
" Katakan apa yang ingin kau perintah kan, dengan senang hati aku akan langsung melakukan nya," kata Dev menangkup pipi Zea.
Zea menatap lekat mata Dev yang sangat dekat dengan wajahnya.
" Kita akan ikut touring menggunakan motor besok," kata Zea to the poin.
Dev mengerutkan keningnya, lalu dia melihat penampilan Zea yang kini berubah seperti setelan awal.
Zea mengenakan celana jeans berwarna hitam sobek di lutut dan pahanya. serta mengenakan tank top crop yang memperlihatkan perut ratanya. serta di padukan dengan jaket kulit yang menutupi tubuhnya.
" Aku jadi teringat saat pertama kali melihat mu," kata Dev.
" Kapan kau pertama kali melihat ku?" tanya Zea.
" Di club," sahut Dev.
" Di club?" sahut Zea mengerutkan keningnya.
" Ya, aku melihat mu pertama kali di club. Aku langsung tertarik karena kau sama sekali tak melihat ku, saat aku begitu ingin melihat mu," kata Dev jujur.
Zea tertawa mendengar kejujuran Dev.
" Apa yang membuatmu langsung tertarik pada ku?" tanya Zea sambil melingkarkan tangannya di leher Dev.
" Emmm ... semuanya. Semua yang ada pada dirimu. Dan aku merasa tertantang untuk memiliki mu," sahut Dev sambil membelai lembut wajah cantik Zea.
" Jadi kau hanya merasa tertantang? bukan karena kau mencintaiku," sahut Zea ketus. dan melepaskan tangan nya yang melingkar di leher Dev.
Dev tertawa pelan melihat ekspresi Zea yang sudah berubah masam.
Cup Cup Cup
Dev mengecup seluruh wajah sang istri yang terlihat menggemaskan saat kesal.
" I love you now and forever."
Zea menatap lekat wajah sang suami, lalu tersenyum mendengar pernyataan dari Dev.
" I love you to," sahut Zea memeluk suami tampan nya itu.
" Jadi?" tanya Zea melepaskan pelukannya.
" Huuuft ... Ya. Kita akan ikut touring besok," sahut Dev pasrah.
" Yeeyy ... Thank you, Beby." Zea memeluk Dev dan menghirup dalam aroma di leher sang suami.
" Kita makan siang bersama?" tanya Dev melepaskan pelukannya.
" Aku tidak lapar karena tadi aku sudah makan di mansion papah. Tapi jika kau ingin makan siang, aku akan menemani mu," kata Zea turun dari meja kerja Dev.
" Ya, kau harus menemaniku makan siang, Beby. Karena kalau sampai aku terlihat makan siang sendiri, maka banyak wanita yang akan menghampiri ku dan menawarkan diri untuk menemani ku makan," kata Dev narsis.
" Tidak sekalian mereka menawarkan diri untuk menemani mu di ranjang? agar aku bisa mencoba senjata baruku yang menganggur di dalam brankas!" sahut Zea ketus sambil berjalan menuju pintu.
Dev menarik tangan Zea saat ingin membuka pintunya.
" Kau memiliki senjata? itu artinya kau sudah memiliki izin untuk memilikinya," kata Dev bicara tepat di telinga Zea.
Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Dev.
" Ya, aku memiliki senjata. Jika kau berani bermain dengan wanita di belakang ku, maka aku bisa menembak mu saat itu juga tepat di jantung mu," kata Zea dengan tangan yang menunjuk kearah dada Dev.
" Wohoo ... kau mengerikan, Beby," sahut Dev bergidik.
" Ya, sangat. Aku tidak akan mentolerir sebuah penghianatan. Maka dari itu jangan pernah bermain di belakang ku," kata Zea melingkarkan tangannya di leher Dev.
Lalu membelai lembut pipi Dev yang mulai berjambang.
" Atau kau akan melihat kucing menggemaskan mu ini berubah menjadi serigala yang menakutkan," kat Zea.
Dev tertawa mendengar ancaman dari sang istri. Bukannya takut dia malah tertawa sambil mengacak rambut Zea.
" Aku sangat takut, Beby," bisik Dev di telinga Zea.
Lalu mereka keluar dari ruangan Dev.
Saat melewati meja resepsionis, Dev dan Zea di hadang oleh wanita yang menjaga meja resepsionis.
" Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak bermaksud menghina mu tadi, aku tidak tahu jika anda adalah istri dari Tuan Dev," kata wanita itu menundukkan kepalanya di hadapan Zea.
