
Lia
Mendengus berkali kali, memukul stir dengan kesal, hingga tidak sengaja menyalakan klakson di tengah jalan yang macet, hingga mendapat teguran karena menurut orang orang Lia tidak sabaran dalam mengantri kemacetan.
Padahal Lia hanya sedang kesal dan melampiaskannya pada setir, kesal karena telah kehilangan jejeak mobil yang membawa Kinan.
.
Keesokan harinya.
Aim menatap bayangan dirinya, lilitan handuk se pinggang rambut kelimis, dada lebar tegak ia pamerkan di depan cermin.
"Shina terima kasih atas obat yang setiap malam kamu berikan kepadaku, kau telah melakukan hal yang benar. Jika bukan karena obat itu, aku mungkin tidak akan bisa menikahi Kinan dengan tenang. Sekarang aku sudah tidak marah lagi kepadamu Shin." gumam Aim dalam hatinya.
Aim berkali kali mengulum senyum bangga tatkala melihat bercak merah, jejak tanda yang Kinan tinggalkan di lehernya.
Aim terus menatap dirinya dengan tanda tersebut, tiba tiba tersirat fikiran untuk mengulangi ke indahan yang tercipta tadi malam.
Dengan senyum penuh semangat Aim bergegas menuju tempat tidur.
"Perempuan cantik itu pasti masih tidur" ucap Aim di tengah melangkahkan kakinya.
Saat melihat ada gundukan yang di balut selimut di atas tempat tidur, tanpa fikir panjang Aim langsung melompat dan meluknya sambil memanggil dengan manja, "Sayang" menindihnya dengan penuh semat.
Tidak mendengar sahutan, akhirnya Aim bergerak untuk memeriksanya. Aim melongo saat melihat hanya ada bantal guling yang di balut selimut tebal.
"Kinan?" Sebut Aim khawatir, Aim mengira Kinan telah pergi meninggalkannya. Terduduk hampa terpancar wajah sedih di mata Aim.
Melihat tingkah Aim, Kinan terkikik gemas, Kinan yakin bahwa Aim menganggap dirinya masih di bawah selimut.
Spontan Aim menoleh, mendapati istrinya mengulum senyum, seketika air muka Aim berubah hangat.
"Sayang," turun dari tempat tidur untuk pergi mendatangi Kinan yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Apa yang sedang kamu lakukan Mas?" Tanya Kinan, dengan masih tertawa geli, "Apa kamu mengira aku masih di tempat tidur" tanya Kinan...
Aim datang langsung memeluk Kinan dengan penuh kasih sayang, "tidak seperti itu, aku takut sekali Nan"
Memeluk Kinan erat, menumpahkan rasa tidak ingin kehilangan, "Takut apa Mas?" Kinan mengernyit saat Aim mengatakan demikian.
"Aku takut kamu pergi" -Aim.
"Kamu pergi meninggalkan ku" berkata tanpa melepaskan pelukannya, meski Kinan mencoba menjauhkan tubuh Aim.
Kalimat tersebut terucap dari hati yang paling dalam.
"Mas kamu kenapa?" Tanya Kinan lagi, Kinan sungguh heran dengan sikap suaminya yang tiba tiba sangat manja.
"Tidak, aku hanya sangat takut kehilangan kamu, sehingga saat kamu tidak ada di tempat mu aku langsung berfikir kamu pergi meninggalkan aku" -Aim.
"Mas, kamu kenapa? Pagi pagi gini kok udah lebay," berkata sambil terkikik geli, padahal Kinan sangat tersentuh dengan ucapan Aim barusan, Kinan hanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mata Aim mengatakan betapa ia sangat takut kehilangan Kinan.
"Mmm. Sayang jangan pergi ke mana mana ya,"
"Mas aku tidak ke mana mana, aku hanya pergi membuat ke dapur. Tadi aku melihat kamu masuk ke ruang ganti, untuk itu aku bangun dan membuatkan sarapan sederhana untukmu" Kinan mencoba menjelaskan.
"Tetap saja, kemana pun kamu pergi kamu harus izin dulu sama aku, aku tidak mau kamu pergi ketempat yang aku akan kesulitan untuk menemukan kamu." -Aim.
"Tapi Mas, aku cuma ke dapur loh, udah ya, melihat kamu seperti ini. Aku merasa seperti kehilangan sosok Aiman yang kritis saat membimbing rapat akan berkata dengan lugas dan memutuskan dengan tegas. Sekarang aku malah merasakan seperti sedang membujuk sosok anak SD yang tidak mau di tinggal mama nya ke pasar"
"Benarkah begitu?" Tanya Aim tidak yakin bersikap demikian.
"Ia. Mas, sekarang boleh lepaskan pelukan kamu? Aku sesak dan perutku terasa sempit" lirih Kinan.
Barulah Aim mau melepaskan pelukan sesaat setelah Kinan berkata demikian.
Mendekatkan wajahnya ke perut Kinan, "Sayang" mengelus perut Kinan yang mulai ada sedikit bentuk, di kehamilannya yang menginjak usia 16 minggu,. "Ayah minta maaf ya Nak! Ayah tidak ada niat membuatmu tidak nyaman." Aim sesaat mendongak, "Sayang, apa di dalam sini (Menempelkan tangannya dengan hati hati) sudah ada pergerakkan? tanya Aim tidak sabar
Aim menatap bibir Kinan yang akan mengatakan Ia atau tidak, Aim menjadi tidak sabar untuk menunggu.
Kinan berfikir sesaat, sengaja membuat demikian agar Aim penasaran.
"Mmm.. ada sedikit" jawab Kinan, Aim menganga senang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya .
Mengecup perut dengan bangga, "Nak, tubuh dengan sehat ya, ayah di sini akan sangat sabar menunggu kamu" sesekali memberikan kecupan di perut Kinan, dan mengusapnya dengan sayang.
Kinan tidak bisa berkata kata lagi, setiap kali Aim berperilaku hangat seperti saat ini perasaan Kinan akan selalu dibuat kembang kempis. Kinan sangat bangga bisa memiliki sosok Aim yang terus meRatu kan dirinya.