
Keadaan Leo mulai membaik, dia hanya perlu beberapa hari untuk beristirahat.. "Ra.. kau kapan bangun.. kau tidak bosan tidur terus? kau tidak merindukan Anak-anak mu..? mereka merindukan mu!!" ucap Leo sendiri..
Menggegam tangan nya,, Sesekali mengusap pipi nya, "Aku akan mencari wanita itu.. dia yg telah membuatmu jadi begini, maafkan aku Ra, karena kebodohan ku, kau jadi begini .. anak -anak kita jadi korban ke egoisan ku..!! maafkan aku.." ucap Leo..
Leo membuka laptop nya, dia baru akan memeriksa flashdis yg di berikan Rizal, Leo mengingat apa yg di katakan Velia pada nya, beberapa waktu lalu.. "Ada apa dengan mu Vel, Aku yakin ada sesuatu di sini, hingga kau mendatangi ku" ucap nya sambil mengecek rekaman itu..
Braaak... suara vidio itu mengagetkan siapa pun yg mendengar nya, "tidak mungkin.. Velia tidak bunuh diri, dia di bunuh..! Andin dan Fadly...?!" ucap nya.. leo menjadi geram..
dia mengirimkan file rekaman itu pada Dika...
"Abang, lihat ini.. velia tidak bunuh diri.. dia di bunuh...!!" tulis nya sebelum mengirim pesan itu pada Dika...
"Salah satu orang yg membunuh Adik ku ada di sini!! aku harus menemukan nya dan menangkap nya" tulis nya...
"Le jangan bertindak gegabah..!! aku akan kesana sekarang.." balas Dika.. Namun Leo sudah tidak bisa menahan emosi nya,
Dia keluar meninggalkan Dhira sendirian..mencari Fadly..
Brak.. Leo membuka kasar ruangan Fadly, yg ternyata sudah kosong, "Di mana Dokter fadly?" tanya nya pada salah satu perawat di sana.. "Baru saja dia keluar Dok.." jawab nya..
Leo semakin geram...
"Tutup semua jalan keluar untuk fadly, dan jalan cepat hubungi polisi..!!" ucap leo pada seluruh staf yg ada di sana, mereka menuruti perintah Leo.. "Ada apa sebenar nya!!" bisik yang lain nya.. yg lain hanya menggeleng..
Leo dengan cepat berlari mengejar Fadly yg masih berada di parkiran rumah sakit.. "Tunggu saja akan aku tangkap kau!!" ucap nya sendiri ..
Tiing.. pintu lift terbuka, dengan tenang Fadly keluar gedung rumah sakit itu, dia berpapasan dengan si kembar dan juga Mai.. di pintu keluar.. "Anak-anak Leo..!!" batin nya..
"Anak-anak.. mau bertemu bunda kalian?!" tanya nya.. Ray hanya mengangguk Mainaka menggegam tangan si kembar erat.. "Permisi" ucap Mai.. Fadly mengangguk... "silahkan" jawab nya...
Terlihat Leo yg berlari mengejar Fadly, tanpa sadar si kembar yg satu lift dengan Fadly.. Leo berhenti di depan lift yg yakini di naiki fadly, saat melihat nya di CCTV tadi..
Pintu lift itu terbuka, fadly terkejut melihat Leo ada di depan nya, "Pembunuh..." ucap nya.. Fadly tersenyum .. "Seperti nya kau sudah Tahu?!" jawab nya . dengan tenang Fadly keluar dan menghadapi leo..
"Ayah..!!" teriak Rey yg juga ikut keluar dari lift itu bersama ray dan mai... berlari memeluk Leo.. Fadly tersenyum.. "Aku akan beri hadiah untuk mu..." bisik nya...
"Ray..." panggil nya, Rayna berbalik melihat Fadly...
fadly mengeluarkan sebuah senapan yg dia bawa kemana-mana... DAAR... dia menembak kan pistol itu pada rayna...
AGGHHH... "RAYNA... teriak Mai... Rayna tergeletak bersimbah darah.. "TIDAK,. RAYNA ..!!" teriak Leo..
