
"Sayang" Aim senyum sumringah. Perasaannya kini lega, dari spekulasi memikirkan perasaan Kinan karena Amira, berkat lantang dan beraninya Kinan bersuara Aim akhirnya tenang, terbersit senyum bangga dari bibirnya.
"Terima kasih. Terima kasih karena kamu bisa menghadapi ini" ucap Aim sambil menangkup kedua pipi Kinan menatap kemudian mengecup pucuk kepala dan area lainnnya. "Aku juga bangga padamu. Aku sayang dan mencintai kamu lebih dari yang kamu tau, lebih besar dari apa yang kamu lihat, lebih banyak dari apa yang kamu harap."
Aim terus mengecupi wajah Kinan sampai Kinan berkata.
"Mas berhenti mengecupi pipiku, atau pipiku nanti akan cekung dan benyok," gerutu Kinan.
Amira mendelik benci karena itu.
Dalam hati Kinan berkata, "Mas, mungkin ini belum seberapa. Aku tau pernikahan ini bukan pernikahan yang membanggakan. Aku harus mempersiapkan banyak tenaga untuk menerima cibiran cibiran seperti ini lebih banyak lagi. Mas aku tau hidup denganmu adalah pilihan sekaligus tantangan buat ku, aku tau ini akan berat, banyak orang menentang terutama orang tuamu, aku bahkan sempat ragu dengan pernikahan ini, tapi berkat kamu aku mulai yakin bahwa kita bisa berjuang sama sama"
"Kau tetap menjijikan Nan. Melihat mu seperti ini, aku merasa seperti sedang menonton lalat menjilati sampah busuk Im" berkata dengan angkuh.
Aim menoleh dengan ekor matanya, wajah kecut bersimpul untuk Amira, "Haha (Tertawa dingin). Pergilah Mir, semakin kau disini aku semakin muak melihat mu. Pergilah! Aku mengusir mu, Mir" Menatap Amira dengan penuh dengki.
Namun Amira tiba tiba berubah sikap.
"Kau tidak bisa melakukan ini pada ku Im, aku pergi dari rumah, dan aku tidak tau tujuan ku kemana, cuma tempatmu yang aku tau" mengiba untuk tetap bertahan ditempat Aim.
"Pergi sekarang juga" ulangnya dengan suara dingin tak berperasaan.
Amira mulai menurunkan wajahnya, berubah menjadi memperiharinkan.
"Im, aku minta maaf, aku minta maaf kalau ucapan ku menyinggung mu, semua ini terjadi karena aku terlanjur cemburu, aku cemburu melihat kau dekat dengan Kinan, padahal seharusnya aku sadar kalau aku tidak berhak merasakan perasaan ini. Setelah kejadian tadi siang harusnya aku yakin kalau kalian berdua itu benar benar menikah, namun otakku terus berfikir bahwa kalian sedang bersandiwara, fikiran aku yang menuntun untuk mendatangi tempatmu, Im aku mohon. Saat ini aku tidak punya siapa siapa, jadi biarkan aku tetap di sini, malam ini saja"
"Keluar dari kamar ku Mir!" Perintah Aim mengulangi dengan ekspresi dingin.
"Aku mohon! Aku marah kepada suamiku dan aku bertengkar dengan ibu ku" lirih Amira dengan wajah meng-iba maju beberapa langkah mendekat ke arah Aim, hal ini membuat Aim semakin muak.
Melihat Amira seerti itu Kinan merasa miris dan kasihan.
"Mas boleh ya Amira disini malam ini?" Kinan pun tau selama ini Amira tak memiliki banyak teman, beberapa yang dia kenal telah menjauhi karena tempramen Amira yang kurang baik.
"Im dengan sedikit meng-iba aku tau kamu akan bersimpati menahan ku disini, Kan?. Tak ada yang bisa menghindari karisma cantikku, kau tak akan bisa menolak ke inginan ku'kan?, dan aku pastikan kau akan menahan ku disini. Dan kau Kinan, aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan Aim dengan mudah" kata Amira dalam hati penuh percaya diri.
Aim terlihat berfikir beberapa saat.
