
Sementara Kinan dan yang lain melongo, memperhatikan prilaku perempuan yang menyeruduk Amora, hingga di akhir saat kepala perempuan itu membentur Vas mereka semua tertawa walau tertahan.
Amor menoleh kebelakang, dada bidang membentenginya, tangan kekar memeluk tubuhnya, Amor mendongak senyum hangat terbit dari bibir lelaki dibelakangnya.
"Kamu tidak apa apa?" Suara itu membuat Amor spontan melepaskan diri.
"Maaf, aku tidak sengaja" ucap Amor tidak enak.
"Bukan kamu, aku yang sengaja merangkul kamu" perkataan ini membuat wajah Amor memerah gugup, "Perempuan itu cukup gila kamu bisa terluka olehnya" lagi lagi perasaan Amor mengembang dibuatnya.
Amor berkali kali berterima kasih kepada lelaki yang baru menolongnya ini, lelaki itu hanya menyunggingkan senyum yang membuat Amora salah tingkah.
Setelah terkikik geli menertawakan perempuan yang menyeruduk Vas tadi Kinan baru sadar dan ingat akan keadaan Amor.
"Amor," Kinan menoleh mencari keberadaan Amor yang kala itu berada di dekapan Dokter Surya.
Ketika melihat itu Kinan langsung memalingkan perhatiannya dan berpura pura tidak melihat, dalam hati tertawa gemas melihat adegan kikuk mereka berdua.
Beberapa orang menghambur mendatangi perempuan yang menyundul Vas tadi untuk membantunya berdiri.
Dia adalah atasan, tentu banyak orang mencoba mencari perhatian dengan bersimpati padanya.
Amor tersenyum Kikuk sambil membenahi diri, Amor sungguh tak bisa mengendalikan hati untuk tidak terkagum kagum dengan wajahnya yang rupawan, bahkan Amor juga dibuat tersapu malu oleh Dokter Surya.
Fikiran pun telah berjalan kemana mana,
Padahal yang dia tanyakan sebatas "Kamu tidak apa apa?" Yang ditanya badan tetapi yang tersentuh hatinya.
"Aku baik baik saja. Terima kasih" ucap Amor akhirnya. Surya mengangguk, tak masalah.
"Kinan" panggil Surya kemudian.
Kinan yang sedang mengalihkan perhatiannya menoleh dengan pura pura belum melihat Surya sebelumnya.
"Ya" sahut Kinan.
Surya berjalan ke dekat Kinan, menyerahkan sebuah kartu nama seorang Dokter spesialis kandungan kepadanya, "Aku diminta Aim untuk memberikan mu ini" menyerahkannya kepada Kinan.
Amor dengan tidak sengaja berjalan mengikuti Surya.
Kinan menerimanya, kemudian berkata setengah berbisik, "Jangan sebut nama itu didepan banyak orang" Kinan mengingatkan dengan nada tidak enak, "Lagi pula kenapa nggak nelpon aja, biar nanti aku yang ambil ketempat mu, kau tidak perlu datang ketempat ku. Dan lain kali hati hati saat menyebut nama Mas Aim disini" ringis Kinan, tidak nyaman dengan sekitar.
"Lah kenapa? Dia Suami mu, apa kau tidak ingin mengakuinya?. Sungguh miris kau Im, (Menyayangkan) padahal dia sangat tergila gila oleh mu Nan, tapi istrinya bahkan tidak mau mengakuinya"
"Sttttt.. aku tidak bermaksud demikian, tapi aku punya alasan untuk ini" jelas Kinan, dan Surya hanya mengangguk seolah paham.
"Oh tunggu!" Surya tampak sedang meneliti baju yang dipakai Kinan, "Jadi kamu perempuannya?" Tunjuk nya sambil tersenyum.
Kinan mengikuti telunjuk Surya yang terarah ke baju yang di pakainya, "Baju ini lagi?" Kinan mendengus kesal lagi saat seorang Surya pun ikut meneliti pakaiannya.
"Ada apa dengan baju ini?. Kenapa banyak mengundang perhatian orang lain? kau! kau tidak mungkin menginginkan baju ini juga 'kan?" Menghentak hentakkan kakinya karena frustasi.
"Ohh itu." Surya menggaruk tengkuk yang tak gatal, "Aku hanya mengingatkan agar kamu menjaga dress spesial ini dengan baik, ini langka loh Nan" ucapan ini membuat Kinan mengernyit lagi dan lagi.
