
Aim telah memulai melemparkan koin miliknya, menurut perhitungan harusnya koin itu jatuh dengan sisi yang sama seperti dua lemparan sebelumnya.
Bersamaan dengan membumbungnya koin ke udara, mata orang orang yang ada di tempat itu ikut naik ke atas sana, hingga koin itu jatuh dan Aim menangkap dengan menangkup di tangannya.
"Menang menang" sorak mereka.
Sebelum membuka tangannya Aim tersenyum penuh harapan, orang orang yang penasaran tampak tak sabar dengan sisi koin yang di miliki Aim, karena dua orang di sebelah Aim telah melempar beberapa kali namun terus gagal.
"Apa aku akan menang?" Tanya Aim kepada semua orang,
Orang orang serentak mengatakan menang dan tidak.
"Siapa yang menebak aku kalah?" Tanya Aim dengan setengah berteriak, "Bagi yang tebakannya benar akan aku kasih hadiah handphone setara dengan hadiah yang akan aku dapatkan( mengarahkan tatapannya ke arah hadiah)" kata Aim antusias.
"Baiklah, siapa yang menebak aku kalah?" Tanya Aim.
Orang orang banyak yang mengacungkan tangannya, Aim pun mulai menghitung berapa banyak yang mengacungkan tangan,. Aim tampak tersenyum smirk karena lebih banyak orang yang mengacungkan tangannya, tanda mereka meragukan kemampuan Aim.
"Kamu sayang?" Mata Aim berarah kepada Kinan,.
Kinan tersenyum kecil, "Aku tidak ikut menilai, disini aku jurinya" Kinan memberi alasan.
Aim mengangguk, "Baiklah sayang pilihan yang baik."
Dengan masih menangkupkan kedua telapak tangannya Aim kembali bertanya, "Siapa yang menebak aku menang?"
Beberapa mengacungkan tangannya, dan Aim kembali berhitung. Miris, karena hanya sedikit yang meyakini dirinya dapat memenangkan permainan.
"Baiklah, saya buka sekarang juga, apa ada yang penasaran?" Tanya Aim.
Orang orang bersorak, "Buka buka buka"
Suasana semakin riuh ketika Aim hendak membuka telapak tangannya.
Dengan perlahan Aim mulai membuka telapak tangannya, "Tunggu, harus abangnya yang buka, biar lebih real"
Aim pun segera memanggil penjaga permainan untuk mendekat dan melihat sendiri koin miliknya.
Sang penjaga yang penasaran tentu segera menyutujui permintaan tersebut.
"Handphone handphone," orang orang bersorak antusias membuat Kinan sedikit tegang,.
Bukan kenapa, tetapi kalau sampai Aim kalah berapa handphone dan dana yang harus ia keluarkan, pastinya tidak akan sedikit pasalnya orang orang yang mengatakan kalah cukup banyak.
"Sayang kalau aku menang ingat dua syarat yang aku minta ya" Aim mengingatkan dengan mata nakalnya.
Namun Kinan tak mengangguk atau pun meng ia kan.
"Bang nanti kalau aku menang, tolong bujuk istriku untuk mencium ku di tempat ini oke" Bisik Aim kepada sang penjaga, "Abang tenang saja, nanti aku kasih hadiah" berkata dengan masih berbisik, si abang penjaga mengangguk spontan.
"Baiklah kita buka sekarang ya. Tolong semuanya hitung mundur, dari 3 2 1" orang orang serentak ikut menghitung.
Setelah melihat koin di tangannya, Aim terus menatap Kinan dengan tatapan pemburu yang haus, seperti hendak melahap istrinya saat itu juga.
Spontan Aim meloncat kegirangan bersamaan dengan itu orang orang pun bersorak kagum akan ke beruntungan Aim,
Namun Aim tidak peduli dengan hadiahnya, mata mendelik berisyarat kepada penjaga untuk menjemput Kinan dan membawa ke hadapannya, Aim hendak menagih syarat yang telah ia ajukan sebelumnya.
Meski ragu dan sedikit canggung Kinan akhirnya memberanikan diri untuk mencium Aim di depan umum lagi pula saat ini Aim tengah menggunakan masker, tidak terlalu tampak wajahnya sehingga kecil kemungkinan untuk orang orang dapat mengenalinya.
Sorakan semakin bergemuruh ketika Kinan mendaratkan bibirnya di pipi Aim, tak sedikit dari mereka yang terkagum dengan permintaan konyol Aim.
Dan Aim pun tampak beseri senang tidak terbanding.
