
"Karena seharusnya ibu tidak melakukan banyak hal untuk membela anak yang jelas jelas telah bersalah kepada dua orang sekaligus." Aim berkata dengan duduk setengah membungkuk lalu Aim tertawa samar, miris.
"Jadi orang kaya sepertinya menyenangkan. Kenapa? ketika mereka bebas mengulangi kesalahan, dan saat terseret kasus lalu masuk penjara mereka bisa segera menyelesaikannya. karena uang akan menarik mereka keluar dalam hitungan detik.
Tapi apa mereka pernah memikirkan bagai mana perjuangan kami dalam menuntut keadilan? Dan memperjuangkan hak dilindungi hukum? Kami orang yang tidak punya banyak uang tidak juga ada yang melindungi hanya hukumlah satu satunya harapan kami. Lalu saat kami (orang tidak mampu) harus berurusan dengan orang kaya seperti ibu yang senantiasa membeli hukum apa kami harus gentar?. Apalah daya kami Bu? Apa kami harus menyerah?. Kekayaan tidak punya, dan keadilan juga tidak berpihak kepada kita, begitulah tidak adilnya hukum untuk kami. Untuk itu saya bermaksud tidak akan membebaskan Dirga kecuali...
500 juta yang saya minta sebenarnya masih kurang banyak jika dibandingakan dengan ketidak adilan yang tidak bisa hukum tegak kan karena sogokan yang ibu berikan, tapi saya rasa cukup mahal untuk membeli harga diri ibu."
Aim lalu berdiri siap pergi dari tempatnya duduk, "500 juta yang saya pinta ibu harus menyiapkanya besok pagi, tapi sebelum itu tolong tanyakan kepada Dirga, kejadian 'Lorong Mawar 23:05 dengan korban saudari Kinan dan pendampingnya yang bernama Aim Kraditaputra. Kalau ibu masih mempunyai hati, harusnya ibu tidak akan membebaskan Dirga dari kurungan, sebagai perempuan harusnya Ibu Dila lebih cenderung kepada Kinan dibanding membebaskan pengecut seperti Dirga. Aim menekan kalimat terakhir kemudian beranjak meninggalkan Dila.
Tapi sebelum itu Aim sempat kembali menoleh, "Dan saya mau, setelah kejadian ini keluarga kalian segera memutuskan hubungan dengan Kinan." Selepas itu Aim melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi.
Dila mendudukkan pantatnya dengan kasar, hidupnya saat ini benar benar sedang frustasi dihadapkan dengan berbagai problema menyangkut Dirga. Tak habis habis dan kini Dirga malah harus berakhir di ruang sel.
Dila tak bisa membendung air matanya.
Ditempat lain.
Amor dan Kinan sedang berjalan santai berdampingan sebelah tangan keduanya bantu mendorong troli.
"Eh Mor emang ia perusahaan memberikan bantuan finansial secara merata? Keseluruh karyawan?" Tanya Kinan tak percaya sepenuhnya.
Kinan tampak masih meragukan penjelasan Amor mengenai uang yang akan dibelanjakannya ini.
Amor mengangguk, "Ia begitulah, ini adalah bentuk perlindungan dan jaminan kesejahteraan karyawan perusahaan LK, lanjutan dari asuransi ketanakerjaan yang mereka buat setahun terakhir ini"
Kinan tak ingin berhenti bertanya tanya, karena merasa ada yang janggal.
"Apa ia ada perusahaan seperti itu? Apa tidak terlalu loyal Mor"
"Entahlah Nan lagi pula kenapa harus dipertanyakan sih? Emang kamu nggak senang ya dapat rezeki gede dan tidak disangka sangaka kayak gini?"
"Bukan begitu Mor, tapi kamu yakin ini bukan bantuan pribadi?"
"Pribadi?" Amora mengernyit tipis. "Emang di perusahaan LK kamu punya orang dekat yang bisa ngasih finansial kayak gini?" Selidik Amor, menatap Kinan penuh teliti, "Kalau ada, siapa dia?"
"Nggak, bukan gitu Mor. Cuma ya aneh aja, sebelumnya nggak pernah dengar perusahaan seroyal ini sama karywan" -Kinan.
"Tapi kamu ada benernya juga sih Nan, apa jangan jangan" Amor menatap penuh terka mungkin memang ada tangan kanan yang berpihak kepada Kinan di perusahaan. Tiba tiba Amora teringat pada sesuatu yang sempat ia lihat dikamar kost Kinan tadi.