Ada apa dengan baju ini, kenapa terdengar sangat spesial, fikir Kinan.
"Apa ini?" Tanya Kinan setelahnya. Membolak-balik kartu yang diberikan Surya, "Obgyn Bima" sebut Kinan.
"Dia adalah Dokter ahli kandungan, besok kau harus menemuinya. Aku telah menjadwalkan pertemuan kalian besok jam 3 sore" -Surya.
"Baiklah. Mm kau datang kemari hanya untuk memberikan ku ini?" Menunjukkan kartu tersebut.
"Suamimu yang memaksa aku" Surya memasang wajah kecut dan kesal atas perintah tersebut, hal ini membuat Kinan terkekeh geli, "Kau fikir dia bisa melihatku tenang sedikit saja? Dia sungguh membosankan" timpal Surya mendesis kesal.
"Aku rasa dia bukan hanya protektif tetapi over, bukan bukan, tapi hampir gila oleh mu Nan," Surya menggeleng-geleng saat menjelaskan itu kepada Kinan, seolah tidak mengerti dengan perubahan sikap Aim yang sekarang.
"Kamu beruntung mendapatkannya Nan, udah ganteng, perhatian dan care, kaya lagi. Bener bener impian semua perempuan" timpal Amor.
Tersenyum bangga "Terima kasih Mor," mengusap bahu Amor.
"Aku juga seperti itu loh" godanya sambil mengedik bahu Amor, lekas Amor pun dibuat tersipu atas ucapan tersebut.
Kinan balik berbicara dengan Surya "Baiklah bilang terima kasih padanya, bilang aku tersanjung dengan perhatian dia"
"Ah, kau bilang sendiri saja pada lelaki itu. Aku malas melihat ekspresi senang diwajahnya" tolak Surya mendelik geli, lagi lagi Kinan terkekeh.
"Baiklah terima kasih telah repot repot datang kemari untuk mengantar ini, Dokter Surya,"
"Pastikan kau menemui Dokter Bima besok, kalau tidak" ucapan Surya menggantung membuat Kinan penasaran.
"Kalau tidak kenapa, Dok?"
"Aku yang repot menanggapi omelan suamimu" dengus Surya.
"Baik, aku berjanji tidak akan melupakannya"
Ok, Surya membulatkan dua jarinya.
"Kamu lupa aku yang tersiksa" tambah Surya dengan nada frustasi.
"Jangan khawatir aku pasti akan datang" berkata dengan penuh keyakinan.
Ditengah pembicaraan itu, beberapa orang telah lewat sambil membopong perempuan yang menubruk Vas tadi, mereka tampak khawatir karena perempuan itu terlihat kesakitan memegangi kepalanya.
Mereka bertiga kompak hanya melirik tanpa simpati yang ada malah terkikik senang melihatnya.
"Drama yang menakjubkan" kata Surya sambil tertawa kecil, berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh perempuan tadi, mata Surya berjalan mengikuti langkah orang orang yang membopong perempuan itu, masih dengan lawaknya.
Bagitu juga dengan Kinan, ia tak bisa menahan tawanya ketika membayangkan kembali saat kepala perempuan tadi menubruk vas didepannya.
"Seharusnya dia tidak hilang kendali" luruh Kinan sambil terkik geli.
"Ini akan menjadi hal memalukan untuk dia" timpal Amor ikut trkikik.
"Mau di bawa kemana?" tanya Amor setengah mengejek.
"Kelinik" teriak salah satu yang membopong perempuan itu.
"Hati hati di jalan, jangan sampai kali ini dia menyeruduk beton, kan nggk asik, pulang pulang harus benjol lagi" sindir Amor senang bukan kepalang,. tekiki lagi. Mereka bertiga sungguh tak bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa.,
"Semoga keliniknya buka dan dokternya ada ya!"
Surya menimpal ucapan amor,.sama sama berharap keliniknya kosong tanpa penjaga.
"Bawa dia dalam keadaan sadar dan baik ok," ucap Amor menambahi.
"Tapi tunggu," Kinan merasa ada yang janggal, "bukankah Kau Dokter? kenapa tidak kau urus aja dia?"
"Maaf, tapi hari ini aku banyak sekali tugas" elak Surya malas.
"kau memiliki tugas?" tanya Kinan tak yakin, "Bukankah kau sedang berdiri?"
"Sttt sudah, aku sedang cuti" kilahnya lagi.