Wajah Kinan di buat terbakar malu saat seseorang dari penonton memberikan selembar gambar dirinya sedang mencium Aim sebagai kenang kenangan.
"Mas, kita seharusnya tidak melakukan ini" Kinan yang malu sempat memukul dan mencubit pelan suaminya, "Mas, aku bilang jangan membuat kegaduhan, ini malah ribut sekali gimana sih, bagai mana kalau ada orang yang mencurigai kamu" ucap Kinan dengan berbisik khawatir si saat orang orang bersorak akan kemenangan Aim.
"Tidak apa apa, lagi pula dengan berpakaian seperti ini tidak akan ada yang mengenaliku" balas Aim sama sama berbisik, "Dua kali nambah ya" tambah Aim kemudian, mengingatkan Kinan akan syarat yang di ajukannya, menggoda Kinan.
Saatnya Sang penjaga memberikan hadiah sesuai persetujuan,.
Setelah mendapatkan hadiahnya Aim langsung bersorak, "Semua orang yang ada di sini akan aku traktir makan gratis" saking senangnya Aim malam ini, lepas itu Aim memeluk Kinan dan membubuhkan ciuman ciuman ke kepala dan pipi Kinan.
Orang Orang bersorak kesenangan dengan hadiah yang telah Aim janjikan dan makanan yang diberikan gratis, dengan syarat makanan itu dati di dalam area bermain.
Ditengah kesenangan itu seorang lelaki yang sejak ia datang telah memperhatikan Kinan, dan tak melepaskan tatapannya walau Kinan sendiri tidak menyadari hal tersebut, permainan dan kehebohan di area permainan ini membuat Kinan lupa akan segalanya, bahkan Kinan tidak sempat memperhati ke arah mana pun.
Meski yang berdiri saat ini di tempat yang sama adalah lelaki yang pernah di cintainya dengan tulus dan sepenuh hati.
"Kau tampak baik baik saja Nan" gumam lelaki yang tak lain adalah Dirga, sang mantan kekasih.
"Baiklah bumil, satu permintaan akan aku kabulkan" ucap Aim setelah orang orang yang berkerubun berpencar mendatangi makanan dan jajanan di area tersebut.
Kini di tempat tersebut tertinggal tiga orang, Aim dengan Kinan dan tak jauh dari mereka berdiri juga Dirga yang tidak mereka sadari kehadirannya.
"Sedikit banget permintaanya" gerutu Kinan dengan nada manja.
"Kalau begitu seribu permintaan akan aku kabulkan buat tuan putri" sambil meruku'kan tubuhnya di hadapan Kinan, hampir seperti pelayan kepada Tuannya.
Kinan terkikik, "Aku bercanda Mas. Mm kalau begitu, aku mau jagung bakar manis yang Mas Mas jual di sana!" Kinan menunjuk sebuah gerobak yang cukup ramai di datangi pembeli.
Aim menyelidik tempat dan penjual makanan tersebut "Kamu memilih menu itu bukan karena Masnya ganteng 'kan?" Aim mendelik penuh curiga.
Kinan yang senang menggoda segera berkata, "Dilihat dari jauh Mas Mas nya cukup menarik, di lihat dari dekat pasti jauh mengagumkan, ya kan Mas?. Atau bagai mana menurut kamu?" goda Kinan tanpa ekspresi seperti sungguhan saja.
"Cari menu lain saja, aku malas" Aim memasang wajah kesal, "Aku nggak rela istriku memperkenalkan wajah lelaki lain kepada putraku. Bagai mana kalau kita cari yang penjualnya perempuan?" usul Aim kemudian.
"Tapi aku maunya yang itu" tunjuk Kinan bersikeras, "Gerobaknya di kerumunin loh Mas, pasti jajanannya enak" Kinan tampak sangat penasaran.
Dengan terpaksa Aim menuruti kemauannya Kinan, Aim tak bisa menolak apapun yanh di minta Kinan "Baiklah, tapi lain kali kamu nggak boleh memuji lelaki lain di hadapanku tidak boleh" larang Aim penuh tekanan dan tidak rela, "Tapi kamu harus tunggu di sini, jangan ikut ke sana" setelah menuntun Kinan ke sebuah kursi Aim bergegas membelikan makanan yang di inginkan Kinan.
Di kesempatan yang sama Dirga pun melangkah untuk mendekati Kinan, sementara Aim maju ke depan tanpa perduli kepada lelaki yang sempat ia lewati tersebut, Aim bahkan tidak mencurigai siapa lelaki tersebut.
Kinan sendiri tidak memperdulikan siapa yang sedang berjalan ke arahnya saat ini.