
Dev sudah menyelesaikan makan paginya.
Dia langsung larut dalam pekerjaannya yang memang sudah menumpuk.
Pria itu sekilas melihat kearah ranjang yang terdapat 2 wanita cantik yang sangat di cintai nya sedang tertidur pulas.
Tiba-tiba telponnya berbunyi.
"Hallo, pah." Dev langsung mengangkat telponnya.
"Papah akan kesana Dev, apa kau sedang sibuk?" kata Adi di seberang telepon.
"Tidak pah, kemarilah," jawab Dev sambil memeriksa sebuah dokumen di mejanya.
"Okey. Aku bersama istri ku dan juga Gita, rencananya kita akan pergi keluar kota setelah dari sana," ucap Adi lagi.
" Ya, Pah. Tak masalah, kita makan siang bersama disini nanti," jawab Dev.
"Oke, Papah berangkat sekarang," jawab Adi dan langsung mematikan panggilan teleponnya.
Lalu Dev beranjak dari kursinya dan menghampiri Abel yang sedang tertidur diranjang bersama Zea yang masih tak sadarkan diri.
"Mom ..." panggil Dev pelan sambil menggoyangkan pundak Mominya.
"Hmmm, ada apa, Dev?" kata Abel dengan suara seraknya yang khas bangun tidur.
"Papah Adi akan segera kesini Mom, aku juga mengajak nya untuk makan siang bersama nanti," ucap Dev membantu sang Momy bangun.
"Oh ya ... oke, Momy akan memasak makanan untuk makan siang nanti," kata Abel lalu beranjak dari ranjang itu.
"Mom, sudah ada pelayan disini, suruh saja para pelayan untuk memasak," ucap Dev menahan tangan Abel.
"Ya, Son. Momy hanya akan mengawasi mereka masak," jawab Abel sambil tersenyum karena dia sangat tahu kekhawatiran putranya.
"Ya sudah, aku lanjutkan pekerjaan ku dulu," sahut Dev.
Abel hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu keluar dari kamar itu.
"Gita akan kemari, hmm ... sepertinya aku punya rencana yang bagus," gumam dev sambil tersenyum miring.
Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang yang tak lain adalah Dimas.
"Gita akan kesini, jadi kau harus kesini jika memang kau ingin mendekatinya!!" kata Dev tegas satelah panggilannya terjawab oleh Dimas, dan langsung mematikan teleponnya setelah selesai memberi informasi.
"SIAL!! Se enaknya saja dia," gumam Dimas yang sedang menyetir mobilnya.
"Hmmm, urusan Anggita lebih penting dari pada melayani drama dari Sandra dan keluarganya," gumam Dimas lagi.
Lalu memutar balik mobilnya untuk menghampiri kediaman Bramasta.
.
.
Kini keluarga Adicipta telah sampai di depan gerbang mansion keluarga Bramasta.
Para security yang sudah tahu akan kedatangan keluarga besan dari majikannya, langsung membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan mobil itu masuk.
"Mom, Pah. Aku tunggu di mobil saja," kata Gita males untuk keluar.
"Sayang ... apa kau tak ingin melihat keadaan Zea?" tanya Lisa menoleh kebelakang dimana Gita duduk di kursi penumpang.
"Aku ingin melihatnya, Mom. Tapi aku malas bertemu dengan suaminya," jawab Gita ketus.
Ya, setiap Adi dan Lisa menjenguk Zea, Gita selalu ikut karena dia merasa prihatin dengan keadaan saudara tirinya yang masih tak sadarkan diri.
"Kau malas bertemu Dev, apa takut untuk bertemu Dimas?" ejek Adi yang sudah mengetahui dokter Dimas menyukai putri tirinya Gita.
"Iiissh, Papah ... Mom lihat, Papah sudah mulai genit," kata Gita mencebik dan menoleh keluar jendela yang menghadap ke gerbang tapi kebetulan malah ada mobil Dimas yang memasuki gerbang itu.
Adi dan Lisa juga menoleh kearah gerbang dan melihat mobil masuk kedalam parkiran di halaman mansion.
"Oouuwh ... sepertinya ada yang sudah ada janji nih Mah," kata Adi lagi mengejek Gita.
