
" Aah ... Ahh faster Honey, faster ..."
Dimas mempercepat gerakannya dan Gita menyeimbanginya dengan bergerak seirama di bawah tubuh kekar sang suami.
" Aahh ... I Love you," ucap Dimas saat sudah mendapatkan puncaknya bersama sang istri.
Dan merebahkan tubuhnya di samping Gita dan memeluknya dari belakang.
Gita membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.
" I love you to," sahut Gita membelai pipi pria yang baru saja memuaskan hasrat nya.
Dimas menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Dan berpelukan di dalam selimut yang hangat.
Drt drt drt
Ponsel Dimas berbunyi. Pria itu bangkit dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja nakas yang berada di samping ranjang nya.
" Hallo, Dad."
" Hallo, Son. Dimana kau saat ini?" tanya Yosi dari seberang telepon.
" Aku di mansion, Dad. Ada apa?" tanya Dimas dengan tangan yang mengusap lembut puncak kepala sang istri yang akan tertidur.
" Kau bersama Anggita?" tanya Yosi lagi.
" Ya. Tentu. Dia sedang tidur di samping ku. Ada apa, Dad? apa ada hal yang penting?" tanya Dimas penasaran.
" Menjauhlah dari istri mu, karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Yosi.
" Baiklah. Sebentar lagi aku akan menghubungi dady." Dimas langsung mematikan panggilan itu.
Dimas mengecup kening sang istri yang sudah terlelap. Pria itu turun dari ranjangnya secara perlahan agar tak mengganggu tidur nyenyak Gita.
Lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selang beberapa menit Dimas keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaiannya.
Dan menghubungi Yosi lagi sambil berjalan keluar dari kamarnya.
" Hallo, Dad. Ada apa?" tanya Dimas to the poin.
" Kau sudah tak bersama istri mu?" tanya Yosi.
" Tidak. Dia sedang tidur dan aku sedang berada di ruang kerja. Cepat katakan ada apa, Dad?" sahut Dimas.
" Begini. Aku dan Adi merencanakan untuk mempertemukan Gita dengan ayah kandungnya. Kau harus membantu rencana ini agar berjalan dengan lancar, Dimas."
Dimas tak menjawab. Dia sedang galau karena takut jika sang istri menolak untuk bertemu dengan ayah kandungnya.
Dimas mendengar kan penjelasan dari Yosi. Dengan semua rencana yang sudah di susun dengan begitu sempurna.
" Apa itu akan berhasil, Dad? tanya Dimas saat Yosi sudah selesai memberi tahu tentang rencana nya.
" Semoga berhasil. Semuanya sekarang ada di tangan mu, Dimas," sahut Yosi.
" Bagaimana kalau ternyata pria itu tak mau menemui Gita? aku tidak mau Gita sakit hati karena hal itu," kata Dimas.
" Maka kau harus memastikan hal itu dulu. Sebelum mempertemukan mereka."
" Sepertinya aku harus menemui istrinya, Dad. Aku akan meminta bantuannya untuk mempertemukan mereka tanpa ada drama penolakan dari keduanya," ucap Dimas.
" Ya. Itu ide yang bagus, Son."
" Baiklah, serahkan ini semua padaku, Dad. Aku akan meneruskan rencana mu," kata Dimas.
CEKLEK
Pintu ruangannya terbuka. Dimas langsung menoleh dan melihat sang istri sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan yang terlipat di dadanya.
' Apa dia mendengar pembicaraan ku' batin Dimas.
" Oke, Dad. Serahkan semuanya pada ku. Aku yang akan menangani masalah di perusahaan," kata Dimas berbohong agar Gita tak curiga.
Yosi mengerutkan keningnya mendengar perkataan Dimas. " Apa ada Gita Disana?" tanya Yosi.
Dimas langsung memutuskan panggilan itu dan menghampiri sang istri yang masih berdiri di ambang pintu.
" Honey ... Kenapa kau sudah terbangun?" kata Dimas menarik tangan sang istri dan merengkuh pinggangnya.