Leo mengejar Fadly... "TANGKAP DIA... CEPAT TANGKAP DIA..". teriak nya.. Leo berlari berhenti mengejar Fadly..
"Tidak Ray... tidak.. ayah di sini.." ucap Leo sambil terisak.. membawa Rayna ke dalam..
Dia berhasil keluar, dan kabur dari kejaran staf rumah sakit dan polisi yg berusaha untuk menangkap nya..!!
......................
Leo tidak percaya semua yg terjadi begitu cepat, saat ini Rayna di tangani dokter lain, Leo tidak bisa mengontrol perasaan nya.. dia terguncang... Rey yg sedari tadi menangis, tidak mau berhenti, walaupun mainaka berusaha untuk menenangkan nya..
"Apa yg terjadi? kenapa bisa begini? bagaimana Ray..?" tanya Dika yg langsung datang dan menemui Leo di sana..
Mai menepuk bahu suaminya.. "Sudah nanti saja, biarkan kak Leo tenang Dulu.. " ucap mai.. "Lalu Rey? di mana dia"tanya nya.. Mai menunjuk bangku, "Rey tertidur karena lelah menangis.." jawab nya..
Leo berdiri dan meninggalkan Ruang itu, "Biarkan dia, munkin kak Leo ingin menemui kak Dhira! kita tunggu saja di sini" ucap Mai , Dika mengangguk.. "Kenapa semua ini terjadi menimpa keluarga ku aku akan menangkap orang-orang jahat itu" batin Dika.
Leo berjalan gontai, dia tidak menghiraukan ketika Sandy dan Tasya berlari untuk melihat Rayna.. bahkan Leo benar-benar hilang akal.. dia memasuki ruang perawatan Dhira..
menatap istrinya dengan lemah, "Maafkan aku Ra!! aku ceroboh..." batin nya air mata nya menetes dengan sendiri nya..
Leo menggegam tangan Dhira "Aku harus bagaimana Ra?" tanya nya.. tiba-tiba saja jari jemari Dhira bergerak.. Dia membuka mata nya.. "Mas..." lirih nya... Leo terkejut melihat Dhira tersadar dan memanggil nya..
"Ra kau sadar Ra!! aku tidak bermimpi kan?" tanya nya Leo menangis memeluk Dhira.. "Terima kasih Ra kau telah kembali.." ucap nya menangis tersedu-sedu..
Dhira mencari sesuatu. "Jangan banyak bicara, kau masih lemah.." ucap leo , Dhira mengangguk..
"Aku akan memanggil Sandy, untuk memeriksa mu Ra, tunggulah sebentar" ucap nya, Leo berlari mencari Sandy..
"Dhira bangun San.. tolong periksa dia?!" ucap nya ketika bertemu dengan Sandy, semua yg ada di ruangan itu terlihat tenang mendengar Dhira siuman...
"Bagaimana Rayna!!"Tanya nya.. "Dia masih di operasi, mudah-mudahan luka nya ga serius" jawab Dika mencoba menenangkan Leo .. "Pergilah, bawa Rey bertemu bunda nya" ucap Dhika, Leo mengangguk... dia menggendong Rey yg masih tertidur pulas..
"Dimana anak ku? di mana Rey dan Ray?" tanya Dhira terbata, Sandy tidak bisa memberitahu Dhira apa yg sebenar nya terjadi.. dia takut kondisi Dhira semakin menurun,
"Bunda...!!" teriak Rey... dia mulai menangis ketika melihat Dhira sudah bangun...
"Rey, jangan terlalu dekat, bunda masih sakit ya sayang!!" ucap Mai mencoba menghalangi.. "Rey mau peluk bunda!! Rey takut bunda.." jawab nya Rey hanya bisa memeluk Dhira dari samping saja..
Dhira mengelus putra kecil nya, "Dimana Rayna?" tanya nya.. "mana putriku?" ucap nya, perasaan nya mulai tidak enak..
"mereka tidak pernah terpisahkan... kenapa sekarang Reyka datang sendirian" batin nya.
"Kak... di mana Ray? aku ingin melihat nya!!" ucap Dhira pada Sandy, tapi tidak ada yg berani menjawab nya...
**Bersambung**