
Rania tidak pernah main main kata katanya.
Tiba tiba ke esokan harinya posisi Kinan sudah ada yang menempati, Amor yang biasa duduk di samping Kinan sempat di buat bertanya tanya, terlebih saat barang barang Kinan sudah di kemas di dalam dus besar.
"Kenapa kau disini? Kenapa kau menempati tempat teman ku bekerja?" Tanya Amor dengan suara sedikit tinggi, Amor merasa ini lancang.
"Aku hanya di perintahkan, kau siapa beraninya mengaturku?!"
"Kau!" Amor menunjuk, "Siapa yang menyuruh mu? Kau tidak tau kalau orang yang bekerja di sini memiliki posisi penting di dalam keluarga pemilik perusahaan"
"Oohh," Tersenyum picik, "Jadi kau ingin mengatakan kalau teman mu itu punya orang dalam begitu maksudmu? Siapa? Apa dia berkuasa di perusahaan?"
"Ya, dia sangat berkuasa. Jadi lebih baik sekarang kau pergi saja sebelum kau di depak dengan tidak sopan!" Pekik Amor.
Tiba tiba dari belakang terdengar suara melengking memotong ucapan Amor.
"Siapa yang lebih berkuasa di banding aku?" Rania bersidekap dada berjalan angkuh ke dekat Amor.
Amor merengkuh memberi hormat, begitu juga dengan pekerja baru yang menggantikan Kinan, Amor diam tak bisa menjawab.
"Cukup lancang juga kau! Sikap teman memang selalu menjadi gambaran teman yang lainnya, kalian berdua memang sangat serasi" sindir Rania kepada Amora, Amor hanya bisa diam saat mendapat sindiran tersebut dengan tangan mengepal erat, tidak terima di kata'i demikian.
"Kau!" Menunjuk pekerja baru, "Tidak akan ada siapapun bisa menyingkirkan kamu sekalipun dia istri Boss!" Rania menekan kalimat terakhir dengan sudut mata menoleh ke arah Amor.
"Tapi Bu, bagai mana dengan teman saya? Dia di pindahkan ke devisi mana?" Tanya Amor.
Rania tertawa samar, "Devisi kau bilang? Dia ku depak! Makannya lain kali jangan so' jadi orang penting, ku tendang baru jadi gelandangan, bukankah begini lebih baik?" Rania berkata dengan angkuhnya.
Sampai sampai Amor tak habis fikir bila berada di posisi Kinan, posisi yang setiap saat akan tersudut dan di hina, Amor menghela, menarik ulur nafasnya berulang ulang, perkataan Rania benar benar keterlaluan.
Amor terdiam kaku mencoba mengendalikan emosinya yang ingin meledak, "Jadi menantu orang kaya juga baik, tapi di hina seperti ini sungguh tidak punya hati"
Namun Amor tak menjawab, Amor tidak ingin mengucapkan kalimat yang akan menyakiti hati Kinan, tetapi Kinan terus merasa penasaran dan melihat apa yang janggal.
Hingga saat melihat di mejanya sudah ada yang duduk Kinan langsung mengerti.
"Kau kah perempuan yang dia bilang memiliki hubungan keluarga dengan pemilik perusahaan?" Tanya Rania bernada dingin dan menusuk.
Kinan hanya diam dan menunduk.
"Nan, jawab!" Amor menyenggol menyuruh Kinan untuk mengakuinya, namun Kinan masih diam, lamunannya kembali ke perkataan Rania saat di pesta "Seharusnya kau sadar! Di sini bukan tempat mu" dan ucapan itu pun berlaku untuk dirinya sekarang.
Kinan sudah melihat barang barangnya telah di kemasi, itu artinya si sini bukanlah tempatnya.
"Mor!" Kinan menoleh sesaat, kedip matanya mengatakan kalau dirinya tidak kenapa kenapa.
"Tapi bu, ini sungguh tidak manusiawi" Amor.
"Siapa kau? Kau sedang menggurui ku? Kau diam! Atau ku buat kau seperti dia!" Ancam Rania.
"Tapi apa salah saya?" Tanya Kinan hati hati.
"Setelah malam tadi, kau masih berani bertanya apa salah mu? Dasar perempuan tak tau diri!" Pekik Rania .
Hingga akhirnya hanya Kinan sadar, ternyata itulah alasan kenapa dirinya di depak dengan tidak hormat.
"Dan ingat! aku tidak akan membiarkan siapapun berkuasa di dalam perusahaan ku." Lagi lagi tatapannya terarah kepada Amor "Dengar baik baik! hari ini ku depak kau dari perusahaan, besok atau lusa kau akan didepak dari hidup putraku'?" Ancam Rania.
Rania berkali kali kali mengucapkan kata kata menyakitkan kepada Kinan, Kinan hnya bisa mengelus dada.
"Sudah ku tebak ke inginan perempuan Miskin seperti kalian! kalian hanya menginginkan hartaku. Cepat katakan jumlahnya, dan mulai sekarang enyah lah dari kehidupan putra ku!"