"Mir, kamu ingin tetap disini?." Tanya Aim tanpa menoleh ke arah Amira yang perlahan maju ke dekatnya.
Amira mengangguk dengan penuh semangat.
"Tinggal lah disini untuk malam ini"
Dalam hati Amira telah bersorak gembira atas kemenangan yang didapatkannya.
"Tetapi kami berdua akan tinggal diluar untuk malam ini, untuk malam ini aku serahkan tempat ini kepadamu, tapi besok pagi saat kami pulang aku tidak ingin melihat kamu ada di sini. Da..n. ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan saat kamu tidur. Kamu jangan coba coba membuka tutup lemari itu" menunjuk kesebuah tempat dimana lemari di letakkan.
Amira pun mengernyit penuh tanya, mengikuti telunjuk Aim saat menunjuk semua tempat yang ia maksudkan.
^^^"Kamu lihat'kan pintunya tertutup? Aku yang menutupnya karena, Kinan sempat melihat seekor ular besar berlari kesana"^^^
"Ular? Mana mungkin, ini Apartemen Im. Ku fikir aku bodoh? Tempat ini terjamin kebersihannya" bantah Amira tertawa garing karena tak percaya.
Kinan pun menatap suaminya penuh fikir, bagai mana bisa dia membawa bawa namanya dalam hal kebohongan ini.
..."Ia, kan kita tidak tau ular itu merayap dari mana, bisa jadi dari saluran Air kan? Atau kamu mau menanyai ular itu sendiri datangnya dari mana?. Silahkan aku antar kamu"...
Tetapi Amira malah merinding sendiri dibuatnya. Apa yang Aim ucapkan ada benarnya.
"Kalau begitu, kalian tinggal lah di sini, temani aku". wajah mengiba, ketakutan.
"Oh, itu tidak mungkin. Karena kamu ingin tidur di sini jadi, sudah ku bilang aku memutuskan akan menyewa sebuah kamar hotel. Lagi pula kami tidak berniat tidur di sini, takut malam nanti ada yang gerayangi, ular atau tikus besar atau kecoa yang beterbangan di sini" Aim berupaya bergidik ngeri. "Mana mau aku, sebenarnya kami telah bersiap untuk pergi tapi karena kamu datang jadi kami putuskan untuk mengundur waktu"
Kinan mencoba menahan tawanya ketika Aim berusaha berakting.
Amira merinding, mengusap tengkuknya. Memerhati kembali ke sekeliling yang terasa mencekam, apalagi samar samar Amira mendengar suara eeeeengggg.. (suara yang timbul dari serangga yang mencari celah keluar). Hal ini membuat Amira semakin kengerian.
Kinan tau Aim sedang mengerjai Amira, diam diam dalam hati Kinan tertawa ngakak, sambil itu mencubit perut suaminya yang menyebalkan.
Melihat Amira kurang yakin dengan penjelasannya, Aim bergegas mencari ide lain yang bisa mendepak Amira langsung keluar dari kamarnya.
Aim berkedut kepada Kinan, ber-isyarat agar Kinan memberinya bantuan untuk mengusir Amira.
Tetapi Kinan malah tidak mengerti dengan maksud yang di utarakan Aim.
"Yank" panggil Aim dari sebuah kitcen. Beberapa saat sebelumnya Aim telah berjalan kesana untuk mengambil Air minum.
"Ya" Sahut Kinan. Kinan sempat bangkit dari duduknya di atas tempat tidur untuk menyahuti panggilan suaminya dan berniat mendatangi Aim, namun sempat urung karena Amira terus menyelidik tempatnya, mencurigakan.
Perilaku Amira sempat membuat Kinan jengah.
"Kamu belum membuang sampahnya?" Teriak Aim lagi, jijik.
"Aku belum sempat Mas, aku belum ada waktu". Balas Kinan.
Selepas Kinan menyahuti, suara Aim sempat hening beberapa saat. Hingga terdengar surara...
...Aaaaaaaaaaaaaaahhhh.. ...
Aim berteriak histeris,. Kinan terlonjak kaget dan segera berlari mendatangi Aim.
Amira pun demikian.