Oh My Boss.

Oh My Boss.
87



Aim tiba tiba terkesiap mendengar ucapan Kinan "Apa kamu bilang?" Pekik Aim kesenengan, menuntut Kinan untuk mengulangi ucapannya.


"Kejam?"


"Bukan, ada kalimat dibelakangnya" -Aim.


"Yang lain? Apa itu?" Kinan pura pura tak menyaadari kalimat yang baru diucapkannya.


"Kamu panggil aku apa?" Aim.


Mengernyit sesaat "Ma, Mas" Kinan pun tersenyum malu tatkala mengulangi kalimat tersebut, sedikit aneh tapi Kinan harus terbiasa.


Aim terkikik senang, "Kamu harus memanggil aku dengan ini setiap hari, Ok. Kalau tidak,"


"Kalau tidak, apa?" -Kinan.


"Kamu akan mendapatkan hukuman yang setimpal" -Aim.


"Hukuman? Uuh, menyeramkan sekali suamiku" desis Kinan sambil terkikik geli.


"Nak, sekarang ibumu mulai mengakui Ayah sebagai suaminya, apa kau senang, nak?. Ayah sangat senang mendengarnya, ayah harap kau pun begitu" berkata pada calon bayi yang bahkan belum mendapatkan nyawa. Aim benar benar sedang berbunga bunga hari ini.


"Apaan sih Bos, dia mana bisa mendengar"


Panggilan pun berbeda lagi, Aim manyun menunjukkan kekesalan diwajahnya.


"Kamu boleh memanggil namaku tapi berhenti memanggilku Bos, karena Bos yang sebenarnya ada disini" kata Aim sambil mengusap usap gemas perut Kinan.


"Apaan sih Mas, geli tau nggak" Kinan menggeliat kegelian tetapi Aim semakin menggoda dan menggelitiki pinggang Kinan, hingga Kinan tidak berhenti terkikik begitu pula dengan Aim, "Bos, hentikan!" Tetapi Aim tak menuruti.


"Aku akan berhenti saat kamu memanggil aku Sayang" Aim menekan kalimat terakhir.


"Tidak, aku tidak mau" Kata Kinan ditengah kikikan gelinya.


"Baiklah, aku tidak akan berhenti" Aim.


Lalu ketika Kinan merasa tidak tahan lagi, dia menyerah dan mau mengatakan 'Sayang' seperti yang Aim minta.


"Berhenti Ok, perutku sakit"


"Perutmu sakit?" Tanya Aim khawatir, segera mengelusnya lembut, "Nak, kamu tidak boleh nakal, diam disana baik baik jangan pernah membuat ibumu kesakitan Ok"


"Bukan dia yang membuat perutku sakit, tapi kamu Mas"


"Aku?" Aim menunjuk diri, "Baiklah, aku akan berhenti tapi sebelum itu cium aku" Aim memanyunkan bibirnya tanpa bergeser dari pangkuan Kinan.


Kinan menurutinya sekilas.


"Dokter Surya bilang, kamu tidak boleh melakukan banyak kontak fisik dengan aku, atau kamu akan menulari kami berdua"


"Maaf aku lupa," menangkup mulutnya yang bersalah.


"Tapi tidak apa apa, anak ayah kuat, tidak mungkin terkontaminasi penyakit ayah, lagi pula Ayah tidak sedang pilek, cuma alergi dan kecepean ia 'kan nak? Kamu harus baik baik saja disana, ayah sayang kamu" menciumnya lagi.


Aim terus berbicara dengan menyebut dirinya 'Ayah' seolah bayi itu benar benar miliknya.


Kinan terkikik geli, dan haru.


Tidak pernah terpikir akan memiliki suami sehangat ini.


Dibalik pintu Amira meremang tatkala melihat kemesraan yang terjalin antara Aiman dan Kinan, Amira tidak mau menerima kenyataan itu, kenyataan bahwa Kinan selalu mendapatkan seseorang yang selalu mencintainya dengan sepenuh hati.


Berkaca dari pernikahannya dengan Dirga. Dimana Amira mendapatkan status menyedihkan itu hanya sebagai perempuan pengganti, cinta yang ingin Amira dapatkan dari pasangannya harus menempuh jalan yang sulit, karena tidak ada cinta pada hubungan singkat seperti hubungannya dengan Dirga, terlebih saat menjadi suaminya, Dirga telah memiliki perempuan lain yang terlebih dahulu Dirga cintai, jadi Amira bergikir harus mengubur harapan untuk memiliki suami hangat seperti yang didapatkan Kinan dalam dalam.