" Kau meninggalkan ku sendiri di kamar. Jadi aku terbangun dan mencari mu," sahut Gita memeluk Dimas.
" Sorry. Daddy menelpon dan menyuruhku memeriksa dokumen yang ada di ruangan ini," sahut Dimas berbohong.
" Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Gita mendongak kan kepalanya melihat sang suami.
" Ya. Sedikit masalah. Kau ingin keluar?" tanya Dimas.
" Ya. Aku lapar dan ingin makan di luar," sahut Gita.
" Baiklah. Kita makan diluar setelah ini." Dimas melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Gita keluar dari ruangan itu. Dan berjalan menuju kamar nya.
Saat Gita sudah masuk kedalam kamar mandi. Dimas kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan yang di kirim oleh Yosi.
Terdapat alamat tempat tinggal Ardo disana. Lalu Dimas mengirim pesan pada anak buah Yosi yang ada di Paris untuk mencari tahu nomor telepon dari istri Ardo.
Setelah beberapa menit berlalu. Gita keluar dari kamar mandinya dan sudah melihat Dimas yang sudah berpakaian rapi.
Dia menghampiri Dimas yang sedang merapikan rambutnya menggunakan jari tangan nya. Dan memeluknya dari belakang.
" Kenapa kau harus setampan ini? apa kau mau tebar pesona di luar nanti?" kata Gita sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar sang suami.
Dimas menyunggingkan senyumnya dan mengusap lembut punggung tangan sang istri yang berada tepat di perut nya.
" Aku hanya ingin tebar pesona pada istri ku," sahut Dimas melepaskan tangan Gita yang melingkar di tangan nya.
Dan membalikkan tubuh Gita agar menghadap kearahnya.
Cup
Gita mengecup bibir Dimas.
" Kau ingin menggoda ku?" tanya Dimas memegang dagu Gita.
" Tidak," sahut Gita singkat.
" Apa kau ingin bermain kilat bersama ku? itu pasti sangat seru," kata Dimas dengan tangan yang sudah bergerak cepat membuka bath rop yang menutupi tubuh polos sang istri.
" Tidak. Aku sudah mandi, Honey. Aku sangat malas jika harus menyentuh air lagi," sahut Gita.
Namun semua itu terlambat saat Dimas sudah berhasil membuka bath rub nya dan langsung melahap benda kenyal yang sudah terpampang di depan nya.
Gita melenguh keras saat Dimas dengan lihai memainkan lidah nya disana.
Pria itu langsung membalik tubuh Gita agar menghadap kearah cermin dan posisi yang agak membungkuk.
Dengan cepat Dimas membuka resleting celananya dan langsung menerjang milik sang istri yang ranum.
Dan akhirnya mereka melakukan percintaan kilat itu di depan cermin meja rias nya. Dengan mata yang saling bertautan di hadapan cermin.
Gita berjalan menuju kamar mandi dengan menghentakkan kakinya. Dia kesal dengan perbuatan nakal Dimas, tapi dia juga menikmati hal itu.
Dimas mengikuti langkah sang istri dan ikut masuk kedalam kamar mandi.
" Keluar, Dimas. Aku tak mau kau kembali menyentuh ku saat melihat tubuh polos ku," kata Gita sambil mencebik.
Dimas tertawa mendengar celoteh dari sang istri.
" Baiklah. Aku akan mandi di kamar sebelah," kata Dimas yang langsung berjalan tanpa mengenakan celananya menuju pintu.
" Ck. Pakai celana mu, Dimas!! Aku tak mau orang lain melihat milikmu meskipun itu pelayan!!" teriak Gita dari balik pintu.
Dimas tertawa lalu menoleh. Pria itu mengambil handuk yang tadi di letakkan di sofa dan melilit kan di pinggang nya.
Dan dia langsung keluar dari kamarnya untuk mandi di kamar sebelah.
" Pria itu benar-benar menyebalkan. Tapi aku tak bisa menolak setiap sentuhannya," gumam Gita sambil membayangkan apa yang baru saja mereka lakukan.