Oh My Boss.

Oh My Boss.
149



"Besar sekali kepala mu. Memangnya kau punya apa?" Dirga membusungkan dadanya, "Kau bahkan terlihat tidak mempunyai kemampuan besar, aku tawari kerja di perusahaan ku, anggap saja kau sedang hoki, cepat katakan mau! Dan kau bisa langsung bekerja dengan ku"


Aim tersenyum miring lalu menggeleng geli dengan ucapa Dirga tersebut.


"Hei" panggil Dirga kepada Kinan, "Dia bekerja di perusahaan mana?. Katakan kepada ku! Apa perusahaan itu lebih besar dari pada yang aku punya?"


Kinan hanya diam sambil menatap Aim lalu menatap Dirga dengan ragu.


"Tampaknya perusahaan mu begitu besar" -Aim.


"Tentu saja, tidak ada yang bisa menandingi ku. Dengar! Produk perusahaan ku berkembang pesat di pasaran, banyak uang bisa ku hasilkan dalam hitungan menit. Terlebih besok aku akan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Lk perusahaan besar di Asia, mulai bulan depan uang yang mengalir tak akan terhitung jumlahnya" pemer Dirga. Dirga sengaja mengatakan itu di depan Kinan, sengaja untuk menunjukkan kekayaan dan kemampuan yang di milikinya, Dirga berharap Kinan akan menyesal telah meninggalkannya.


"Perusahaan apa tadi?" Aim memicing sejenak "Boleh kau ulangi?" pinta Aim.


"Perusahaan LK" ulang Dirga dengan ulasan senyum bangga yang di tunjukkan karena berhasil menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan besar.


Setelah mendengar pengakuan Dirga,, Aim mengingat ingat sesaat nama perusahaan yang minggu ini telah merangkas masuk memohon untuk tandatangan kerja sama, Aim sempat menolak kerja sama ini sebab perusahaan mereka terkena asumsi kurang baik dan saham mereka sedang rendah.


Belum lagi Aim melihat sasaran perusahaan mereka cukup tinggi namun kualitas produk mereka cukup rendah dan kurang mempuni dengan harga yang mereka tawarkan.


"Nan, apa kau tidak salah memilih suami?" Tanya Hanna lagi lagi menatap Aim dengan cela, "Stile buruk wajah ancur tapi seleranya setinggi langit. Hei (Pekik Hanna kepada Aim) di jaman seperti ini masih untung ada pekerjaan walau cuma jadi karyawan biasa daripada jadi bos tapi cuma mimpi!"


"Mas" sebut Kinan, tidak rela Aim terus mendapatkan cemoohan.


"Tidak apa apa sayang" Aim coba mencegah Kinan yang hampir menjelaskan siapa Aim sebenarnya, "Apa kau tau siapa pemilik perusahaan?, Dengar dengar perusahaan itu sedang dalam tahap mengusung CEO baru loh, apa kau juga tau kalau kepemimpinan akan dinganti?"


Dirga mengernyit sesaat, Dirga tidak pernah mendengar itu sebelumnya.


"Harusnya kau jangan senang dulu. pasalnya, boleh jadi kontrak kerja mu akan di putus oleh CEO yang baru, karena yang ku dengar dia sangat teliti dan hati hati, jika tidak menguntungkan maka bersiaplah di akuisi" Aim menekan kalimat akuisi dengan penuh ancaman.


Dirga tersentak, dan merasa terancam.


"Ngomong ngomong, besok jam berapa penandatangannya?" Tanya Aim sambil sekilas melihat pergelangan tangannya, Aim tampaknya sedang merencanakan sesuatu.


Dirga mengernyit, "Kenapa kau ingin tau sekali?"


"Boleh ku sarankan sesuatu untuk penandatanganan besok?" Aim.


"Apa?" Tanya Dirga penuh perhati.


"Suruh istrimu meminta maaf kepada istriku!" Tekan Aim.


Hanna terlonjak kaget dengan permintaan itu, Hanna jelas akan menolak, apapun alasannya karena menurutnya dirinya tidak salah.


"Aku tidak mau!" Bantah Hanna.


"Kau suruh istri mu meminta maaf!" Titah Aim.


"Tapi istriku tidak salah. Lagi pula apa sangkutannya dia (menunjuk Kinan) dengan penandatanganan ku besok. Kau bahkan tidak tau apa apa, jangan mengatur!" Tekan Dirga, tidak suka.


"Minta maaf sekarang!"


"Tidak!" Hanna masih membantah.


"Kau tidak sadar akan kesalahan mu? Kau sungguh tidak mau meminta maaf?!" -Aim.


"Itu masalah sepele kenapa harus di besar besarkan sih," sambung Dirga.


"Kau bilang bukan masalah besar?" Aim mendelik emosi, "Kau hampir mencelakai istriku. Dirga, suruh istrimu meminta maaf sekarang juga!" Aim kembali mengulang, kali ini dengan nada sedikit tinggi.


"Siapa kau? Berani beraninya memberi ku perintah!" Dirga membalas dengan suara tak kalah tinggi, songong.


"Aku!? Apa kau tidak mengenal suara ku Dirga?." Dirga mengingat ingat, "Aku ulangi sekali lagi, kalau kau tidak mau meminta maaf!, aku pastikan kau di tolak untuk bergabung dengan perusahaan Lk, kau salah memilih saing Dir!"


Bukannya takut atau pun khawatir, Dirga malah tertawa nyaring,


"Kau siapa heh?" menunjuk Aim tempat di dadanya, "Orang kecil kakyak lu jangan terlaku banyak mengatur deh"


"Baiklah itu pilihanmu, Besok datangkah ke perusahaan lebih awal, dan siap siap untuk di akuisi"


mendengar ini Dirga terkejut bukan main, saling bertatap dengan Hanna, "Siapa kau sebenarnya?" selidik Dirga.


"Siapapun aku, kau tetap tidak berhak memperlakukan orang lain dengan buruk! ingat untuk datang lebih awal" Aim memerintah dengan emosi, "Kalian keterlaluan!"