
Beberapa kali mengerejab untuk mengembalikan kesadarannya dari dibuai dengan perasaan membuncah yang ia dapatkan dari sentuhan lembut yang diberikan Aim.
Ditengah itu..
Terdengar pintu diketuk beberapa kali.
Kinan segera mengingatkan Aim yang tampaknya tidak memperdulikan seseorang yang saat ini datang bertamu kepadanya.
Melepaskan pautan dengan bibir suaminya. Meski Aim terlihat tidak senang "Mas sepertinya kita mempunyai tamu"
"Mm ya. Aku juga berfikir begitu" dengan wajah penuh paksaan Aim pun beringsut turun untuk menemui tamu yang dia sendiri sudah tau siapa yang datang mengetuk pintu ini.
Sambil melangkah Aim melontarkan sumpah serapah kecil dari mulutnya.
Wajah kusut dan rambut acak-acakan itulah tampilan yang Guna lihat dari Aim sekarang.
Kekacauan yang ia dapat dari adegan yang mungkin sedang terjadi, begitu fikir Guna.
"Oh Boss. Pagi" sapa Guna sambil tertawa kecil, geli "Maaf, apa aku mengganggumu?" Tanya Guna Ketika melihat wajah tidak menyenangkan itu.
"Ya. Kau sangat menggangguku, lain kali jangan muncul di momen yang nggak tepat, telpon saja aku tidak usah mengetuk pintu atau lain kali titipkan barang ku ke resepsionis"
Guna tertawa geli melihat raut kusut di wajah Bossnya ini.
Guna mengendus, mencium aroma tubuh Aim yang telah berbaur dengan aroma tubuh orang lain.
"Ia. Lain kali akan aku lakukan. maaf," Mendelik kesal karena baru kali ini dirinya mendapat larangan masuk kamar Aim setelah bertahuntahun bebas keluar masuk tanpa rengekan apapun "Tapi sepertinya Kinan tidak keberatan aku datang seperti ini" godanya hendak menerobos masuk, dengan sigap Aim menahannya.
"Gun, ini masih pagi. Jangan sampai ku tabok kepalamu" ancam Aim kesal.
Guna terkikik, "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu,"
Aim mengangguk malas, tentu lebih menyenangkan jiga Guna secepatnya pergi.
"Tapi kau tak boleh berlama lama juga, pagi ini ada rapat dengan Klien penting, kau tak boleh melewatkan ini" Guna memperingatkan. Selain itu Guna juga sempat membacakan beberapa agenda aktivitas Aim dari pagi hingga sore nanti.
"Kau berisik Gun, sebenarnya siapa yang Boss di sini? Kenapa ini terkesan gue yang di suruh suruh?" Desis Aim kemudian.
Guna menghentikan beberan ucapannya, sebaliknya dia mendelik kesal.
"Baiklah, kalau begitu gue pergi sekarang" kesalnya, menutup buku agenda dan beranjak.
"Nah itu lebih baik, setidaknya loe nggak buang buang waktu gue. Mana barang yang gue minta?"
"Tuh" tunjuk Guna pada sebuah koper berukuran sedang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Koper itu berisi pakaian dan kelengkapan yang di minta Aim.
"Baiklah terima kasih, loe boleh pergi sekarang juga" usir Aim. Menyambar koper dan beranjak masuk kedalam kamarnya.
"Ooh Ia Gun" Aim sempat berbalik, begitu pula dengan Guna, dia yang hampir mengambil langkah sempat berbalik pula.
"Apar gue udah aman 'kan?. Mahluk berbulu itu sudah loe usir 'kan?"
"Aman"
Guna telah memastikan mahluk itu sirna dari rumah Aim.
"Good"
sekilas Aim mengacungkan jari jempolnya.
"Ooh ia Im" panggil Guna.
Aim yang hampir menghilang masuk sempat nongol kembali dari balik pintu.
"Apa lagi Gun, jika ada hal penting kita bicarakan nanti saja"
"Bukan hal penting. Tapi...." Guna memanggil Aim untuk lebih mendekat kepadanya.
"Apaan si?" Kesal Aim.
"Apaan sih, ngomong aja belum" mendelik kesal.
"Baiklah apa yang ingin kamu katakan?".
