
Satu minggu berlalu. Selama itu pula Ardo di rawat di rumah sakit. Dia di vonis terkena penyakit jantung koroner yang cukup parah.
Gita dan Wilda bergantian menjaga Ardo di rumah sakit. Dan kondisi dari Ardo bahkan semakin lemah.
Kini Dimas sudah tiba di rumah sakit tempat Ardo di rawat. Dia ingin menjemput Gita karena sudah ada Wilda yang sudah mengganti kan nya.
Sementara Irza tengah sibuk mengurus perusahaan Ardo. Pria itu akan langsung pulang ke rumah sakit setelah dari perusahaan untuk menemani Momy nya berjaga disana.
CEKLEK
Pintu kamar perawatan Ardo terbuka dan Dimas langsung masuk kedalam.
" Kau sudah datang, Honey?" kata Gita saat melihat sang suami.
" Hmm ... bagaimana keadaan Daddy?" sahut Dimas menghampiri ranjang Ardo. Pria itu sedang melihat ke arah monitor kecil yang ada di meja samping ranjang.
Dia mengerti tentang alat-alat itu karena dia dulu seorang dokter. Namun dia sudah terlalu fokus dengan perusahaan nya dan sudah lama meninggalkan profesinya itu.
' Kondisi nya masih sama seperti kemarin,' batin Dimas.
" Mom ... aku pulang dulu. Arkana pasti menungguku," kata Gita pamit pada Wilda.
" Baiklah, sayang. Maaf jika kau malah di repotkan selama berada disini," sahut Wilda sambil menggenggam tangan Gita.
" Tak apa, Mom. Aku juga ingin menemani Daddy, aku pamit dulu."
Gita langsung menghampiri ranjang dan mencium kening Ardo yang sedang terlelap tidur.
" Besok aku akan menemani daddy lagi," ucap Gita.
Lalu Gita dan Dimas keluar dari ruangan itu.
.
.
" Bagaimana keadaan Daddy menurut mu, Honey?" tanya Gita saat berada dalam perjalanan menuju mansion.
Dimas tak langsung menjawab. Dia hanya menggenggam erat tangan Gita dan sesekali menciumnya.
" Kenapa kau tak menjawab pertanyaan ku, Honey? kau pasti tahu sesuatu, kan?" tanya Gita lagi.
Dimas menghembuskan nafasnya kasar.
" Kondisi daddy masih sama. Tapi percayalah dia pasti akan segera membaik dan kondisi nya akan pulih kembali," sahut Dimas sambil mengusap lembut punggung tangan Gita.
Wanita itu tampak merenung dan wajahnya berubah sendu. Dimas meminggirkan mobilnya dan langsung menangkup wajah Gita.
" Jangan khawatir, Daddy pasti kuat karena dia ingin segera bermain-main dengan cucunya, bukan?" ucap Dimas.
Tiba-tiba Gita menetes kan air matanya dan menangis. Dimas memeluk nya dan mengusap lembut punggung nya.
" Besok aku akan menemani mu menjaga Daddy di rumah sakit. Kita akan membawa Arkana untuk bertemu Daddy karena itu bisa membangkitkan semangat daddy untuk segera sembuh."
Gita tersenyum saat mendengar perkataan dari Dimas. Lalu dia mencium dagu sang suami.
Dimas pun lang melanjutkan perjalanan nya menuju mansion keluarga Ardo.
.
.
" Menikahlah, Ir. Daddy ingin melihatmu segera menikah sebelum daddy pergi," ucap Ardo lirih pada putranya itu.
" Apa yang Daddy bicarakan? Daddy pasti akan menyaksikan pernikahan ku. dan jangan pernah berbicara seperti itu lagi!" tegas Irza.
Wilda tersenyum getir dan terus menyuapi makanan kedalam mulut Ardo.
" Cukup, aku sudah kenyang. Terimakasih, Honey," kata Ardo tersenyum pada Wilda.
" Kau sudah makan, Son?" tanya Wilda sambil meletakkan piring di meja.
" Belum, Mom," sahut Irza.
" Kalau begitu, Momy akan membeli makanan dulu agar kita bisa makan bersama disini." Wilda bangkit dari kursinya dan mengambil tasnya.
" Tidak perlu, Mom. Aku sudah memesan beberapa makanan untuk kita dan akan datang sebentar lagi," sahut Irza.
" Hmmm ... Baiklah kalau begitu."
Gita pun kembali meletakkan tasnya dan duduk di sofa.
Benar saja. Tak sampai 5 menit ada seseorang yang mengetuk pintu dan mengantar kan pesanan Irza.
Wilda dan Irza pun makan bersama di ruangan itu. Sementara Ardo sudah terlelap setelah meminum obat nya.
" Pikirkan permintaan daddy, sayang," kata Wilda.
Irza menghentikan kegiatan nya dan menatap pada Wilda.
" Mom ... Daddy akan baik-baik saja. Aku yakin dia pasti segera sembuh," sahut Irza.
" Aku hanya tak ingin kau menyesal jika terjadi sesuatu pada Daddy," sahut Wilda sendu.
Irza mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Wilda. Dia meletakkan sendok dan garpu nya dan memegang tangan Wilda.
Wanita itu sudah terlihat menangis. Irza bangkit dan berlutut di hadapan Wilda.
" Apa dokter mengatakan sesuatu?" tanya Irza. Dia sangat yakin pasti ada sesuatu yang Wilda sembunyikan tentang kondisi Ardo.
Wilda tak menjawab dan hanya terus terisak.
" Mom ... aku putra mu dan juga Daddy. Aku berhak tahu apa yang terjadi pada Daddy," ucap Irza.
Lalu Wilda mengangkat kepalanya dan menatap kearah sang putra. Dia mulai menjelaskan apa yang tadi di sampaikan oleh dokter ketika Gita pergi dari rumah sakit.
" WHAT !!! Kanker paru-paru?" Irza begitu terkejut saat mendengar penyakit yang tengah menggerogoti tubuh Daddy nya.
Dia sampai terduduk lemas di atas lantai dengan wajah nya yang sudah berubah sendu.
Sementara Wilda hanya bisa menangis. Lalu Irza bangkit dan memeluk sang Momy di sofa itu.
Mereka saling berpelukan sambil menguatkan satu sama lain.
" Apa kak Gita sudah tahu tentang hal ini?" tanya Irza.
" Tidak. Dia belum tahu, aku bingung bagaimana cara memberi tahu nya," sahut Wilda.
" Dia harus tahu keadaan daddy yang sebenarnya, Mom. Dia juga putri Daddy," sahut Irza.
" Mommy tahu, tapi Momy bingung," sahut Wilda.
" Aku yang akan memberi tahu kak Dimas. Biar dia yang menjelaskan kondisi daddy pada kak Gita."
Pria itu langsung mengambil jasnya yang ada di sofa dan pergi dari ruangan itu.
Irza Herlando