Oh My Boss.

Oh My Boss.
114



Guna..


Berkerut dahi dengan waktu yang cukup panjang, dia sebelumnya telah menerima telpon namun entah siapa penelpon yang tiba tiba membuat wajahnya tegang seperti ini.


Aim telah memperhatikan Guna sejak ia menerima panggilan, namun Aim tidak berani memotong percakapan Guna dengan sang penelpon.


Setelah panggilan berakhir.


"Ada apa Gun? Apa ada masalah? Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Aim berturut turut. Ini adalah pertanyaan yang ingin ia ungkapkan sejak tadi.


Guna menoleh dengan wajah yang kurang bersahabat.


"Tante Rani, .... Penjelasan Guna mengambang...


Ternyata yang menelpon itu Rania, dia memurka'i Aim lewat Guna, dia menuntut penjelasan mengenai perempuan yang ia lihat memakai Magoy Amba.


Rupanya Rania telah tidak sengaja berpapasan dengan Kinan dan Magoy Amba yang dipakainya.


"Siapa perempuan itu!?" Pekik Rania dalam panggilan, "Apa dia (Aim) mencoba memamerkan perempuan lain di hadapanku?. Dia ingin menentang ku?" Tariaknya memburu.


Rania tau betul dimana posisi perempuan yang memakai Magoy Amba di hati Aim dan siapa dia dalam hidup Aim.


Rania langsung yankin dan pasti dialah gadis yang selama Aim cari.


Kisah dua tahun lalu yang sempat padam itu, Rania tidak pernah mengira akan membara kembali di hati Aim.


Tetapi kini telah muncul gadis dengan dress Magoy Amba, dalam arti lain muncullah gadis yang telah mengambil hati Aim dan pernah membuatnya menolak untuk menikah dengan Shina.


Penolakan tersebut menjadi bukti siapa perempuan ini bagi Aim.


Rania murka.


Menelpon dengan suara yang tidak bersahabat.


Aim hanya diam tak perduli, saat Guna menceritakan kemarahan Rania terhadapnya.


"Im, apa loe yakin Magoy Amba tidak akan menjadi masalah untuk Kinan?" Tanya Guna khawatir. Saat melihat reaksi Rania, Guna mulai memikirkan bagai mana saat orang lain akan menanggapi Magoy Amba, "Apa kita tidak terlalu dini memberikan itu kepada Kinan? Melihat reaksi tante Rani gue jadi ngerasa bersalah, bagai mana jika Kinan mendapat masalah?. Loe tau sendiri 'kan bagai mana reaksi publik terhadap kehidupan loe?"


Aim terlihat berpikir sejenak, "Gue tau, cuma. Gue ngelakuin ini karena Ayah mencoba menentang pernikahan Gue, dia meminta agar gue segera menceraikan Kinan, dia memberikan waktu 3 hari. Dia juga meminta agar Kinan di sembunyikan dengan rapi, tanpa seorang pun tau. Kinan adalah istri gue, gue mencintai dia, dia perempuan pertama yang ingin gue miliki bahkan sebelum gue menikahi Shina. Sampai disini gue mulai nggak peduli dengan orang lain, selama Kinan mau bersama Gue, gue bersedia menemani dia selamanya walau mungkin dunia akan menentang hubungan ini. Magoy Amba adalah cara gue memperkenalkan dia kepada dunia, gue ingin membuktikan bahwa dialah perempuan tepat yang gue inginkan, tanpa bisa ditentang siapapun"


Guna mencerna sesaat, "Gue, paham maksud loe. Tapi bagai mana dengan Kinan,? apa dia sanggup hidup dengan seorang lelaki yang sekecil apapun pergerak kannya akan mengundang polemik? Apa dia akan tahan?"


"Dia harus bisa, dan gue yakin kita bisa nglewati ini"


Guna menepuk pundak Aim, yang terduduk disampingnya, duduk untuk menunggu rapat klien dimulai, "Semoga Kinan bisa sekuat karang ya Im, karena dia sedang memasuki badai"


Aim menoleh tipis, memikirkan perkataan Guna. Tanpa ia sadari ternyata itulah yang Kinan hadapi saat ini.