"Mm.." Guna tidak yakin akan mengatakannya, "Bagai mana, lancarkan? Tegak berdiri kan?" Seloroh Guna.
Pertanyaan ini, Aim spontan melotot langsung melayangkan tabokan tepat di kepala Guna.
"Loe... Gue nggak jadi masuk kamar dan loe cuma mau nanya hal nggak bener ini?" Dengus Aim.
Guna mengusap bekas tabokan Aim, "Apa salahnya bertanya, bukannya sebelum ini loe selalu cerita kalau yang itu" menunjuk burung Aim dengan matanya "Tidak pernah berdiri, loe juga nggak lupa 'kan kalau istri loe Shina pernah mengeluhkan ini?"
Aim spontan menatap Guna, Aim sempat terkejut saat mendengar penjelasan Guna ini, "Loe tau dari mana?" Tanyanya.
"Mm" raut Guna mendadak tidak enak, Guna merutuki kesalahannya mengenai cerita Shina waktu itu, Sebelumnya Guna tidak berniat memberitahukannya kepada Aim. Bodohnya Guna malah keceplosan, "Maaf, tapi selain loe Shina juga mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan kalau 'itu' milik loe sedikit tidak berguna"
Aim merenung sesaat, batinnya berfikir bagai mana Shina bisa menceritakkan kelemahannya kepada lelaki lain. Aim sungguh tidak menduga ini.
"Ya. Mungkin waktu itu gue tidak begitu berselera, jadi hormon gue tidak terpicu. Tapi sekarang berbeda" kalimat terakhir seperti canggung untuk mengatakannya.
Guna tertawa geli tanpa suara.
"Baiklah, kalau begitu gue pergi. Dan mulai sekarang gue akan lebih berhati hati" maksud Guna adalah saat harus keluar masuk kedalam ruang pribadi Aim.
"Ia memang itu yang harus loe lakuin" Sinis Aim.
"Sekarang loe udah ngerasain gimana rasanya jadi lelaki sempurna, selamat Im" lagi lagi Guan menggoda Aim, menepuk pundaknya memberi semangat.
"Dih, apaan sih. Gue dari dulu sempurna kali Gun" Sambil menutup pintu kamar.
Setelah itu Guna merengkuh pamit lalu beranjak menginggalkan Aim, tapi sebelum itu Guna sempat berbalik dan menyusul Aim.
"Tapi Im,"
Pintu yang hampir tertutup Aim buka kembali saat mendengar panggilan Guna.
"Apa lagi?" berang Aim.
"Apa loe nggak mau ngajak gue mampir dulu?" Pertanyaan berisi tujuan tertentu.
"Dasar mesum," mendorong Guna, menjauhkannya dari pintu yang hanya sedikit ia buka, "Menjauh dari ruangan Gue" Aim lalu menutup pintu sambil mendesah kesal. Menyeret koper lalu kembali ke pada Kinan yang telah duduk di bibir tempat tidur sambil memegang handphone Aim.
Kinan melongo penuh tanya, seakan banyak hal yang ingin ia tanyakan pada suaminya.
"Ada apa sayang? Kenapa menatap ku dengan tatapan menakutkan ini?" Tanya Aim khawatir.
"Seorang perempuan berkali kali menelpon mu" jawab Kinan, memendan rasa cemburunya.
"Perempuan? Siapa?"
Kinan lalu menyerahkan hadphone yang dipegangnya kepada Aim.
"Apa yang dikatakannya?"
"Tidak ada, dia cuma menyebut nama mu kemudian menutupnya segera, apa karena aku yang menerima panggilan dia?" tanya Kinan penasaran.
"Tapi di sini tidak tertera nama siapapun"
Aim lalu melakukan panggilan kepada no itu, namun tidak di angkatnya.
Aim kembali melakukan panggilan namun sampai panggilan berikutnya sang penelpon masih tidak menjawab.
Aim mengedik tidak tau, karena panggilan kali ini tidak diterima.
"Mungkin salah sambung kali Sayang, soalnya dia nggak nerima panggilan aku"
Kinan menatap Aim penuh selidik membuat Aim malah jadi takut dan khawatir Kinan akan salah paham.
"Sayang, Aku bersumpah, demi tuhan aku tidak tau siapa perempuan itu" Aim masih mencoba menjelaskan. Dan membujuk Kinan untuk percaya kepadanya.