Oh My Boss.

Oh My Boss.
122



"Im"


"Loe tadi super seper lucu," terkikik menoleh wajah Aim yang tampak menyimpan kekesalan karena merasa hilang wibawa. "Wajah tampan rupawan, gagah. Merangkak di lantai hanya untuk menemui sang istri" tambahnya geli.


Wajah Aim semakin di perburuk dengan cercaan Guna ini, mendecak kesal. Tetapi tak ada yang di katakan nya, selain hanya mendengus.


Menatap nanar ke kaca jendela, "Gue sekarang ini merasa belaga kayak selingkuhan om om. Gue mengendap-endap, kabur menghindari istri sah, bener nggak sih Gun, Gila 'kan?" Aim menggeleng bingung dengan dirinya sebagi suami yang ingin juga di pamerkan istri bukan di sembunyikan sedemikian rupa.


Guna kembali terkikik saat melihat ekspresi kesal di wajah Aim.


"Padahal di tempat ini gue lah yang paling berkuasa. Tapi kenapa Gue yang terlihat bodoh?" Cerca Aim, lagi lagi mendengus.


"Padahal ini baru satu orang loh Im, menurut loe sampai kapan loe bakal nyembunyiin pernikahan ini. Dan sandiwara apa yang akan loe buat jika tiba tiba dunia mengetahui pernikahan loe dengan Kinan?. Apa loe bakal sanggup menerima spekulasi orang sebanyak itu?"


Aim termenung sesaat.


"Bukan Gue yang mau nyembunyiin pernikahan ini tapi Kinan"


Guna menoleh dengan wajah terkejut. Padahal sebelumnya Guna mengira Aim lah yang akan menyembunyikan pernikahan ini.


"Padahal gue nggak peduli dengan orang orang yang akan mencerca pernikahan gue.


Gue juga mau membawa Kinan jalan jalan, bergandengan tangan tanpa takut. Tetapi Kinan," suara Aim terdengar keberatan saat harus terpaksa mengatakan kesetujuannya dengan permintaan tesebut.


"Gue harus memikirkan dia juga Gun." Benar benar berat, "Seperti yang loe bilang'kan Kinan pasti belum terbiasa, Kinan pasti kesulitan, untuk itu Gue bakal mengikuti saran dia, gue setuju menyembunyikan hubungan kita agar Kinan tidak tertekanan. Terlebih,." suara Aim tiba tiba melemah, "Kinan mengetahui kalau Ayah menentang pernikahan kita, gue yakin saat ini Kinan sangat kesulitan. Tapi, Gue harap Ayah bakal cepat luluh dan mau menerima Kinan"


Guna kembali menoleh dengan wajah tidak percaya. Tidak menyangka hubungan Kinan dan Aim menuai kontra dari keluarganya sendiri.


"Tapi, Om Arman selalu memiliki tekad kuat, apa bisa meluluhkannya secepat itu?" Guna merasa tidak yakin jalan mereka akan mudah.


Aim bangun dari sandarannya, "Tidak apa apa, selama Kinan masih bersama gue, gue nggak takut apapun sekalipun itu Ayah atau pun anggota keluarga lain. Gue akan meminta Kinan untuk mencoba mencuri hati ayah, namun jika itu tidak berhasil. Tidak apa apa Gue nggak keberatan"


"Sekali pun loe bakal di coret dari daptar waris?" Gurau Guna.


Namun tidak di sangka Aim langsung mengatakan "Ia" seketika mulut Guna mengatup tidak percaya.


Guna menoleh untuk melihat keseriusan di wajah Aim, dan wajah itu tidak bergeming artinya Aim benar benar yakin.


"Im, kekayaan Ayah loe nggak sedikit loh, kamu yakin?" Tanya Guna lagi.


"Gue yakin."


"Tapi di jaman sekarang, ...


Aim memotong "Gun, sekarang bagi gue yang p


terpenting adalah Kinan. Gue tau hidup tanpa kekayaan itu hampa dan sulit, tetapi hidup tanpa seseorang yang kita sayang juga tidak mudah, lebih sakit dari hidup dalam kemiskinan.


Hampir 30 tahun gue hidup dalam kemewahan (Banyak uang), kesenangan, poya poya. Itu memang menyenangkan tetapi 30 tahun yang gue lewati tidak bisa gue bandingkan dengan sehari Gue bersama Kinan, hidup Gue lebih berarti sekarang Gun. 30 tahun kemewahan yang gue punya tidak akan bisa membeli sehari waktu gue dengan Kinan"


Guna menggaruk dahinya, tidak bisa mengerti dengan yang di katakan Aim.


