
"Lagian ngapain sih loe? Datang tanpa diundang," Aim mendelik "Persis kayak sakit gigi"
Surya menarik sinis sudut bibirnya sedikit menambahkan ekspresi kesal kearah Aim.
"Ngantar Dokter yang loe minta" katanya ketus, sepertinya Surya masih kesal pada ucapan Aim.
Aim menoleh sekilas kearah mobil Surya yang terparkir cukup jauh dari tempat mereka berdiri. Samar samar melihat bayangan putih bergerak gerak.
"Loe yakin itu psikiater? Putih putih. Loe bukan bawa hantu'kan?" Guyon Aim.
"Ya itu memang kuntilanak, gue nyamper dia disemak semak tadi..." Surya balas mendelik kesal.
Aim hanya terkikik kecil mendengar jawaban Surya.
"Sururuh datang kesini" perintah Aim. Surya menurutinya dengan malas, "Nyuruh aja bisanya" desis Surya kesal seraya beranjak menuju mobilnya.
"Dokter? Siapa lagi yang sakit?" Tanya Amora.
Kinan menggeleng tak tau sementara Aim hanya mengisyaratkan matanya menunjuk Kinan.
Kinan menunjuk dirinya "Aku?" Aim menganggukinya.
"Bukankah tadi aku sudah diperiksa Dokter Surya? dia bilang Aku baik baik saja, kenapa repot repot mendatangkan Dokter lain? Lagipula tak ada masalah denganku" kata Kinan.
'Ini semua pasti karena tendangan Amira, tapi kenapa harus berlebihan gini sih? ' Fikir Kinan.
"Hanya pemeriksaan kecil, kamu sebaiknya menurut saja!" Perintah Aim tak ingin dibantah.
"Ya baiklah" Kinan memutar bola matanya kesal. Tak ada bantahan.
"Pemeriksaan apa sih Nan?" Heran Amora.
"Entahlah?" Kinan menarik Amora untuk beranjak.
"Nan, ini kenapa sih? Kenapa banyak orang datang kesini? Bos Aim juga bawa Psikiater emang kamu sakit ya? Sakit apa? Apa parah?" Bahas Amora sambil melangkah maju kedalam kos kosan.
"Sudahlah Mor, jangan bertanya lagi aku juga gak bisa jawab, lelaki ini sangat aneh entah apa yang dia mau, sebaiknya aku turuti saja," Kinan berbisik "Anggap saja kita sedang bekerja, karena ini perintah atasan" Amora menganggukinya.
Kinan dan Amora terlebih dulu masuk kedalam rumahnya diikuti Aim Surya dan seorang Psikiater, Kinan mempersilahkan mereka masuk.
Aim sengaja mendatangkan psikiater untuk mengecek kondisi Kinan pasca pelecehan yang dilakukan Dirga. Khawatir akan mempengaruhi jiwa Kinan.
Pengecekan dilakukan selama satu jam lebih.
Setelah psikiater keluar dari ruang sepetak milik Kinan, Amora mengerhambur membubuhi Kinan dengan sejumlah pertanyaan
"Kamu kenapa sih Nan?" bernada khawatir "Kamu sakit?, Kamu sakit apa kenapa harus dicek oleh Psikiater segala? Kamu baik baik aja kan?"
Pertanyaan itu dilontarkan kembali, seperti sebelumnya Kinan juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu, pasalnya Kinan tidak tau sakitnya dimana.
"Seperti yang kamu lihat" Kinan memutar "Aku baik baik saja" kata Kinan akhirnya.
"Lalu pengecekkan tadi?"
Kinan mengangkat kedua belikatnya, memberi tanda tidak tau.
"Apa kamu yakin kamu baik baik saja?" Amora terus memastikan keragu-raguannya. Kinan mengangguk lagi. Dan kini Amora tidak lagi memberinya pertanyaan.
Setelah usai.
"Duduklah!" Aim mepersilahkan psikiater yang baru keluar dari selesai mengecek kondisi Kinan duduk dibangku yang tak jauh dari kos kosan Kinan.
Ruangan Kinan sangat kecil hampir tak mampu menampung lima orang yang duduk melingkar belum lagi barang barang milik Kinan, hal itu semakin mempersempit ruangan, oleh karena itu Aim dan yang lain memutuskan untuk menunggu diluar saja. Membiarkan Kinan diperiksa dengan tenang.
