
"Sayang"
Aim menghenghentikan langkahnya, membalikkan badan dan menghadang jalan Kinan.
"Ada apa Mas?" Mendongak menatap Aim yang saat ini sedang menatapnya sendu.
Tiba tiba Aim memeluk Kinan dengan erat, mengusap kepala dan mengecupnya penuh kasih sayang.
"Terima kasih karena kalian telah melengkapi hidupku, sebelum ini aku selalu merasa kesepian tetapi setelah kalian hadir, dunia ku begitu berwarna."
"Mm aku kira apa," Kinan menghela kecil, "Kamu membuatku gugup,"
Aim tersenyum kecil, pelukan masih dengan erat.
"Baiklah," Melepaskan pelukannya,"Setelah ini kita akan pergi ke mana?"
"Emang kamu nggak pulang ke kantor Mas?" Tanya Kinan, sambil memikirkan tujuan selanjutnya.
"Tidak. Hari ini sampe malam nanti aku sudah mengosongkan waktu berharga ku, jadi bisakah kamu menggantinya dengan hal hal indah?" Pinta Aim, antusias ingin menghabiskan waktunya dengan Kinan, "Kita jalan jalan yuk" usulnya kemudian.
"Mm kemana?" Tanya Kinan terlihat sedikit bingung mencari spot, terlebih waktu sudah hampir menjelang malam, "Bagai mana kalau kita cari makan saja?"
"Makan?" Aim terlihat berfikir, "Mm baiklah aku setuju. Aku punya beberapa resto andalan, soal rasa nggak usah di tanya. Pokoknya pasti enak"
"Mm." Kinan menggeleng keberatan, "Bagai mana kalau kamu mencoba makan, makanan ditempat yang aku tunjuk. Tapi pastinya bukan Resto, kita tes seberapa memasyarakat seorang Aiman, Bos besar perusahaan LK. Aku akan menunjuk beberapa menu dan kamu harus menebak namanya,.ok"
Aim berfikir lagi, dan mulai tertarik dengan ide tersebut, walau sedari dini pun Aim hampir mengaku kalah, karena memang tak banyak yang ia tau tentang makanan makanan di pinggir jalan.
"Baiklah, kita pergi sekarang?".
Aim lantas mengangguk, tanpa fikir panjang Kinan langsung menyeret Aim menuju spot pertama.
Spot pertama yang ia tuju adalah jajanan atau kuliner malam yang biasa di jual menjelang malam hari.
Yang pertama adalah ketan susu, Kinan menunjuk kuliner ini karena menurutnya sangat enak, cita rasanya yang gurih dan manis sangat pas di santap di malam hari.
"Ini," setelah mendapatkan bagiannya Kinan segera membawanya ke tempat duduk bersama Aim.
"Ini kamu tebak apa namanya" Kata Kinan sambil menyuapkan makanan tersebut kepada Aim.
Sambil mengunyah Aim terus berfikir, menebak citarasa yang sangat terasa enak di lidahnya.
Berupa nasi namun lengket, dan lebih gurih. Aim terus memikirkan nama makanan ini, yang tidak terlalu asing di lidahnya..
"Apakah ini nasi nori?" Tanya Aim.
Kinan menggeleng.
"Sushi?" Tanya Aim kemudian, tetapi Aim sendiri tidak yakin pasalnya tak ada rasa ikan pada makanan tersebut.
"Bukan," Kinan menggeleng.
"Lalu? Nasi apa yang bisa menciptakan rasa se manis ini?" Tanya Aim penasaran, melahap penggalan terakhir yang ada di tangan Kinan., Sontak membuat si pemilih mengaduh kesal.
"Ini dia" Kinan menunjukkan nama makanan yang tertera pada menu perkenalan tertulis pada plastik, "Ketan susu"
"Ooh jadi ini ketan?. Ketan?, Apakah ketan termasuk nasi?" Tanya Aim penasaran..
