Aim yang hampir bergegas membawa Kinan pergi dari tempat tersebut.
Aim berhenti, begitu juga dengan Kinan.
"Dir apalagi yang kamu mau?" tanya Kinan ketika jalannya di halangi.
"Aku hanya ingin melihat rupa suami mu," sambil merampas masker yang di pakai Aim, merambahnya hingga terlepas, "Dia sangat besar kepala!"
Weekkk..
Tampa etika Dirga membuat robek maker yang di pakai Aim.
Saat melihat wajah Aim, Dirga melongo hebat, begitu juga dengan Hanna. Bahkan Hanna sampai tidak percaya dengan wajah yang saat ini dilihatnya, begitu tampan sempurna. Hanna terkagum di buatnya.
"Mas"
Kinan sempat terkejut dengan sikap yang dilakukan Dirga, Kinan khawatir Aim akan tersinggung dengan perilaku Dirga.
Aim sejenak terdiam kaku menahan emosinya, setelah emosinya mereda Aim menoleh dengan tatapan dan senyum sinis.
"Bagai mana? apa sekarang kau sudah mengenaliku?" Ucap Aim dingin sorot matanya menatap tajam kepada Dirga.
Dirga masih melongo, "Bagai mana bisa?" Menatap Aim dan Kinan secara bergantian, Dirga tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, "Apa dia benar suami mu Nan?" Tanya Dirga hampir tidak bisa percaya.
Saat melihat wajah Aim, Dirga spontan menyadari kesalahannya, Dirga telah salah menyinggung orang.
Kinan mengangguk pelan, "Ya"
"Kenapa, kau tidak percaya aku suaminya?" Aim balik bertanya.
"Tidak mungkin"
"Kau terlalu menganggap Kinan rendah, setelah putus dengan mu kau fikir Kinan tidak akan bisa mendapatkan laki laki yang lebih baik?." Aim menggeleng lucu, "Terima kasih atas penghianatan kalian. Karena kalian Kinan akhirnya bisa bertemu dengan ku, kalian berdua patut aku hadiahi tepuk tangan yang meriah" Aim muai bertepuk tangan.
"Kau!" Dirga terlanjur kalap dan kalah tanding, melakuan segala hal untuk menutupi diri dan kesalahannya, "Apa kau tau kalau istri mu ini sedang hamil?" Dirga fikir hanya dirinya sendiri yang tau akan kabar kehamilan tersebut, bahkan Dirga berfikir Kinan sengaja menutupinya dari Aim seperti yang di sampaikan Amira kepadanya, Dirga berniat membongkar keburukan Kinan didepan Aim.
Tanpa berkata Aim menoleh tipis ke perut Kinan.
Melihat reaksi Aim, Dirga tertawa dalam hati, "hm aku tau, dia pasti merahasiakannya dari mu 'kan?" Sambung Hanna, "Dasar perempuan licik"
"Topengnya kini telah terbongkar, lebih baik kau tinggalkan saja istrimu!" Timpal Dirga.
Kinan berulangkali mengehla, mengatur nafasnya yang di penuhi dengan emosi, entah apa yang diinginkan suami istri ini, sehingga terus saja menjatuhkan dirinya dan Aim.
Aim tertawa kecil, "Tidak perlu menjadi hakim untuk kami berdua. Karena aku tidak membutuhkan itu"
"Tampaknya kau sangat bangga hingga terus membelanya, padahal perempuan ini tidak sebaik yang ia tunjukkan" -Hanna.
"Kalian berdua selamat ya!" menggenggam jemari Dirga, "Kalian berdua sangat cocok. Penghianat dengan pecundang"
Dirga menepis dengan kasar.
Dirga sungguh tidak mengira Kinan bisa mendapatkan yang lebih baik dari pada dirinya dari segi apapun.
"Oo ia. Mengenai penandatanganan kontrak, aku rasa lebih baik kau tidak usah datang, aku jijik melihat muka mu!"
Dirga tersentak, wajah congak itu seketika berubah membujuk.
"Tidak bisa, kontrak kerjanya harus tetap di selesaikan" kata Dira.
"Tidak! Aku menolak kerja sama dengan perusahaan mu!" Bantah Aim.
"Mas?" Hanna baru paham menatap Dirga penuh pertanyaan.
"Dia adalah pemilik perusahaan LK, kalau sampai kita tidak mendapat kontak kerja itu, perusahan kita akan kesulitan" jelas Dirga dengan nada khwatir.
Hanna menggeleng tidak percaya, "Tidak mungkin"
"Jika kau berani datang ke perusahaan ku, tunggu ku layangkan surat akui untuk perusahaan mu!" -Aim.
"Tidak, tidak!" tolak Dirga dengan wajah menghiba.
"Nan semua ini karena kau! lakukan sesuatu untuk Dirga!" perintah Hanna panik.
"Maaf Han, soal perusahaan aku tidak tau apa apa, aku tidak ingin mengacaukan suamiku" -Kinan.
"Kau tidak tau diri!" -Hanna.
"Kalau kalah tidak usah mencaci ya Han, aku peringatkan untuk kalian berdua! jangan terlalu bangga dengan apa yang kau punya, karena mungkin bagi mu itu terlihat besar tapi bagi orang lain sangat kecil dan tidak berarti apa apa. Tapi yang kau lakukan kepada istriku malam ini itu sangat keterlaluan! aku tidak akan memaafkan kalian! terutama kau Hanna!" tekan Aim.
"Apa lebihnya dia sehingga kau begitu membelanya, padahal dia hanya seorang yang tidak jelas asal usulnya," -Hanna.
"Dia istriku, tanpa aku perjelas pun kau pasti tau bukan?" -Aim.
"Tapi dia tak pernah pantas menjadi istri mu" -Hanna.
"Han, kita berdua telah hidup masing masing, apapun yang kamu inginkan aku telah memberikan semuanya untuk kamu, tapi sekrang kau sangat keterlaluan. Tidak bisakah kita hidup dengan tenang? aku tidak pernah berniat melakukan apapun kepada mu, setidaknya tolong hargai itu" -Kinan.
"Kau sangat munafik Nan" Hanna menggeleng.
"Dir! kau tau apa alasan aku menolak kerja sama?..Itu karena mulut istrimu sangat lancang dan menjijikan. Kau seharusnya mencuci mulut mu dengan Air suci sebanyak banyaknya!. o ia Dir apa kau masih menginginkan kontrak kerja sama dengan perusahaan ku?" tanya Aim, Dirga spontan menganggukeng ia'ka.
"Ceraikan istri mu, maka akan ku tandatangani kontrak kerja perusahaan kita".