Oh My Boss.

Oh My Boss.
118



Kinan mendelik.


"Tetapi tugas ku belum selesai, Bos" tekan Kinan pada kalimat terakhir, berharap Aim mengerti akan tugas karyawannya.


"Sudah malam begini apa yang kamu lakukan? Bukankah seharusnya devisi kamu pulang lebih awal ya?" Tanya Aim. Melirik tumpukan kertas yang sedang di periksa Kinan. Menelaahnya penuh cermat.


"Tunggu" Aim merasa ada sesuatu yang janggal. "Bukankah berkas ini harusnya di kerjakan oleh seseorang, kenapa berkas berkas ini ada padamu? Kenapa bukan Lia yang...?" Tanya Aim berturut turut. Aim mendapati kejanggalan. Kemudian Aim terdengar menelpon Guna.


Guna yang sedang mengemudi untuk mengantarkan Amor pun segera menjawab.


"Apakah kamu sudah memberikan tugas yang aku berikan kepada notaris Lia?" -tanya Aim.


"Semuanya sudah aku serahkan kepadanya" jawab Guna.


Amor di samping hanya duduk pura pura tak mendengarkan.


Sambil terus mengecek kertas yang ada di meja Kinan, Aim menemukan ternyata Kinan sedang diperbudak oleh seseorang (Atasan), Aim tidak terima dan tidak bisa tinggal diam, berfikir perlu memberinya pelajaran "Baiklah. Tolong bilang, data data hotel Graha harus ditinjau kembali dan harus selesai malam ini, karena besok, Akuisi hotel mereka di percepat,"


"Bukankah akuisinya masih satu bulan lagi?" Guna berfikir kenapa Aim tiba tiba melakukan ini, padahal sebelumnya Guna tidak mendengar projek ini di ungkit.


"Akuisinya aku percepat. Dan tolong sampaikan, kalau aku tidak menerima kesalahan" tegas Aim. Ia lalu menutup telpon.


"Sudah sayang, ini bukan tugas mu" Aim. Kinan mengernyit tak paham.


Setelah sambungan terputus Guna segera menghubungi Lia dan mengatakan sebagai mana yang diperintahkan Aim terhadapnya.


Lia yang saat itu sedang asik bernyanyi karaoke langsung panik dan lari terbirit-birit.


"Ah shhitt sial." Umpat Lia sambil terus mencoba menghubungi no Kinan, namun tidak juga tersambung, "Dokumen itu, aku harap ada bersama dokumen dokumen yang aku berikan kepada Kinan, kalau tidak matilah aku" dengus Lia, kesal bukan kepalang, merutuki diri dan Bos yang memerintah sewenang wenang terhadapnya.


Acara karaoke ria yang ia rencanakan dengan teman teman harus batal.


"Tutup semua kertas ini dan ikutlah ke ruanganku" bujuk Aim manja.


"Apa yang akan kita lakukan di sana?" Tanya Kinan sambil tersenyum geli.


"Aku hanya ingin memeluk mu dengan tenang" jawab Aim enteng, "Sejak aku datang, kelihatan sekali kalau kamu kurang nyaman, ia 'kan?" Selidik Aim.


Kinan hanya diam tak menjawab.


Meski keadaan kantor sudah sangat sepi tetapi Kinan masih merasa harus waspada khawatir mungkin ada orang yang mungkin diam diam memperhatikannya.


"Atau kita pulang saja?"


Ajak Aim saat Kinan hanya diam, "Aku sangat merindukan kamu" melonggarkan dasinya, mendekati Kinan penuh semangat.


"Tunggu," tahan Kinan "Kamu bau Mas" goda Kinan.


Spontan Aim mengendusi badannya, dan membandingkan ukuran bau tubuhnya sesaat.


"Benarkah? Apa benar aku bau?" Aim terlihat khawatir mengenai bau tubuh yang akan menganggu Kinan.


Kinan terkekeh, "Tidak kok. Kamu tetap wangi. Tapi, aku melihat wajah mu sangat kusut, Mas pasti lelah. Mas pulang saja dan istirahat' titah Kinan.


Namun Aim membantah, ia ingin Kinan pergi bersamanya.


"Kalau dokumen ini tidak selesai, apa kamu akan bertanggung jawab kalau aku di pecat?" -Kinan.


"Aku adalah pemilik perusahaan, justru kalau kamu membantah ku, aku yang akan melarang mu untuk bekerja lagi" -Aim.