"Gue, nggak paham Im" menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Loe tenang saja, loe bakal paham saat loe bertemu dengan seseorang yang benar benar loe inginkan, loe bakal mengerti dengan yang gue katakan saat ini"


"Bagai mana kalau tidak?" -Guna.


"Mungkin nasib loe sedikit sial Gun" spontan Guna menoleh kesal, tidak terima di katain begitu.


Aim terkikik saat melihat reaksi Guna, sementara Guna masih diam kesal.


"Im, itu Kinan?" Tunjuk Guna, cepat Aim mengikuti arah telunjuk Guna.


Guna segera membawa mobil untuk mendekat ke tempat Kinan berdiri.


Kinan telah menyambut kedatangan mobil dengan senyum manis. Saat di perhatikan lagi Kinan memang sangat cantik, anggun, manis, Magoy Amba yang di kenaka'kan nya menambah kesan elegan di wajahnya yang rupawan.


Sangat pantas jika Aim jatuh cinta dan tergila gila oleh Kinan, karena siapapun akan terpikat sejak pertama melihatnya, Guna pun terkagum kagum dengan Kinan.


"Sayang," sebut Aim, menurunkan kaca mobil dengan tidak sabar menyambut istrinya.


.


"Nan, Nan" panggil Lia dari dalam kantor. Setelah sempat mengambil berkas yang di perlu kannya Lia segera menyusul Kinan untuk mengajaknya pulang bersama, karena Lia tau kalau Kinan tidak memiliki kendaraan.


"Gadis itu kemana sih, cepet banget ilangnya" berlari kecil untuk menyusul Kinan.


"Nah itu dia" Lia melihat Kinan sedang berdiri di luar, terlihat sedang menunggu.


Lia bergegas, namun saat hendak kembali manggil Kinan, Lia melihat sebuah mobil mewah menjemput Kinan.


Lia urung untuk memanggil.


Sejenak menyelidiki siapa yang menjemput Kinan, dan telah memperlakukannya dengan sangat baik.


Dia (penjemput) bahkan rela turun dari mobilnya, menuntun Kinan masuk, bahkan melindungi kepala Kinan dengan tangannya saat masuk kedalam mobil.


Lia kagum dengan perilaku seseorang yang tidak bisa Lia kenali dengan jelas.


Pencahayaan yang remang remang menyulitkan Lia untuk mengenali rupa, warna baju dan warna mobil yang menjemput Kinan sekarang, namun yang pasti lelaki itu tampak sangat men-spesialkan Kinan.


Lia berdiri sambil terus bertanya tanya, meski mobil telah meninggalkan area kantor.


Setelah sempat berfikir lama, Lia akhirnya mendapatkan ide untuk mengikuti mobil yang telah membawa Kinan pergi, Lia sangat penasaran, pasalnya lelaki itu tampak bukan orang sembarangan.


.


Sejak Kinan telah masuk ke dalam mobil, hingga akhirnya mobil meninggalkan Kantor, sampai di perjalanan pun Aim tidak melepaskan genggamannya di jemari Kinan.


"Bagai mana kabar hari mu sayang?" tanya Aim, menatap lama untuk melepaskan semua kerinduannya.


Sebenarnya Aim tidak tahan ingin mencumbu Kinan tetapi setiap kali hendak melakukanya Guna akan langsung mendehem kecil, sehingga suasana sedikit menjadi canggung.


"Hari hariku baik, tapi berkat kamu hari ku sedikit berat." Ucap Kinan dengan nada kesal. Kesal karena Magoy Amba telah mengganggu harinya.


"Kamu ada masalah? kenapa tidak melakukan panggilan dan menceritakannya kepadaku" -Aim.


"Sepanjang hari aku ingin mencari mu, aku bahkan berniat melakukan panggilan, tapi" Kinan merogoh tas yang setia di bawanya kemana pun, "Benda ini (Handphone yang diberikan Aim sebelumya) mati, sampai sampai aku tidak bisa berkutik sepanjang hari. Mas kamu ngerti nggak, bagai mana susahnya aku menjalani hidup dengan gunjingan orang orang?" gerutu Kinan, kesal atas tindakan Aim yang telah memberinya Dress ter wahh sepanjang sejarah Grup LK, dan mengundang pertanyaan dari banyak pasang mata yang melihatnya.


Aim hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan istrinya.


Karena sesungguhnya Aim tidak berniat menciptakan kerusuhan untuk Kinan.