Oh My Boss.

Oh My Boss.
90



"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan hak mu Nan," menatap Kinan dengan tatapan kosong.


Tiga hari sebelumnya.


Aim melihat Mina telah datang kembali menemui Arman, beberapa berkas yang ditunjukan Mina cukup untuk meyakinkan bahwa Amira adalah putri semata wayang Harimaja, namun pemikiran Aim tak skak sampai disitu, dia terus merasa bahwa Kinan adalah satu satunya yang berhak mendapat warisan.


Namun biar begitu ada beberapa hal yang juga menambah kejelasan, dimana Amira mendapatkan rumah peninggalan Harimaja yang sepantasnya menjadi milik Kinan, jika Amira dalalah putri Harimaja lalu kenapa Kinan harus memiliki nama akhir yang sama (Binti Harimaja) dan perbandingan poto masa kecil yang tertinggal mengarah kepada Kinan. Hal ini menjadi pertanyaan yang cukup panjang mengenai siapa sebenarnya putri Harimaja, Kinan Atau Amira.


"Kenapa tidak ada yang se fikiran dengan ku?" desis Aim.


"Mas, Mas, Mas?" Kinan melambaikan tangganya tepat didepan Aim, namun fikiran lelaki itu entah dimana sampai sampai tidak fokus pada panggilan istrinya.


Lalu ketika Kinan memukul pelan pundak Aim, "Mas, kamu baik baik aja 'kan?" Tanya Kinan khawatir.


Aim mengerejab sadar dari lamunan panjangnya, "Ah, ia. Maaf" mengusap wajah gusar "Aku tidak mendengarkan mu," sedetik kemudian menyunggingkan senyum menatap dengan hangat "Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?"


Kinan menggeleng, "Tidak, kamu melamun? Ada apa?"


Aim mengurut dahinya yang penat, "Tidak, aku hanya sedikit mengantuk. Apa kita sudah bisa pulang sekarang? Aku mau istirahat" Aim mengalihkan perhatian. Kinan kemudian mengangguk.


"Aku udah selesai Kok, kita pulang sekarang juga, menyelempang tas berukuran sedang lekas mendorong kursi roda Aim.


"Tasnya biar aku yang bawa," merebut tas yang hampir digendong Kinan membawanya di atas pangkuan.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Kinan.


"Tidak, lagian tasnya tidak begitu berat,"


Kinan tersenyum kecil, "Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang"


"Sayang?" panggil Aim.


"Ya" -Kinan.


"Setelah yang aku lihat dari Amira. Kamu dan Amira., Kalian berdua terlihat tidak akur, aku lihat Amira sedang mencoba menyaingi kamu? Apa kalian berdua selalu seperti ini?"


Kinan menghela kasar, "Hubungan aku dengan Amira memang tidak pernah membaik, entahlah.. padahal aku selalu menganggapnya adik kandungku, tapi dia selalu menganggap aku sebagai pesaingnya"


"Jadi maksud kamu., Kamu dan Amira bukan,... Hubungan kandung?" -Aim.


"Ya, Amira adalah anak angkat, yang ayah bawa ketika aku berusia empat puluh hari, dan ketika itu Amira baru berusia dua minggu. Namun biar begitu aku selalu menyayangi dia seperti adik kandungku sendiri"


Aim tampak berfikir sesaat,


"Ibu meninggal disaat melahirkan aku, lalu Ayah menikahi tanteu Mina yang saat itu membawa bayi Amira," imbuh Kinan. Kinan menghentikan langkahnya ketika hampir masuk kedalam taxi panggilan "Ah, ia. Aku lupa, Mas kamu tunggu sebentar ya"


Aim menoleh, "Ada apa sayang?"


"Aku kembali sebentar ya, ada sesuatu, aku lupa" setelah menguncikan roda Aim, Kinan lantas lari, kembali kedalam kamar kost.


Aim menunggu beberapa saat, tak perlu waktu lama Kinan pun kembali, dan tampak memasukkan sesuatu kedalam tasnya, sekilas Aim sempat melihat benda yang Kinan bawa tetapi tidak jelas.


"Tampaknya itu sebuah photo, apa dia masih menyimpan gambar orang lain?" Batin Aim menjadi jadi.


Seketika Aim diam penuh pertanyaan.


...


Sekembalinya dari kontrakan Kinan.


Kinan meletakkan tas kecil yang di selempangnya, "Mas, aku tinggal sebentar buat bikinin kamu makan ya" setelah mengambil tas dari pangkuan Aim.