"Apa itu berarti aku di pecat?" Tanya Kinan meyakinkan.


Aim mengangguk.


"Oh My Boss. Jangan galak galak ya, aku 'kan istri mu." Ucap Kinan mendayu dayu, sengaja untuk menggoda Aim.


"Sayang" Aim yang sudah tidak sabar menyerobot Kinan dan menekannya dalam lum***n yang cukup lama, "Kau membuatku tidak sabar sayang" ungkapnya di akhir.


"Tapi kamu melakukannya sedikit kasar, dasar tidak sabaran!" Desis Kinan merajuk.


"Tapi, apa kamu menikmatinya?" Tanya Aim.


"Tapi aku tidak suka tempat ini, apa disini aman untuk melakukan itu (bermesraan?). Cctv di mana mana Mas" Kinan memperingatkan.


Aim terdengar mengehela kecewa, Aim sungguh tidak ingin hubungannya dengan Kinan di privasi, yang Aim ingin bisa memeluk dan mencium Kinan dimana pun dan kapan pun dia mau.


Tetapi emosi birahi sudah terlanjur di ubun ubun, Aim tak lagi dapat mengendalikan dirinya, seharian jauh dari Kinan membuatnya tidak bisa bersabar.


Aim kembali menyerobot, kali ini benar benar rakus, mengabaikan peringatan Kinan mengenai Cctv didalam ruangan.


"Mas" sebut Kinan, menghentikan tangan Aim yang telah merayap kemana mana.


Binar mata yang terpancar tampak tidak senang, dan tidak terima Kinan menghentikannya.


"Kamu pulang ya. Aku akan menyelesaikan ini dan menyusul kamu" berkata dengan hati hati berharap Aim tidak tersinggung.


Mata sendu itu masih terlihat tidak terima, "Kalau kertas ini tidak ada kamu mau pulang dengan ku 'kan?"


"Mungkin saja" balas Kinan datar.


"Baiklah" Aim membawa seluruh kertas dan membuangnya ketempat sampah.


"Mas, apa yang kamu lakukan?"


"Aku telah menyerahkan file ini kepada orang lain. Maka, kamu tidak perlu ikut mengeceknya, biarkan ini menjadi tugas dia" Aim kembali ke dekat Kinan dan kembali memperaktikan diri sebagai suami.


"Aku sangat merindu 'kan mu" lirihnya ditengah mengecupi seluruh area sensitif Kinan.


Kinan pun hampir terhanyut, namun ketika sadar pada kamera pengawas Kinan segera melepaskan Aim.


"Kameranya menyala (Merekam) Mas" Kinan.


"Biarkan saja, Aku yang akan menghapusnya besok" -Aim. Berhenti lalu melanjutkan tuntunan kewarasannya untuk menikmati Kinan didalam Kantor.


"Tapi apa kamu nyaman melakukannya di sini?" Kinan kembali bertanya.


Aim segera peka dan berhenti saat menyadari kalau Kinan sesang merasa tertekan.


"Sayang aku minta maaf" pinta Aim lirih.


Baju yang hampir Aim buka, Aim kancing'kan lagi. Milik dirinya juga milik Kinan.


"Ahhh.. Aku sungguh tidak bisa mengendalikan diri," kesal Aim karena tak dapat menahan diri.


"Kamu tidak salah Mas, cuma Keadaan kurang mendukung" Kinan beringsut, merapihkan dirinya yang berantakan. Bibir tersenyum untuk mematahkan kekhawatiran Aim tentang sikap yang membuat Kinan tidak nyaman.


"Ya. Bolehkah aku memelukmu?" pinta Aim akhirnya, dan kali ini pun Kinan menurutinya.


"Aku minta maaf. Semua ini kulakukan karena aku sangat merindu 'kan kamu" Ungkap Aim penuh perasaan. Sikap sederhana inilah yang selalu membuat Kinan melayang.


"Berhentilah meminta maaf Mas. Kamu bisa membuat aku besar kepala" kata Kinan ditengah keduanya berpelukan.


"Mm. Pelukan mu, seperti kavein yang menyisakan candu, pelukanmu hangat dan menenangkan Nan"


Aim terus melekat di pelukan Kinan, hingga..


Tap Tap Tap..


Terdengar suara langkah kaki seperti sedang di buru.


mata Kinan dan Aim spontan tertuju ke sumber hentak kan.


Kinan melotot hebat karena melihat Lia berjalan ke arahnya.


Begitu pula dengan Aim..