Oh My Boss.

Oh My Boss.
54



Beberapa saat kemudian Kinan melepaskan pelukannya dari Amor, ia lalu tertawa konyol "Setelah sekuat tenaga menahannya akhirnya aku menangis juga" kata Kinan. Dia menggeleng kesal pada dirinya karena tidak bisa mengendalikan diri lagi.


Amor mengusap bahu Kinan dengan lembut, "Kamu jangan terus menahan beban mu sendiri Nan, bercerita dan menangis sedikitnya bisa membuat hati kita tenang"


Kinan menghapus air mata dengan jarinya, "Ya kamu benar, setidaknya perasaanku sedikit ringan sekarang"


Amor menoleh pergelangan tangannya, "Heii sebenar lagi hidangan kita akan sampai," Amor mengambil kotak tisu yang tersedia ditempat itu lalu menyerahkannya pada Kinan "Berhentilah menangis! jangan sampai ingus mu mengotori makanan kita nanti," Goda Amor diakhiri dengan cekikikan kecil.


Kinan mencabut tisu yang disodorkan Amor lalu mengusapkannya pada sisa lelehan air matanya, "Baiklah" Kinan pun dibuat tertawa oleh godaan Amor.


Benar saja beberapa saat kemudian seorang pelayan mengantarkan hidangan yang mereka pesan.


"Selamat menikmati" uacp sang pelayan dengan ramah, Amor dan Kinan menerimanya dengan tak sabar.


"Sepertinya aku akan pesan satu porsi lagi" kata Kinan menoleh kepada Amor, dia sedang menerima piring yang di asongkan pelayan.


"Benarkah?" Sahut Amor setengah tak percaya.


"Ya, karena dari pagi aku belum makan, lagi tidak nafsu, melihat makanan ini nafsu makanku langsung tergugah, dan aku yakin sekarang bisa makan dengan lahap"-Kinan.


"Ingat maagmu Kinan" Amor selalu memperingati untuk menjaga pola makan demi kesehatan Kinan, "Kamu yang tau penyakit kamu, kamu juga yang harus menghindari semua yang bisa memicu penyakit kamu kambuh" kata Amor. Ini bukan kali pertama mengingatkan, sudah yang kesekian kalinya.


Amor tampak tidak sabar untuk segera mencicipi makanan "Mm, sudah tidak perlu diragukan makanan disini selalu enak" puji Amor sambil menyendok kembali makanannya menggigit lauk dengan sedikit rakus.


Melihat reaksi Amor terhadap pesanannya membuat Kinan ikut tergugah, Kinan segera menyendok nasi dan mendekatkannya ke mulut, tapi.. "Mm' " bibir Kinan seketika mengatup saat perutnya tiba tiba terasa mual, aroma makanan enak itu berubah tidak enak saat masuk ke rongga hidungnya.


Kinan terdiam sesaat, menutup hidungnya sambil menatapi makanan kesukaan yang setiapkali datang akan dipesannya.


Apa yang terjadi?


gumam Kinan dalam hati.


Apa ada yang salah pada makanan ini?'


Kinan mengernyit beberapa saat.


"Mor," Amor yang asik menikmati makanannya menoleh Kinan "Ya" Amor menyahuti tanpa menghentikan kunyahannya.


"Mm," Kinan mengarahkan sendok berisi makanan itu kepada Amor, "Ciumlah! apa ada yang salah dengan makanan ini? Kenapa aromanya sangat tidak enak? Apa ada yang berubah? biasanya tidak seperti ini." heran Kinan.


Amor pun segera menuruti permintaan Kinan, Amor sempat mengernyit heran pasalnya tak ada masalah pada makanan itu.


"Aku tidak mencium apa apa Nan," Kata Amor sambil menatap Kinan penuh fikir.


"Masa sih?" Kinan lalu kembali menyesap aroma makanan itu, seperti sebelumnya indera penciuman Kinan kembali menolak aroma masakan didepannya itu, sangat tidak nyaman, "Baunya bikin pengen muntah Mor" kata Kinan sambil menyumbat lubang hidung dengan jarinya.


Amor berkali menyesap malah tidak menemukan aroma apapun selain aroma makanan yang tercium sangat harum khas bau makanan yang kental dengan rempah rempah.


Karena penasaran Amor menyendok lalu mencicipi menu pesanan Kinan yang memang berbeda dengan menu yang dipilihnya.


Amor berfikir 'barangkali ada sesuatu yang aneh bisa Amor temukan.'


Amor bahkan sampai mengangguk angguk terkesan akan rasanya.