"Ia. Ketan adalah nasi yang di ambil dari beras ketan"
"Beras ketan? apa ada beras lain selain yang kita masak sehari hari?"
"Enggak, aku cuma taunya beras yang biasa kita makan sehari hari, aku tidak pernah mencicipi makanan se enak ini, bahkan di resto mahal pun tidak pernah mendapatkannya" ucap Aim, sambil mengambil kembali potongan ketan dari tempatnya.
"Enak?" tanya Kinan.
Aim mengangguk tanpa mengiakan, pasalnya mulut Aim sedang di penuhi dengan olahan dari ketan tersebut.
"Kita beli lagi ya" ajak Aim, tetapi Kinan menolak, karena menurutnya masih banyak jajanan yang akan ia jajal, jika menambah lagi ketan untuk di makan Kinan khawatir jajanan lain tidak akan sanggup ia masukan kedalam perutnya lagi
"Baiklah, kedepannya aku akan sering sering ke sini. ini sungguh enak" Aim memindai sekeliling, melihat dengan cermat, letak jajanan itu terjual.
"Sekarang kita ke mana lagi?" tanya Aim.
Kinan lantas menunjuk gerobak martabak telur tak jauh dari tempat ketan susu.
"Apa kamu pernah membeli ini?" tanya Kinan sambil menunjuk nama pada helai baliho di gerobak.
"Martabak telur," Aim membacanya.
Beberapa varian cukup menarik saliva, dan akhirnya Aim menunjuk satu menu spesial di tempat tersebut.
"Kamu menunjuk harga yang paling mahal mas" ucap Kinan dengan wajah tidak enak.
Aim kembali melihat berapa harga yang tertera.
62k tertulis pada menu pilihan.
Aim mengernyit sesaat, "62 k? apakah maksudnya 62 ribu dolar?" tanya Aim polos.
Kinan tertawa kecil, "Haha, bukan Mas, tapi 62 ribu" jelasnya.
"62 ribu kamu bilang mahal,. Itu tidak seberapa, aku penasaran sama rasanya, apa makanan ini manis seperti makanan tadi?" -Aim.
"Tidak, ini varian yang rasanya gurih, kalau kamu mau yang Varian manis kamu harus pesan yang martabak manis dan ini sangat enak" -Kinan.
"Baiklah, aku penasaran sama ini. Aku dulu sempat dengar orang orang membahas martabak, terdengar sangat menggiurkan, aku mau coba bagai mana rasanya. kalau enak kedepannya perusahaan LK harus membuat makanan ini"
Kinan hanya terkekeh mendengar keinginan suaminya itu, mana mungkin perusahaan LK berniat meraup rupiah dari menjual martabak manis yang mungkin keuntungannya tidak seberapa.
Akhirnya setelah menunggu satu jam, Aim dan Kinan akhirnya menerima pesanan mereka.
"Mm baunya sangat enak," kata Aim setelah sesaat menyesap aroma dua martabak beda Varian ini.
"Kita duduk di sana yu" ajak Kinan sambil menunjuk trotoar, tak jauh dari tempat martabak di jual.
"Duduk di situ apa tidak berbahaya?" Aim meringis membayangkan kendaraan yang mungkin akan lewat.
"Sudah tidak apa apa" Kinan menarik tangan Aim seolah permintaannya tidak ingin di bantah.
"Kamu mau yang mana dulu?" tanya Kinan sambil membuka tas belanjaanya
"Aku tidak tau, kamu saja yang tunjuk maka itu yang akan aku pilih" pinta Aim dengan lembut.
Dengan senang hati Kinan memilihkan dan memberikannya sepotong.
"Kamu ingat makanan ini apa?" tanya Kinan di sela menyuapi Aim.
Aim meatap plastik dengan cukup lama, berharap akan ada nama tiba tiba muncul untuk menjawabb pertanyaan Kinan.