
"Ya cuma untuk jaga jaga apa salahnya'kan? Siapa tau kamu melenceng" Aim memberi alasan dengan ringannya.
"Melenceng? Kamu meragukan aku Im?" Surya memelototinya.
"Sedikit" jawabnya lagi.
Surya mendesah gondok "Im, besok kita berhenti kerja sama saja ok, aku mundur jadi Dokter pribadi kamu, kalau besok besok kamu sakit gigi, nyeri urat, nyeri lutut, nyeri bisul, jangan panggil aku panggil dukun beranak saja!" Surya angkat tangan lalu kembali berpangku tangan.
"Dukun beranak? kamu kira aku orang melahirkan, ok terserah kamu saja tapi ingat! jangan harap ada yang mau bayarin kamu taxi online, food online, kredit online booking online" Surya memelototi Aim tak terima tapi Aim tak peduli "S paylater L. paylater, kapan kapan kalau kamu nelpon pinjem duit, maaf aku angkat tangan"
"Kamu fikir lepas dari kamu aku bakalan kehilangan pekerjaan? selama masih ada orang sakit, aku masih bisa cari duit dan cari makan"
"Tidak kalau kamu masuk dijajaran orang BlackList perusahaan ku"
"Apa katamu Im?"
"Sudah sudah! jangan diteruskan lagi! Yang terpenting sekarang kita sudah tau kalau kondisi Kinan masih stabil, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi" Dokter psikologi menoleh kearah Aim lalu Surya.
"Lalu kenapa tadi malam dia sampai pingsan Dok?" heran Surya.
"Ada banyak hal, salah satunya mungkin karena shock berat atau kelelahan tapi syukurnya itu tidak berkepanjangan"
"Kamu perempuan kuat Nan" puji Aim dalam hatinya. Aim tersenyum kecil, bangga.
"Tuh dengar!" Surya kembali mendelik "Overthinking" Grutunya kesal.
"Perempuan itu sedang hamil apa kalian tau?" Dokter Psikologi. Menatap lagi Aim dan Surya secara bergantian.
Surya mengangguk patah.
"Ya" sahut Aim.
"Dia yang hamil tapi tetangganya yang heboh," sindir Surya dengan mata mendelik kearah Aim.
"Apaan sih loe?" Desis Aim hampir tak bisa didengar.
"Dimana suaminya?" Tanya Dokter Psikologi.
Aim dan Surya saling menatap.
"Dia Belum menikah" jawab Aim langsung.
"Hah?" Surya setengah berteriak, Surya melotot kearah Aim dia baru tau kalau ternyata pasiennya itu tidak memiliki suami
"Lalu siapa ayah anak itu?" Surya menatap Aim penuh selidik dan curiga.
"Ngapain?" Aim mendelik tak suka pada tatapan Surya yang seolah menuduhnya.
......
"Nan," Amora merebut buah yang tengah asik dilahap Kinan, "Kenapa gak merhatiin diri sendiri sih?" Amora tau riwayat maag Kinan kurang baik dia khawatir jika Kinan terus melahap buah itu dengan rakus akan berdampak pada kesehatannya.
Kinan mendesah kecewa "Tapi rasanya buah itu sangat enak Mor, lagi pula akhir akhir ini gue lagi malas makan nasi, justru merasa semangat saat melihat buah ini"
Amora menatap buah dihadapannya dengan sedikit terheran pasalnya buah dihadapannya itu tampak tidak ada rasa manisnya sedikitpun dan anehnya sebelumnya Kinan tidak pernah terlihat memakannya sekalipun.
"Oo ia Nan, obat kamu" Amora membuka bungkus plastik mengambil obat lalu membantu mengutipnya untuk Kinan. "Makan obat ini lalu makan! Berhenti mengunyah ini" Amora menaruh mangga yang ia rebut dari tangan Kinan. Mangga yang hampir belum matang. Amora tak paham mengapa Aim membawakan buah setengah mentah untuk Kinan.
"Terima kasih" kata Kinan dia menerimanya dengan senang hati lalu segera memakannya, tapi..
"Obat apa yang kau makan ini?"
"Itu hanya obat maag" sahut Amora, melitot terkejut dengan yang dilakukan Aim.
"Kinan tidak boleh mengonsumsi sembarangan obat," Aim lalu melemparnya kesembarang arah, Amora tampak mendengus kesal sekaligus tak paham akan tingkah Aim.
