
Hujan rintik -rintik seolah langit ikut bersedih kehilangan gadis kecil yg selalu ceria.. Batu nisan tertulis nama indah anak perempuan itu.. RAYNA LIANA MAHESA.. Leo termenung melihat jasad putri kecil nya, di masukan ke liang lahad..
Dhira yg lemah tidak bisa bicara apa pun lagi, dia merutuki diri nya sendiri.. Rey menangis melihat adik nya tidak lagi menemani nya, dia tidak berhenti memanggil Rayna..
Pemakaman itu benar-benar menyedihkan..
"Kau harus kembali ke rumah sakit Ra!!" ucap Rizal mengelus bahu Dhira, hati nya juga ikut terluka, Sejak hari itu Dhira tidak mau bicara pada siapa pun selain Rizal dan Rey, bagi nya semua orang jahat pada nya,
Rizal mendorong kursi roda Dhira dan membantu nya untuk naik ke mobil, di temani putra nya Reyka.. Dhira terus menangis menggegam Tangan anak satu-satu nya..
"Bunda tidak mau kehilangan kau Rey.. jangan jauh- jauh dari bunda.." ucap nya..
"Kita pulang saja kak.. aku tidak mau kembali ke rumah sakit.." ucap Dhira... "Baiklah yg penting kau nyaman.."jawab Rizal..
"Tapi aku tidak mau ke rumah kak Tasya, aku mau ke tempat yg tidak di ketahui orang lain" ucap nya lagi... Rizal hanya mengangguk.. dia tahu harus membawa Dhira kemana,
Dhira memang butuh tempat untuk membuat nya tenang..
"Baiklah Nad, kakak tau tempat yg bagus dan tidak ada orang yang tau.. tapi izinkan kaka merawat mu, sampai kau sembuh.." ucap Rizal, Dhira tidak menjawab, fikiran nya sudah tidak bisa lagi dia kendalikan.. sementara itu Rey tertidur di pangkuan nya.
Mereka sampai di sebuah rumah yg jauh dari ibu kota, Rizal ingat dulu membelikan rumah itu untuk Fany, ketika mereka masih bersama, untuk beberapa waktu Rizal menempati Rumah itu, jika dia butuh waktu untuk sendiri
Rizal membawa Dhira masuk kesana Rey. yang masih tidak mengerti apa-,apa hanya terdiam mengikuti bunda nya, Sikap nya menjadi lebih pendiam, mungkin karena tidak ada Ray.. dia merasakan kesepian..
Rey menemani bunda nya di dalam kamar untuk beristirahat..
"Itu kesukaan Ray om.. om kenapa Ray ga ikut kita pulang? Rey Rindu Ray..!!" ucap nya sambil menangis.. Rizal mengerti yg di rasakan rey.. dia memeluk, Rey.. Mengelus kepala Rey...
Rey menangis di pelukan Rizal..
......................
Leo terhuyung-huyung, sudah beberapa hari ini dia kurang tidur dan tidak ada makanan yg masuk ke perut nya, "Le makan lah.. !! jika kau menyiksa dirimu sendiri Ray tidak akan kembali hidup..!!" ucap Dhika..
Leo tidak menjawab nya, dia terdiam memandangi langit-langit kamar nya, dia benar-benar terguncang saat ini, kematian Rayna membawa luka yg sangat dalam untuk nya dan juga Dhira..
Belum lagi, Dhira yg sama-sama menghilang membawa Rey bersama nya, membuat leo semakin terguncang, dia membutuhkan Dhira di samping nya, semua karena kesalahan dan kecerobohan Leo..
Andai saja dia bisa mengontrol emosi nya, dan tidak mengejar fadly, mungkin Saja Rayna masih hidup.dan ada di samping nya, Dhira juga tidak akan begitu membencinya..
"Kau lihat An, Aku memang tidak bisa membunuh Nadhira.. tapi aku bisa membuat keluarga itu berantakan!! Dhira tidak akan bisa kembali pada Leo, kau dulu kehilangan anak mu karena Leo.. kini Leo pun harus merasakan kepedihan yg sama, karena kehilangan anak nya" ucap Fadly..
Andin tersenyum.. "Kau memang yg terbaik sayang.. setidak nya dendam ku terbalas kan, kematian Adik ku CINDY terbalas dengan kematian Rayna, yg akan membuat Dhira semakin menderita.." batin nya.
Dhira menangis dalam keheningan malam.. memeluk erat Rey, yg terlelap... "Bagaimana bisa bunda tetap hidup.. jika Rayna tidak ada di sini!!" lirih nya, "Bunda Rindu Rayna!!" isak nya..
**Bersambung**