
Keadaan Marcel sangat kritis, Dokter masih terus memantau keadaan nya.. sementara Mai, ia terlihat Bingung.. tidak mungkin jika dia melakukan pemakan sndirian.. tidak mungkin jika Marcel tidak melihat putri nya untuk terakhir kali.. dia termenung sendiri..
"Cell.. aku harus bagaimana..? aku tidak bisa memakam kan Sherina tanpa kau.. Cell kau harus segera sadar.. agar kau bisa melihat putri mu.." batin mai, Rasa nya dia sudah tidak bisa menangis lagi..
"ibu, kita tidak bisa terus membiarkan Sherina..!! kasihan dia bu.." ucap Rafa, menyadar kan Mai dari lamunan nya.. Mai terdiam.. "Saya bingung Rafa... tidak mungkin, saya menguburkan nya tanpa Marcel.. tapi keadaan Marcel seperti ini.." jawab nya,..
"Bu, saya yakin, pak Marcel mengerti.. ini sudah dua hari bu... kitta tidak mungkin terus membiarkan Sherin seperti ini.." jawab nya.. Mai menghela Nafas panjang.. "Baiklah, persiakan pemakaman nya.. kita akan menguburkan nya besok.." jawab Mainaka.. dengan berat dia mengambil keputusan itu..
Rafa mengangguk. dia segera menyiapkan pemakaman untuk Sherina.. "Maaf kan aku Cel.. tapi ini yg terbaik untuk Sherin.. dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi..." batin Mainaka.. dia tertunduk Sedih..
Dia masih tidak percaya dengan kejadian yg terjadi, Sherina pergi terlalu cepat.. Kecelakaan itu, menghancurkan segala nya.. Marcel dan juga Sherina..
ke'esokan hari nya..
Semua orang sudah berkumpul di sana, mereka bepaaian serba hitam.. awan mendung menyelimuti Area pemakaman itu, seolah ikut bersedih, mengatarkan seorang gadis kecil, ke tempat peristirahatan terakhir nya..
Tagis Mai pecah, saat melihat jenasah Sherin di masukan ke liang lahat.. "Maafkan Bunda Nak.. bunda tidak bisa menunggu ayah mu, lebih lama lagi.. bunda tidak bisa jadi yg terbaik untuk mu.. maafkan bunda.." lirih nya
tidak berselang lama Mai kembali ke rumah sakit.. "Cel.. aku udah memakam kan Sherina..!! aku menunggu mu bangun cell , tapi sherina tidak bisa menunggu.. maaf kan aku.." ucap nya, dia mengegam tangan Marcel, yg masih belum sadar kan diri nya.
Mai menangis sendiri.. dia menyalah kan diri nya sendiri.. "Andai saja sore itu, dia saja yg pergi.. mungkin kecelakan itu tidak akan terjadi.. Sherin dan Marcel masih ada bersama mereka saat ini.." batin nya..
Walau pun Sherina bukan putri kandung nya, tapi dia benar-benar menyayangi nya.. Mai terus menggegam tangan Marcel.. tiba-tiba saja jari-jari nya bergerak.. Marcel mengigau.. "Sherin... Sherina...!!" lirih nya
Mai semakin sedih melihat nya,. dia bingung, harus mengatakan apa jika Marcel sadar dan mencari Sherina Nanti.. "Cel.. maafkan aku.. maafkan aku.." ucap nya
Rafa menghampiri nya..
"Bu.. kita harus ke kantor polisi.." bisik Rafa.. Mai terkejut.. "kantor polisi..? untuk apa" jawab nya.. Rafa terdiam dia agu memberi tahu mai.. "Kecelakaan pak Marcel di sengaja.. dan polisi meminta ibu, untuk memberi keterangan.." jawab nya..
Mai terdiam.. dia tidak percaya dengan semua nya...
**bersambung**