Amira cemburu karena Kinan mendapatkan apa yang dia impikan, Amira kemudian pergi dengan kecewa.


...


"Uuhh laparnya aku," desah Kinan, ia telah kembali dari menjemput makanan yang diantarkan kurir food pesanannya.


Didepannya Aim berbaring sambil menatap Kinan terus menerus.


Aim hanya tersenyum kecil, "Aku tidak akan berhenti menatap mu, karena seluruh dunia ku, kebahagiaanku semua ada dimata mu"


Kinan mendelik, "Gombal," desisnya ditengah mengunyah makanan.


"Heemm,. Kemari lah!" Aim menggerakkan telunjuk, meminta Kinan mendekat, "Bawa makanan mu"


Mengeluarkan kata kata bantahan, Mendorong makanannya kesisi dekat Aim.


"Ada apa? ada yang kamu perlukan?" tanya Kinan sebelum duduk disamping Aim.


Saat Kinan telah duduk Aim langsung memeluknya, "Aku hanya ingin memelukmu saja" katanya manja.


"Mau makan, Bos?" Kinan sambil meng-asongkan makanan yang dipegangnya.


"Tidak, aku mau pulang dan memakan mu, sepertinya itu lebih menyenangkan"


"Kau akan menelan ku bulat bulat?" tanya Kinan datar ditengah mengunyah makanannya.


Aim terkikik sambil mengendus leher Kinan, "Ia, saat anaconda sudah bangun dari tidurnya maka kamu tidak akan bisa berbuat apa apa lagi,"


"Benarkah? aku sangat takut," bergidik ngeri "Bolehkah aku mematahkan lehernya?" Kinan menoleh dengan ancaman.


Aim terkesiap, sontak memundurkan kepalanya sedikit menjauh dari Kinan, "Kejamnya kamu Nan"


"Ini tak lebih kejam dari kamu yang akan memakan ku bulat bulat" -Kinan.


"Oh baiklah, kalau begitu aku tak jadi memakanmu bulat bulat" Kembali memeluk bahu Kinan yang duduk membelakangi kursi, "Aku bisa memakan mu perlahan"


"Itu sama saja" Desis Kinan.


"Tapi setidaknya kamu bisa menikmatinya, perlahan" -Aim.


"Diamlah! aku jadi tidak berselera" pekik Kinan di akhiri dengan tawa geli.


"Pasti karena kamu udang nggak tahan, ia 'kan ia 'kan?" Goda Aim sambil menggerak gerakkan tubuh Kinan.


"Ish, kamu ini nggak lah"


"Kalau begitu kita pulang sekarang Ok, aku akan menghubungi Surya, supaya mengantarkan aku kursi roda. Apa kamu setuju sayang?" Aim terus menggoda istri yang wajahnya telah merah padam.


"Tidak usah, aku pulang, kamu tinggal saja disini dengan Guna, aku pasti tidak akan bisa tidur nyenyak kalau tidur dengan kamu"


Aim tersenyum gemas, "Emang apa yang kamu fikirkan? Ahhh. pasti fikiran kamu udah kemana mana, ya 'kan ya 'kan?" goda Aim sambil menggelitiki Kinan.


Kinan sampai tertawa terus menerus karena godaan suaminya.


"Sudah hentikan, mas. Perutku bisa sakit"


"Aku tidak akan berhenti sampai kamu mau mengakuinya," Aim pun ikut tertawa tatkala Kinan membalas perbuatannya.


Kinan menaiki perut Aim dan balas menggelitikinya "Rasakan ini, rasakan ini!"


"Ampun, ampun, ampun Sayang. Aku berhenti ok," Aim pun angkat tangan tanda menyerah.


"Hore, sepertinya aku menang" Teriak Kinan.


Kinan hendak turun dari perut Aim namun lelaki itu dengan cekatan menariknya, hingga terjatuh diatas dada, dengan posisi bibir jatuh diatas bibir Aim.


Eeekkk..


Terdengar suara pekikan kecil yang ditahan, namun terus hilang saat bibir mereka bersentuhan.


Dengan cepat Aim mel***tnya, menahan pinggang Kinan agar ia tidak lari kemana mana, memberinya sentuhan lembut sambil menuntun gerakkan, kini Kinan mulai mendominasi membuat permainan tidak kaku seperti sebelumnya.


"Nikmatilah Sayang, saat kamu merasa tertekan kamu bisa melepasnya" pinta Aim lembut, namun kali ini Kinan sedikit menggila, diluar dugaan.


"Kau menikmatinya?" tanya Aim, Kinan mengangguk sambil tersenyum kecil.