Aim yang penasaran akan kondisi psikologi Kinan segera membubuhi psikiater dengan berbagai pertanyaan
Setelah yakin tak akan ada lagi yang akan Aim ucapkan psikiater mulai bicara, "Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Kinan berjiwa tegar masalah tadi malam tidak menggucang jiwanya," Psikiater menepuk pundak Aim. "Tak da yang perlu ditakutkan, kondisinya seratus persen aman" kata Psikiater.
"Apa Dokter yakin?" Aim tampak masih ragu.
"Ya" jawabnya singkat.
"Apa analsisa yang Dokter lakukan sehingga bisa yakin Kinan baik baik saja?"
"Itu, Kita bisa melihat seberapa baik Kinan menjawab pertanyaan dan simulasi yang aku berikan, Kinan melewatinya dengan tenang dan santai," jelas sang psikiater kepada Aim. Aim mendesah lega.
Amora membuka gorden kos kosan, Kinan mengikuti Amora mengintip Aim yang sedang duduk bersama Psikiater.
"Nan,"
"Ya" sahut Kinan.
"Kamu ngerasa aneh nggak si?" Amora menoleh kearah Kinan yang tengah asik menyantap buah yang dibawakan Aiman.
"Apa yang aneh?"
"Pak Bos, apa kamu tidak merasa yang dia lakukan berlebihan?"
Kinan mengernyit beberapa detik kemudian beranjak mengikuti perilaku Amora (mengintip dari balik tirai)
Kinan memerhatinya penuh atensi dan gambaran.
"Terhadap Karyawan biasa apa tidak terlalu royal? dia bahkan mendatangkan Psikiater untukmu" Fikir Amora.
"Mungkin dia orangnya dermawan Mor, atau dia melakukan ini karena merasa bertanggung jawab atas keadaan bawahannya?" Kinan coba menerka.
"Tanggung jawab atasan itu hanya kecelakaan ditempat kerja atau kecelakaan diwaktu kerja, ini kecelakaanya'kan diluar jam kerja Nan? Mana ada orang yang mau bertanggung jawab atas kecelakaan karena urusan pribadi? Lagi pula kalau pun mau bertanggung jawab tinggal buatin kartu asuransi kesehatan kan selesai"
"Sudahlah Mor, anggap saja tuhan sedang berbaik kepadaku" potong Kinan.
"Ia sih tapi, rasanya aneh aja..."
"Sudahlah Mor! Nggak baik juga menaruh curiga diatas kebaikan orang lain" Kinan menutup tirai lalu kembali duduk dan mengecek handphonenya.
Kinan terlihat termenung sedih ketika menatapi layar tersebut.
"Nan.. ada yang loe pikirkan?" Amora melihat Kinan terdiam segera beranjak mendekatinya.
"Hari ini ulang taun namah Mor" keluh Kinan.
"Lalu apa yang membuatmu sedih?"
"Biasanya saat masih bersama aku akan membelikannya kue ulang taun lalu mengajak dia belanja, membeli semua barang yang dia inginkan sampai semua tabunganku terkuras habis" kata Kinan dengan mata berembun, tapi bibir tersenyum getir.
Satu kenangan yang tidak mudah untuk dilupakan, meskipun banyak mengalami hal pahit, diperlakukan tidak baik dan diperbudak, tetapi pada dasarnya Kinan masih merindukan mereka, sebuah keluarga yang kini memilih asing dari dirinya atau bahkan lebih dari sekedar orang asing, tapi keluarga yang tidak ingin lagi melihat Kinan didunia ini.
Amora mengusap pundak Kinan dengan halus, "Sudahlah Nan, mulai sekarang yang harus kamu fikirkan adalah diri kamu sendiri, kebahagiaan kamu, sudah saatnya kamu bebas menikmati hidupmu, jangan memikirkan orang lain lagi ya! jelas jelas mereka tidak akan memikirkan kamu Nan" Kinan menoleh lalu mengangguk kecil.
...
"Semuanya baik baik saja kan?" Timpal Surya ia baru datang kembali dari menunggu didalam mobil, menoleh lalu melayangkan tatapan kesalnya kearah Aim yang tidak pernah puas akan penjelasan hanya dari seorang Surya saja.
"Ya, semuanya baik baik saja" sahut Dr Psikologi.
Surya berkacak dada lalu memutar malas bola matanya.
Bos sekaligus sahabatnya itu memang selalu seperti itu selalu meragukan keilmuannya, tak pernah mempercayai dirinya secara penuh.