" What ... kau berani menghina istri ku!" bentak Dev.
" Kemasi barang-barang mu, aku tidak ingin melihat mu ada di gedung ini lagi setelah aku kembali." Dev menarik tangan Zea pergi dari hadapan wanita itu dan keluar dari perusahaannya.
Wanita itu terduduk lessu di lantai itu, dia menangis dan menyesali perbuatannya sendiri.
" Aku sudah sering mengingatkan mu, jangan pernah menilai apalagi menghina seseorang hanya karena penampilannya. Lihat sekarang, itu lah akibatnya," kata seorang teman yang juga bertugas di meja resepsionis.
.
.
" Dev, seharusnya kau cukup memberinya peringatan. Tidak perlu sampai memecatnya," kata Zea saat sudah ada didalam mobil Dev.
" Perusahaan ku sangat bisa mencari pegawai yang lebih kompeten dan ber attitude. Dan banyak di luaran sana yang mengharapkan posisi itu," kata Dev fokus dengan kemudinya.
Zea tak menjawab, karena dia merasa tak punya hak untuk mengatur perusahaan suaminya.
Kini Zea dan Dev sudah berada di restoran yang jaraknya tak jauh dari gedung perusahaan Dev.
" Ku harap tak ada lagi wanita berpenampilan seksi menghampiri meja kita. Karena aku ingin makan dengan tenang," kata Zea mengambil makanan yang tadi di pesannya.
Dev tertawa mendengar ocehan sang istri, dia menatap Zea yang kini sudah menyantap makanannya dengan lahap.
" Ada apa? apa ada kotoran di wajah ku?" tanya Zea saat melihat Dev tak menyentuh makanan nya dan hanya menatap nya.
" Tidak," jawab Dev singkat.
" Lalu?" tanya Zea sambil mencomot daging milik Dev.
" Beby ... itu milikku," kata Dev.
" Sejak tadi kau tak memakannya, jadi aku pikir kau tak mau," sahut Zea sambil menyantap daging yang dia ambil dari piring Dev.
Dev tertawa sambil mengacak rambut Zea.
" Tadi kau bilang sudah makan dan hanya akan menemaniku makan. Tapi lihat? kau bahkan juga menghabiskan jatah ku," kata Dev sambil memotong daging nya.
Zea tak memperdulikan perkataan Dev. Dia hanya fokus dengan makanannya.
Entah kenapa Zea merasa nafsu makan nya meningkat. Dan mulut nya seakan tak ingin diam, selalu ingin mengunyah.
" Zea ..." panggil seseorang.
Zea menoleh dan melihat sahabat nya saat di kampus menghampiri nya.
" Cleo ..." Zea langsung bangkit dari kursinya dan berpelukan dengan sahabat nya itu.
" I Miss you, my lovely girl!" Cleo memeluk erat Zea.
" I Miss you to, Honey."
Lalu Zea melepas pelukannya dan menyuruh Cleo duduk di sampingnya.
" Hallo, Tuan Dev. Maaf aku mengganggu acara makan siang kalian," kata Cleo tak enak.
" It's Ok. Kalian mengobrol lah, aku hanya ingin menikmati makanan ku," sahut Dev fokus dengan makanannya.
" Kamu apa kabar, Ze?"
" Seperti yang kau lihat sekarang, aku baik-baik saja. Bagaimana pekerjaan mu, Cleo?" tanya Zea.
Cleo tampak menghembuskan nafasnya yang berat dan menundukkan kepalanya.
" Aku habis mengundurkan diri dari perusahaan ku bekerja, Ze," kata Cleo sendu.
" Kenapa? Bukankah sejak dulu kau memang menginginkan pekerjaan itu, Cleo?" tanya Zea penasaran.
Karena dia sangat tahu, sejak dulu Cleo sangat ingin menjadi asisten atau sekretaris dari sebuah perusahaan besar.
Cleo tidak langsung menjawab, lalu tiba-tiba air matanya mengalir dan dia pun menangis sesenggukan.
" Ada apa? ceritakan padaku Cle." Zea mengusap punggung wanita yang tengah menangis agar wanita itu merasa tenang.
Sementara Dev, dia hanya menjadi pendengar saja.
" Bos ku sangat brengsek, Ze. Dia mencoba melecehkan ku, dia mencoba memperkosa ku," kata Cleo sambil terisak.
" WHAT!!" pekik Zea.
Lalu memeluk tubuh Cleo.