Selain grup chat, berita Magoy Amba kini merambah ke dunia media sosial. Kemunculan Magoy Amba mencuri perhatian, tak sedikit dari mereka yang diam diam memotret kemudian menunggahnya di laman sosial, hingga memunculkan komentar panjang didalam unggahan tersebut.


Ramainya pengunggah Magoy Amba, dari satu pengunggah ke pengunggah lain, hingga akhirnya sampai lah ke laman media sosial milik Shina.


Shina terbelalak hebat saat pertama kali melihat gambar di laman medianya.


Awalnya Shina hendak tidak peduli dengan unggahan tersebut, namun saat seorang teman disamping mulai menanggapi Magoy Amba Shina tersulut juga akhirnya.


Teman di samping mengomentari.


"Eh Shin lihat deh!" menunjukkan gambar Kinan yang lewat di laman medianya.


Shina yang awalnya tidak perduli, terpaksa melihat apa yang di tunjukkan sang teman, sambil menahan perasaan yang terasa pegal.


"Bukannya ini dress rancangan suami loe ya? Gue kira dress ini cuma pajangan aja, tapi kenapa sekarang seorang gadis bisa memakainya? Apa dia membelinya dengan harga tinggi? Atau dia orang yang cukup dekat dengan keluarga wakil pimpinan (Aim)?" Selidiknya.


Namun Shina hanya diam tanpa jawaban, melihat dress tersebut dengan datar seolah tidak ada masalah perasaan terhadap Magoy Amba ini. Walau sebenarnya perasaan Shina sangat tersakiti, pasalnya munculnya Magoy Amba menjadi bukti posisinya telah di geser perempuan lain.


Shina tidak setuju dengan pernyataan kalau Magoy Amba ini di perjual belikan pasalnya dress ini sangat penting bagi Aim.


"Padahal awalnya aku mengira Magoy Amba ini bakal loe yang make Shin" timpal teman lainnya.


Shina hendak tidak peduli namun kenyataannya perkataan itu menyinggungnya.


Shina berusaha mengalihkan perhatian, meminum minuman yang telah ia pesan sebelumnya untuk menekan perasaan sakit yang mulai menjalar di dada.


"Siapa perempuan itu?" Tanya Shina dalam batin, "Kenapa dia bisa memiliki Magoy Amba?" Meneguk jus yang saat ini ditelan seperti kerikil.


"Ya kali gue pake pakaian seperti itu, lagi pula gue udah terbiasa menggunakan pakaian mahal. Baju baju yang gue punya ada kok yang harganya melebihi itu" cebik Shina, mencoba menunjukkan wajah tidak peduli.


"Ia sih, tapi Magoy Amba ini bukankah suami loe yang ngerancang ya?" Tanya salah satu teman Shina.


"Ia. Tapi apa perlu aku perduli dengan siapa yang memakainya," berkata dengan datar.


"Tapi ia juga sih" timpal teman yang lainnya.


"Percakapan kita membosankan tau, bagai mana kalau kita bahas produk parfum terbaru merek perusahaan A?" Shina mengalihkan perhatian. Yang lain pun merasakan hal yang sama (Membosankan), tetapi bukan percakapan mereka yang membosankan tetapi mereka menangkap wajah Shina tidak nyaman dengan pembahasan tersebut.


Mereka berdua sama sama melihat raut kurang bersahabat yang di tunjukkan Shina saat membahas Magoy Amba.


Mereka bertiga akhirnya setuju untuk membahas parfum terbaru yang akan rilis bulan ini.


"Pah!" pekik Rania, ia baru sampai di pintu ruang Arman tetapi suaranya telah lebih dulu sampai kehadapan Arman.


Arman menoleh dan seketika mendapati kemarahan di wajah Rania. Arman menatapnya penuh tanya.