
"Apa acaranya sudah bisa dimulai?" Tanya penghulu setengah emosi dia masih kesal karena calon pengantin terus mengundur waktu.
"Ooh ia, bisa Pak" kata Dirga mempersilahkan penghulu untuk kembali ke ruang pernikahan disusul olehnya dibelakang.
Setelah Dirga pergi dari tempat barulah Kinan keluar dari persembunyian dari tadi Kinan sebenarnya mendengar percakapan dan kegelisahan Dirga dan orang orang yang ada disekelilingnya, Kinan bukan tidak tau Dirga resah dan mengkhawatirkannya, Kinan juga merasa bersalah tapi rasa itu tidak lebih besar dari kekecewaan yang rasakannya.
"Acaranya kenapa melorot begini ya?" Tanya Guna sambil melirik jam dipergelangan 11:02. Bukankah di undangan harusnya pernikahannya pukul 9:30 ya?" Ucap Guna melirik sana sini melihat sedikit keresahan yang tercipta dari pengantin yang tak kunjung tiba.
Selepas dari pertemuan dengan Klien Aim dan Guna bergegas cepat untuk memenuhi undangan, sebelumya Aim dan Guna berencana datang lebih awal rencananya mereka berdua ingin melihat sosok pengantin yang akan menikah hari ini, tapi pertemuan tadi cukup menguras waktu hingga membuat Aim dan Guna terlambat, tapi siapa sangka saat Aim tiba acaranya bahkan belum dimulai.
"Saudari Kinan, apa saudari sudah siap?" Tanya penghulu kepada Hanna, Bapak penghulu asal bicara saja dia tidak mendapat kabar kalau pengantin perempuannya diganti/perempuan yang berbeda, itu sebabnya Pak penghulu memanggil Hanna dengan panggilan sesuai yang tertera pada buku daptar pernikahan.
Hanna dan Dirga yang sudah duduk bersebelahan saling menatap, lalu salah seorang dari samping penghulu berbisik meminta maaf dan menjelaskan kalau pada nama pengantin terdapat kesalah pahaman, Bapak penghulu terlihat terkejut saat mendengar dia akan menikahkan Dirga dengan dua perempuan sekaligus, setelah itu seseorang menyodorkan kertas bertulis kalimat Hanna, calon pengantin selain yang bernama Kinan.
Tapi Hanna tidak tecatat pada pembukuan pernikahan negara.
Pengghulu lalu menoleh kesisi lain tidak ditemukan mempelai lain, "Mempelai ...."
Sebelum Penghulu menghabiskan kalimatnya, seseorang berbisik kepada Dirga mengatakan kalau Kinan telah membatalkan untuk menikah Dirga tampak terkejut hebat mendengar kabar itu, sempat terlintas dibenak Dirga untuk lari mencari Kinan, namun Dirga merasa tidak mungkin meninggalkan pernikahan.
Orang orang sudah bosa dan tidak sabar lagi menunggu untuk acara dimulai.
Melihat keadaan itu Mila hanya bisa menangis terdiam, Mila tidak bisa berbuat banyak selain menghela nafasnya penuh kekecewaan batinnya terus menolak Hanna dan menginginkan perempuan calon menantunya itu Kinan seorang.
Tangan digenggam fikiran difokuskan hati ditentramkan nafas diatur perlahan Dirga sudah siap mengucap izab dan kabul atas nama Hanna.
Kalimat sakral pun dilontarkan selepas itu senyum lega tersungging dari wajah mempelai dan keluarga mempelai masa masa menegangkan bagi seorang lelaki berhasil dilewati Dirga dengan mudah, Hanna Kini telah sah menjadi nyonya Dirga Hadigama.
Teriakan dan sorakan kalimat 'Sah' sempat bergemuruh memenuhi ruangan, semua orang kini sedang bersuka cita para tamu undangan bertepuk tangan mengakhiri masa lajang Hanna dan Dirga kecuali Dila dan Hadi mereka berdua malah terlihat murung... Semua orang yang ada dipesta berbaur dengan perasaan sukacita terkecuali Kinan.