"PAH ... STOP IT!!" teriak Gita mencebik.
Adi dan Lisa hanya tertawa melihat ekspresi Gita yang sudah dalam mode bad mood.
"Pah, ayo kita masuk, mungkin Gita sedang ingin berbincang mesra dengan dokter Dimas yang tampan," goda Lisa dan langsung membuka pintu mobilnya begitupun Adi yang langsung keluar dari mobil meninggalkan Gita yang masih di dalam mobil.
"Mooomm ..." teriak Gita lalu ikut keluar dari mobilnya.
Dan bersamaan dengan Gita yang keluar dari mobil, Dimas juga baru keluar dari mobilnya.
"Ohh, haii Uncle ... Aunty. Kita bertemu disini lagi," kata Dimas menyapa.
"Ya, Dokter Dimas. Entah ini kebetulan atau takdir dari tuhan," jawab Adi sambil melirik pada Gita yang sudah terlihat kesal.
Dimas hanya tertawa pelan dan melihat kearah Gita yang memalingkan wajahnya.
"Hallo, my sweet heart," sapa Dimas menggoda Gita dengan senyum manisnya yang tersungging di bibirnya dan yang biasa membuat para wanita terpesona dengan ketampanan nya.
"Iiishhh ...," Gita berdesis sambil memutar bola matanya dan berbalik melangkah kan kaki menuju pintu mansion.
"Cepat Mom ... Pah. Jangan layani omong kosong dari dokter gadungan itu," kata Lisa tanpa menoleh kearah belakang.
"UNCLE AUNTY AKU INGIN SEGERA MENIKAHI PUTRI ANDA!!" kata Adi sengaja berteriak agar didengar oleh Gita.
Gita langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar pernyataan dari Dimas.
"Yaa ... secepatnya. TAPI DALAM MIMPI MU!!" kata Gita yang hanya menolehkan wajahnya kesamping dan langsung melangkahkan kakinya masuk.
"YA, AKU MERESTUI MU!!" kata Adi dengan lantang dan dengan sikap wibawanya.
"WHAT ... PAPAH ARE YOU KIDDING?" kata Gita kaget dan langsung membalikkan badannya menghadap papahnya.
"No. I'm serious, Honey," kata Adi lalu membalikkan tubuhnya menghadap gita yang mencebik di dekat pintu mansion.
"Heii, ada apa ini. Kenapa kalian malah ribut disini," kata Abel menghampiri mereka yang sedang berisik di depan pintu mansionnya.
"Aunty ... tolong aku ... masak iya Papah mau menikah kan ku dengan Dokter gadungan itu," kata Gita dengan suara manjanya sambil memeluk tubuh abel.
"Dokter gadungan?" tanya Abel bingung, lalu menatap pada Dimas yang sedang tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Sayang, dia bukan dokter gadungan. Dia seorang Dokter yang terkenal dan juga pengusaha tambang yang kaya raya, apa kau tak tertarik padanya?" ucap Abel melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Gita serta mencoba meyakinkan gadis sexy itu.
'What ... berarti bisa jadi dia lebih kaya dari Devandra dong,' batin Gita yang masih terpaku mendengar informasi itu dari abel.
"Kenapa?? Kau kaget mendengar tentang ku? Atau kau kaget dengan kekayaan ku?" kata Dimas yang tiba-tiba ada di sebelah Gita.
"Ya ... akan ku pikirkan tawaran mu tadi," ucap Gita dengan percaya dirinya.
"Ya, cepat pikirkan itu sebelum aku berubah pikiran," kata Dimas lalu masuk kedalam mansion.
"HEII ... KAU MEMPERMAINKAN KU? DENGAR, TUAN KAYA RAYA. JIKA AKU BERSEDIA MENIKAH DENGAN MU ITU KARENA AKU TERTARIK DENGAN KEKAYAAN MU, BUKAN TERTARIK PADAMU!!!" teriak Gita yang sangat kesal dengan ucapan Dimas.
'Hmmm, sungguh wanita yang menarik,' batin Dimas sambil tersenyum smirk Dan langsung menuju kamar Dev.