"Oh ia Nan, tadi aku tadi nemu baju dikamar kamu" Amor berfikir orang berbaju warna navy itulah orang yang telah mengirimnya finansial sebesar itu.
Amor tidak bisa menebak suara penelpon tadi, tidak juga diperbolehkan bertanya olehnya selain itu dia juga melarang Amor untuk memberi tahu Kinan mengenai bantuannya ini.
"Baju yang mana?" Potong Kinan.
"Baju navy, yang kalo nggak salah aku kemarin lihat pak bos yang makainya," Amor terlihat berfikir meluruskan, "Ia Pak Bos Aim yang memakai warna itu'kan?" Amor menatap Kinan penuh tanya. Sontak Kinan terkejut, mana tau Amor melihat baju Aim dikamarnya.
"Ekh, kenapa matanya natap begitu? Apa yang kamu fikirkan? jangan aneh aneh deh," -Kinan.
"Ayolah Mor kamu fikir baju dengan warna itu cuma dia seorang yang punya?. Nggak'kan?" Kinan coba meyakinkan.
"Ia sih, tapi kenapa tadi pas aku liat baju itu aku langsung srek nya ke dia ya? Aku juga nyium aroma parfum dia loh Nan". -Amor.
"Terus kalau kamu nyium aroma parfum dia dikamar aku kenapa? Bukankah kemarin dia memang datang ke kamar kost ya, mungkin emang baunya dia, tapi bukan berarti dia nginep'kan?."
Ahhh habis sudah kalau sampai Amor tau Bosnya tadi malam nginep dikamar aku.
Kinan jadi meringis.
"Akh" Amor menggaruk tengkuk yang tak gatal, "Ia sih, kamu benar juga" Amor akhirnya berhenti memberinya tatapan penuh selidik. Kinan bisa bernafas lega.
"Emang kamu kenapa sih jadi penuh tanya gini?" -Kinan.
"Enggak sih Nan. Cuma, aku penasaran aja, tadi malam di grup ada yang posting photo mirip kamu lagi jalan sama cowok, yang warna bajunya sama persis dengan yang ada dikamar kamu. Kamu tau juga'kan bagai mna hebohnya grup tadi malam?" -Amor.
"Akh," Kinan langsung termenggu khawatir perjalanannya dengan Aim tadi malam mungkin telah diketahui banyak orang.
"Terus kamu gimana? Menurut kamu, itu siapa?"
"Nggak tau sih, orang orang juga nggak ada yang 100% yakin" kata Amora. Kinan tersenyum lega.
"Nggak yakin? Apa karena aku bawahan dan dia sebagai atasanaku?" Selok Kinan.
"Ia sepertinya begitu" lenguh Amor.
Kinan kembali tersenyum lega.
"Emang menurut aku gitu juga sih, nggak mungkin banget tau nggak? lagian mana ada Bos yang care sama bawahannya, apalagi bawahannya kayak aku" Kinan tersenyum miris.
"Yaudahlah Nan," Amora merangkul "Sebagai bawahan kita cuma bisa ngehalu karena nggak mungkin dapetin perhatian atasan apalagi dapat Bos ganteng kayak Bos Aim, hadeeehh mustahil deh Nan" Kinan ikut mengangguk.
..
Mereka berdua akhirnya sampai ditempat yang sebelumnya jadi tujuan mereka.
"Akh ia Nan, menurut kamu keluarga Amira itu se kaya apa?" tanya Amor penasaran.
Kinan menoleh, "Emang kenapa?" meraih satu makanan yang disukainya.
Amor masih memegang troli, "Sebagai seseorang yang pernah hidup seatap harusnya kamu tau'kan bagai mana kehidupan keluarga dia?" -Amor.
Kinan diam, hanya asyik memilih makanan kesukaannya.
"Dan sekarang tiba-tiba jadi pewaris tunggal 20% lebih saham perusahaan LK, apa nggak aneh Nan? atau sebelumnya kamu pernah dengar kabar ini?" -Amor.
"Nggak sih, nggak pernah denger juga ada keluarga dia yang nanam saham besar di Perusahaan ternama setara LK. Dan yang aku dengar dari Ayah, Amira telah ditinggal ayahnya pas masih kecil katanya karena kurang berkemampuan dalam hal ekonomi dan sampai sekarang pas dia udah sedewasa ini nggak pernah tuh denger ayahnya muncul lagi apalagi sampai ngasih saham segede itu. Menurut kamu apa mungkin Amira mendapat warisan itu secara tiba-tiba?" Kinan kembali menoleh melihat reaksi apa Amor menyetujui pendapatnya.