Amor menyendok kembali makanan milik Kinan lalu meng asongkanya "Coba deh kamu cicipi lagi" Amor mendekatkan sendok berisi makanan tepat didepan mulut Kinan.


Kinan masih mengernyit heran akan bau yang ia dapatkan sementara Amor tidak mencium apapun.


Jika bukan pada makan yang ia pesan Kinan berfikir mungkin hidungnya yang sedang bermasalah.


Kinan dengan terpaksa membuka mulutnya meski aroma tidak sedap itu kian menusuk dan membuatnya mual ingin muntah.


Makanan berhasil masuk, tapi herannya perut seolah terus memberikan penolakan, walau begitu Kinan terus memaksakan diri mempertahankan makanan agar jangan keluar, tapi semakin dikunyah Kinan semakin tidak bisa menahan diri, dan akhirnya 'Uuuoooo'


Kinan menangkup mulutnya beserta makanan yang hampir terloncat keluar itu, Kinan lari mencari toilet secepat mungkin. Di wastafel yang disediakan resto Kinan memuntah makanannya sampai habis tak tersisa.


Setelah tidak ada lagi makanan atau bau tersisa Kinan membasuh mulutnya yang kini sudah terasa pegal.


"Nan" Amor mendekati Kinan dan menatapnya dengan khawatir.


Wajah Kinan terlihat sangat pucat, "Nan apa kamu sakit?" Amor menggeser poni yang menutupi dahi Kinan lalu menempelkan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuh Kinan.


Kinan kembali muntah, kali ini tidak ada apapun keluar tapi meski begitu Kinan masih belum berhenti. Membuat Amor semakin panik.


"Nan" Amor mencoba memijit mijit pundak Kinan.


Beberapa saat kemudian barulah Kinan berhenti, mengambil tisu lalu mengelap mulutnya yang basah. Kinan meringis kesakitan muntah kosong membuat ulu atinya terasa perih, ditambah dengan kepalanya yang sedikit pusing, mata berkunang kunang, urat urat juga menegang keringat dingin keluar membasahi dahinya.


"Nan, apa kamu baik baik saja?" Amor mendapati wajah Kinan semakin pucat, kondisinya juga tampak memburuk.


Tiba tiba "Naaan" Amor berteriak. Kinan ambruk Amor tangkas menangkap tubuh Kinan yang tiba tiba roboh, "Kinan bangun Kinan" Amor coba menyadarkan Kinan dengan menepuk-nepuk pipinya, Amor terus mencoba membangun kan Kinan, sekuat tenaga Amor menopang tubuh Kinan tapi tak lama kemudian ia pun roboh bersamaan dengan robohnya tubuh Kinan, kaki Amor tak kuasa menahan berat tubuh Kinan yang terkulai.


Amor semakin panik pasalnya di dalam kamar mandi sedang tidak ada siapa siapa yang bisa dimintai bantuan.


Amor sudah berteriak teriak meminta tolong sampai serak.


Karena tidak ada yang mendengar, Amor terpaksa mendudukan Kinan menyandarkannya pada dinding lalu keluar berteriak meminta bantuan, beberapa orang bergegas mendatangi Amor dan bertanya 'apa yang terjadi' Amor yang panik segera menunjukan bahwa ada seseorang yang sedang pingsan.


Salah seorang pelayan keluar dari kamar mandi memanggil pelayan lelaki memintanya untuk segera menggendong dan memindahkan Kinan.


Lelaki itu pun bergegas menuruti, saat hampir merengkuh untuk memangku Kinan seorang lelaki bersetelan jas menghentikannya "Biar aku saja" ucapnya, ia lalu menggendong Kinan dan membawanya keluar lalu Kinan dimasukkan kedalam mobil diikuti Amor yang mengekor dengan terburu buru, setelah melakukan pembayaran.


"Pak Bos?" Amor terkejut, ia baru menyadari bahwa yang memangku Kinan tadi adalah atasannya, Amor menyadari itu saat tidak sengaja dia mendengar suara lelaki pada kemudi memintanya untuk memangku Kinan, "Pangku kepalanya dan lentangkan dengan baik!" Suruhnya.


Amor sudah cukup familiar dengan suara itu.


Untuk meyakinkan diri Amor melihat kearah cermin diatas kemudi, benar dia adalah bosnya, Aiman.


"Bos, terima kasih karena sudah bersedia mengantar Kinan" ucap Amora.


Aim terburu buru menjawab Amor, "Sama aku kamu jangan terlalu formal Mor, jangan sungkan, anggap aku seperti kamu sedang berbicara dengan Kinan dan teman teman lainnya"