Oh My Boss.

Oh My Boss.
53



"Hhuuuhh, susah payah sekali aku mendapatkannya Mor" Kinan mendesah ketir. Saat tiba teringat kata kata ibunya ketika meminta kembali haknya. Kinan tidak pernah menduga Mina akan meluahkan kata yang tidak pernah ingin ia dengar seumur hidupnya, mengenai pemutusan keluarga.


"Jadi malam ini kamu yang traktir?" Mata Amor berbinar senang.


"Yess!" Kinan mengangguk sambil tersenyum penuh keyakinan. Amor bersorak.


Kinan lalu menyelempang tas kecil "Yuk" ajak Kinan, mulai beranjak diikuti Amor yang tergesa mengimbangi langkah temannya itu.


"Nih" Selepas mengembalikan ATM Amor menggandeng tangan Kinan dan berjalan beriringan, menghentikan taxi lalu melesat menuju resto yang telah jadi langganan mereka berdua.


Didalam Taxi.


Tring, handphone Amor berbunyi. Suara notif pesan masuk, dengan tangkas Amora membuka dan melihatnya.


Ekspresi Amor terkejut hebat "Whaaaaatttt?" Amor berteriak tapi terlihat bahagia saat pertama melihat pesan, tapi belum sepenuhnya percaya.


Kinan yang dikejutkan oleh teriakan Amor reflek memukul teman duduk yang kelihatannya sedang kesenengan tersebut, "Apaan sih kaget tau nggak," pekik Kinan.


Amor tak menjawab dia masih tak percaya pada sesuatu yang di kirimkan padanya, Amor terus menatap layar tersebut untuk meyakinkan dirinya bahwa kabar itu benar.


"Apaan sih? Kelihatannya bahagia banget" selidik Kinan tapi Amor seperti tak mengindahkan


Amor asik menggigit kukunya menahan gugup lalu sekilas menunjukan layar handphonnya pada Kinan, belum sempat Kinan melihat Amor segera mengembalikan handphonenya.


"Saldomu tiba-tiba membengkak?" Cebik Kinan ia merasa kesal karena Amor tidak serius membagi kebahagiaan itu dengannya.


"Kau tau Kinan," Kinan menggedik tak perduli karena terlanjur kesal.


"Ini lebih bahagia dari sekedar saldo yang tiba-tiba membengkak, ini anugerah Nan, kau pernah dengar aku cerita soal kakak ku yang sudah 10tahun menikah tapi belum mendapat keturunan?"


Kinan menanggapinya datar.


"Ya," pelan-pelan Kinan menoleh kepada Amor.


"Lihatlah!" Amor menunjukan photo dihandphonennya "Istri kak Reno, dia akhirnya hamil" teriak Amor kesenengan.


"Apa?" Kinan meraih handphone yang dipegang Amor, dia ikut terkejut dan saat tau ikut bahagia atas kehadiran calon buah hati dirahim Kakak ipar Amor, wajah kesal yang sempat ditunjukan segera hilang.


Kinan tau seberapa lama dan sabarnya Reno (Kakak Amora) dalam menantikan seorang Anak, Kinan sungguh merasa tersentuh atas kabar itu.


"Pantas saja saat berkunjung kemarin dia tampak berbeda, dia juga menolak makan, katanya bau, dia juga muntah-muntah tak karuan," celoteh Amor saat sekilas menceritakan Kakak iparnya didepan Kinan, Kinan sendiri tampak merenung sesaat. Ada sedikit persamaan yang terjadi antara dirinya dan Istri Reno, itu sebabnya Kinan tampak berfikir. Kinan sangat khawatir, tapi segera membuang prasangkanya agar tidak jadi beban fikiran.


Kinan menepis pemikiran yang mengatakan kalau dirinya mungkin hamil juga.


Tak beberapa lama kemudian, taxi melambat lalu berhenti, "Udah biar aku yang bayar," Amora menahan Kinan, lalu meng asongkan beberapa lembar uang kepada sopir taxi menghentikan Kinan yang juga hendak membuka tasnya untuk mengambil rupiah sebagai alat pembayaran.


"Ookk kalau gitu, nanti pilih saja menu makanan yang kamu sukai aku bayar semuanya" Kinan menyelempang tas lalu keluar diikuti Amora yang segera mensejajarkan langkahnya dengan Kinan.


Kinan dan Amor sejenak berdiri menatap kedalam etalase yang penuh dengan varian hidangan, menu andalan resto kelas menengah tersebut.


Tiba tiba air liur Amor naik turun saat membayangkan kelejatan makanan yang sudah ia hafal semua rasanya, Amora merasa tak sabar lagi untuk segera menyantapnya.