"Kinan memerlukan obat maag itu atau mualnya tidak akan hilang" desis Amora dengan boal mata memutar kesal.
"Apa kau bisa memastikan seberapa aman obat itu untuk Kinan,"
"Itu jelas jelas aman, sehari hari Kinan memakan itu" jelas Amira.
"Tidak, aku akan membelikan dia obat yang baru dengan resep yang aman" Mendengar perkataan Aim Amora semakin mengerat gonok.
"Kau tunggu saja sebentar, ingat jangan kasih Kinan obat sembarangan!" Pinta Aim tak ingin di bantah, ia lalu beranjak untuk membeli obat yang dia maksud itu.
Amora menatap kepergian Aim dengan perasaan heran, setelah merasa Aim sudah jauh dia mulai berkata, "Semakin aneh aja bos mu Nan" delik Amora yang hanya mendapat gelengan gemas dari Kinan.
...
Arman terduduk penuh fikir tak tau arah, permintaan perceraian Aim sedang mengganggunya, Arman duduk memikirkan alasan dan keputusan baik yang harus ia ambil. Harapannya, apapun yang terjadi Aim dan Shina harus terus bersama.
Beberapa hari ini Aim tidak datang kerumah membuat Arman sedikit khawatir. Khawatir apabila permintaan Aim kali ini memang sudah tekad yang bulat.
Arman mendesah bingung, sebenarnya dia belum bisa mempercayai sepenuhnya photo yang ditunjukan Aim, tapi hatinya juga tak bisa menyangkal sebaliknya Arman malah terus menerka alasan lain dan dorongan mengapa Aim meminta lagi perceraian.
Setelah sebelumnya dia sempat meminta itu, tapi waktu itu sudah terlewat cukup lama Arman bahkan berfikir masalah rumah tangga mereka sudah selesai dan mereka berdua sedang baik baik saja.
"Aku mengenali Shina dengan baik, tidak mungkin Shina melakukan itu, dia sama seperti ayahnya 'Terhormat' tidak mungkin melakukan hal rendahan seperti itu" fikir Arman. Dia terus yakin kalau Shina tidak terlibat dalam perselingkuhan.
Beberapa saat setelah kepergian Aim Amora pun pamit pulang, lagi lagi dia harus mendesah khawatir saat harus meninggalkan Kinan sendirian.
"Sudahlah Mor, percaya padaku aku tidak apa apa kok, berhentilah khawatir, kalau mau pulang cepatlah sebelum hujan turun" Amora dan Kinan sudah diluar dengan Amora yang duduk diatas motornya, tapi dia terus merasa berat harus meninggalkan Kinan.
"Nan, bagai mana aku bisa berhenti khawatir sementara kamu hidup sendiri dan ini pertama bagimu hidup mandiri diluar," Amora menunduk lesu.
Kinan mengusap halus lengan Amora "Mor, kamu harus percaya aku bisa, lagipula aku sudah terbiasa hidup menyendiri".
"Ia aku tau, tapi Nan hidup dilingkungan yang tidak kamu kenali bukan hal mudah, apalagi ...."
"Sudah Mor!" Kinan memotong pembicaraan, mengambil helem lalu meletakkannya dikepala Amora "Percaya padaku! aku akan baik baik saja"
Amora mengangguk tak ikhlas, "Mm ya baiklah" Amora mengunci helemnya lalu pamit dan pergi.
Selepas Amora pergi Kinan masih berdiri mematung ditempatnya sehembus nafas dalam ketakutan perlahan ia keluarkan, tak bisa dipungkiri semua ini juga berat untuknya tapi Kinan yakin dirinya bisa melewati semua ini dengan baik, selepas nasibnya yang buruk Kinan percaya akan mendaptkan ganjaran yang indah atas kesabarannya selama 23 tahun ini dilewatinya.
Kinan lalu kembali ke dalam rumah.
Perutnya kali ini sudah mulai terasa lapar itu sebabnya tangan Kinan bergerak mengecek persediaan makanan, kali ini yang dia inginkan adakah mie dengan kuah yang pedas, entah kenapa matanya terasa begitu berkunang-kunang saat membayangkan kuahnya yang pedas diseruput dalam keadaan masih panas.
Namun sedikit naas mie yang Kinan idamkan ternyata tidak tersedia, beberapa persediaan tampaknya memang sudah habis dari beberapa hari yang lalu.
Huuummpppp...
Kinan mendesah kecewa.