Aim diam, yang dia inginkan saat ini bukan makanan, pertanyaan yang menggulung dibenaknya sepertinya ingin keluar, tetapi takut jadi salah paham dan akhirnya Aim hanya diam.


Setelah mengunci roda, Kinan gegas menuju dapur.


"Apa mungkin Kinan masih memiliki kekasih? Apa aku telah memaksanya menikah, disaat dia masih dengan yang lain? Tapi siapa orang itu? Kenapa Kinan tampak tidak ingin aku tau?" Tanya Aim dalam batin sambil terus memperhatikan gerak gerik istrinya menyiapkan makanan.


"Ah, Mas kamu mengikuti ku? Kenapa tidak tunggu diruang makan saja?" Tanya Kinan tanpa menoleh kepada Aim, sementara Kinan cukup sibuk menyiapkan semua bahan untuk makanan suaminya.


"Aku, aku jenuh duduk sendirian" kilah Aim jutek.


"Oh baiklah, apa kamu mau aku kupasin buah?"


"Tidak, aku tidak ingin memakan apa pun" masih bernada dingin.


..


..


Mm, Nan. Apa kamu tidak ingin menjelaskan apa pun kepadaku?" Tanya Aim, pertanyaan yang di endap itu akhirnya keluar juga, Aim sungguh tidak bisa mengendalikan kecemburuannya pada photo itu, tetapi Aim tidak bisa lancang melihatnya langsung.


"Mm" Menoleh kearah Aim penuh fikir, berjalan perlahan sambil mengernyit, "Sebenarnya tidak ada yang ingin aku katakan, cuma karena kamu sudah bertanya maka terpaksa aku akan bertanya"


"Katakanlah" -Aim.


"Kamu memberitahu Amira soal sakit kamu, Mas? Apa kamu sengaja ingin dijenguk olehnya?" Kinan enggan untuk bertanya tapi kedatangan Amira cukup mengganggunya sekarang, dan mengundang api cemburu dihatinya.


Aim mengernyit, karena bukan pertanyaan itu yang dia inginkan sekarang.


"Aku? Amira? Bukannya sudah aku katakan ya? Kalau Guna yang memberi tahu dia?" -Aim.


"Mm kapan? Sepertinya kamu belum mengatakannya" -Kinan.


"Baiklah. Dia datang karena Guna, dia yang memberitahunya dan perlu kamu tau, aku tidak pernah mau seorang pun menganggu waktu kita, tidak Surya, Guna, apalagi Amira" desis Aim kesal, lagi lagi bukan ini yang ingin ia bahas sekarang.


Kinan mencebik.


"Apa jawabanku sudah cukup?" -Aim.


Kinan hanya mengangguk tipis.


"Sekarang giliran aku yang bertanya,"


"Bertanya Apa?"


"Saat kamu memutuskan menerima pernikahan, apa sedang ada laki laki lain dihati mu? Apa aku mengganggu hubungan kalian? Apa aku mematahkan hatimu?" Tanya Aim. Pertanyaan yang sangat ngawur sehingga membuat Kinan merasa aneh sendiri.


"Hubungan? Aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun,"


"Dia masih saja mengelak" batin Aim.


"Apa kau sungguh sungguh?.


Jika ada seseorang yang kamu cintai selain aku, kamu katakan saja, aku tidak keberatan" ketus Aim. Kecemburuan membuat mulut Aim berkata sembarangan.


Kinan semakin mengernyit dalam, tertawa kecil saat menanggapi pertanyaan itu, "Kamu kenapa sih Mas? pertanyaan kamu ini loh, aku nggak ngerti"


"Masa nggak ngerti sih, kamu tinggal bilang kalau kamu masih menyukai orang lain, apa susahnya?" Tekan Aim.


"Tapi aku tidak sedang menyukai siapapun, Mas. Kamu kenapa sih? Ada yang salah dari aku?" -Kinan semakin tidak mengerti, apalagi saat ini mendapati sikap Aim yang sedikit aneh.


Aim diam lalu memalingkan wajahnya.


"Lihat aku sekarang Mas," Memegang dagu Aim dan menatap irish matanya dalam dalam, "Katakan! Katakan salahku dimana? Katakan siapa lelaki yang kamu curigai? Aku akan menjelaskannya untukmu"


Ditatap demikian Aim pun menjadi gugup, "Kamu yakin tidak mempunyai lelaki lain?" Kinan mengangguk , "Lalu siapa yang ada didalam photo itu?" tanya Aim lagi.