"Hei, yuukk" Teriak Kinan yang hampir melewati batas pintu, karena terlalu asik Amor sampai tidak sadar sahabatnya itu sudah mendahuluinya, Amor mengedikkan kakinya karena kesal telah ditinggalkan, lalu segera berlari dan berteriak "Heii tunggu, kau curang!" -Amor. Kinan mencebikkan bibirnya sambil tersenyum licik.


Kinan dan Amor berlari saling mendahului untuk mendapat tempat kursi yang biasa mereka pakai, dua kursi yang berhadapan. Satu menghadap keluar dan satu menghadap kedalam. Tapi entahlah padahal kursi d tempat itu cukup banyak tapi Kinan dan Amor malah saling berebut, seakan sudah sangat akrab dengan kursi yang setiap kali datang akan mereka tempati.


Kinan mendapat kursi yang mereka incar, kursi yang menghadap ke pekarangan, tak jauh dari sana terbentang jalan raya dengan segala riuhan perjalanannya, yang bagi sebagian orang cukup membosankan, sementara bagi Kinan, aaakkh menatap itu cukup lah untuk mengusir bosan sembari menunggu pesanan datang.


"Ekh Nan" Kinan yang sedang bertopang dagu dan menatap keriuhan orang-orang didepannya segera beralih fokus kepada Amor yang baru saja memanggilnya.


"Tadi kamu bilang ibu kamu meminta putus hubungan?" Tanya Amora hati-hati takut menyinggung perasaan Kinan. Sebelum ini Kinan sempat mengatakan kalau Ibunya itu telah memutuskan hubungan dengannya.


"Oohh.. emang kapan aku cerita?" Tanya Kinan, lupa kalau dia sudah menceritakan itu kepada Amor.


"Ini" Amor menunjukan pesan singkat yang sebelumnya dikirim Kinan, Kinan merasa sudah menarik kembali pesan itu tapi ternyata dia lupa.


"Haha," Kinan tertawa sayu "Ia," dalam hati menahan gejolak sakit yang tak biaa diucapkan. Sejenak Kinan menunduk menahan airmata yang menerobos ingin keluar tapi sekuat tenaga Kinan berupaya tegar dan tenang.


Jika harus mengingat itu memang sungguh pilu, tapi apa boleh buat.


"Kamu tau'kan? Pernikahanku gagal Aku yang memutuskannya sendiri" Kinan menghela nafasnya dengan berat "tapi Ibu menentangnya, dia bersumpah kalau aku membatalkan pernikahan akan memutuskan hubungan denganku jadi ya begitulah, sekarang aku ngontrak dan hidup sendiri"


"Nan" Amor meraih tangan Kinan dan menggenggamnya "Aku disini kamu tidak sendiri, ayah dan ibu juga senang dengan kamu kami semua akan selalu ada untuk kamu Nan, kamu jangan khawatir ya"


Kinan menghela panjang dadanya sesak sekali..


"Terima kasih Mor," Amora mengangguk sepatah "Sekarang cuma kamu yang aku punya" Kinan membalas genggaman Amora.


"Di dunia ini kamu tidak sendiri Nan, percayalah! ada banyak orang di sekeliling kita yang akan menyayangi kita bahkan sebelum mengenal kita"


Kinan mengangguk, hatinya merasa tersentuh oleh kata-kata Amor hingga tanpa bisa dibendung setitik air mata menggenang dan hampir jatuh kepangkuan tapi Kinan selalu tak ingin terlihat lemah secepat mungkin dia menghapus air mata itu lalu tertawa untuk mengalihkan perasaanya... "Kenapa jadi melow begini sih? Bukankah niatnya kita mau senang senang?" Kata Kinan sambil tertawa kecil menyumbat airmata menyembunyikan kesedihannya.


Amora menghambur mememluk Kinan, "Kinan," panggil Amora lirih, Kinan langsung menangis sesenggukan dipelukan Amora menumpahkan segala isi hati yang ia bendung selama ini.


Selama ini Kinan tak punya banyak waktu untuk bergaul, itu sebabnya sebelum kenal Amor Kinan hanya memiliki satu teman yaitu Hanna, kehidupan Kinan sebelum ini berputar monoton antara Hanna dan keluarganya yang tersisa (Mina). Tapi sekarang teman yang sangat akrab dengan kehidupannya itu telah berkhianat dan satu satunya keluarga yang dia miliki juga memutuskan hubungan. Kinan benar benar dipompa untuk hidup mandiri tanpa siapapun.


"Apa aku bisa melewati ini Mor?" tanya Kian dipelukan Amor "Kadang aku merasa tidak sanggup hidup sendirian," ucap Kinan ditengah tangisnya.


"Kamu bisa Nan, aku yakin kamu bisa. Kamu perempuan terkuat yang aku kenal, kamu hebat Nan, kamu bisa melewati ini semua, aku yakin itu"