Kinan mematung kaku dibelakang tamu undangan tatapannya kosong bibir mengigil air matanya tak henti berjatuhan menahan hati yang sedang terasa remuk dengan jantung seakan pecah berkeping-keping kedua matanya menyaksikan cinta yang diambil orang,,
Dirga ini adalah mimpi kita, kita berdua merancang membina rumah tangga yang bahagia.
Lupakah kau pada setiap kalimat manis yang kau ucapkan? Setiap detik aku selalu mendengarmu mengucapkan cinta, masih terngiang tatkala disetiap waktu kau bilang kau merindukanku, kau bilang ingin menghabiskan seluruh waktumu denganku, kau berjanji hanya aku dalam kisah cintamu, menua di sampingku, dan mati dipelukanku semua itu masih terasa hangat bahkan sampai detik ini aku masih belum percaya kau telah bersumpah diatas nama orang lain, harus beginikah cinta seperti inikah wujudnya setia yang kau sumpah kan? Mengapa cepat sekali berlalu? Dalam sekelip mata semuanya tinggal cerita saat dalam hubungan hadir kalimat 'kalian' yang tidak pernah aku inginkan.
"Hanna yang kamu inginkan sudah aku berikan" ucap Kinan ketir meski sulit mencoba menelan semua kekecewaannya, dia lalu pergi meninggalkan tempat pernikahan.
Sebelum ini, pagi hari saat Kinan hendak mengenakan gaun pernikahan tiba tiba dia menerima notif pesan singkat, karena penasaran Kinan segera membukanya pesan tersebut dikirim oleh Hanna yang berisi,
'Kinan mewakili anak yang sedang aku kandung dan aku sebagai sahabatmu aku mohon padamu agar mundur! lepaskan Dirga, aku tidak mau anakku nanti memiliki dua ibu, aku tidak ingin jika suatu saat anakku harus berbagi Ayah, masa depanmu masih panjang Kinan kau bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Dirga, sebagai sahabatmu aku mohon lakukan ini demi kebaikan masa depan kita semua' Kinan terpaku dan terdiam beberapa saat tubuhnya menggigil Kinan sampai tidak sadar kalau gaunnya telah terlepas dari genggaman, seperti petir menyambar jantungnya kalimat itu melukai batin Kinan 'Seegois itukah kamu Hanna?'
"Bos, Bos" Guna menepuk-nepuk paha Aim, dia ingin menunjuk seseorang yang dilihatnya, "Bukannya dalam undangan perempuan itu ya, mempelainya?" Tanya Guna sambil menunjuk Kinan yang tampak keluar dari pesta.
Aim segera menoleh penasaran, Aim mengambil secarik photo yang dia robek dari surat undangan lalu membandingkannya dengan Kinan.
Kinan terlihat bersimbah airmata.
"Kau benar" ucap Aim, dia bergegas mengikuti Kinan.
Sebetulnya Kinan lah yang membawa Aim ke pesta pernikahan, awalnya Aim sempat memutuskan tidak akan hadir ke acara, namun ketika melihat photo Kinan dalam surat undangan dia langsung bergegas ingin hadir dia hendak meyakinkan dirinya kalau perempuan yang akan menikah itu perempuan sama yang ada dalam fikirannya.
Saat melihat photo Kinan pada undangan Aim sempat merasakan patah hati karena perempuan yang diharapkannya akan segera menjadi milik orang, tanpa basa basi lagi Aim langsung keluar dari pesta untuk membuntuti Kinan.
"Kenapa mempelainya bisa orang lain ya? Apa tertukar?" Tanya Guna maksudnya berbicara kepada Aim, dia tidak sadar kalau Aim sudah pergi menyusul Kinan, Guna lalu menoleh dan sadar Aim sudah tidak ada di kursinya "Bos, Bos," Guna plungak plinguk mencari keberadaan Aim, lalu mendengus kesal.
"Langsung menghilang, kayak asap rokok aja" desisnya.
Setelah beberapa saat mencari keberadaan Kinan, Aim akhirnya melihat Kinan sedang berjalan menderek koper besar berjalan menuju sebuah taxi yang ia berhentikan.