
Kini Dimas dan Anggita sudah tiba di mansion keluarga yang ada di kota Paris.
Dimas membukakan pintu mobil untuk sang istri dan menggenggam tangan nya.
" Waaahh ... mansion ini sangat besar dan megah," kata Gita memandang takjub bangunan yang bergaya klasik modern itu.
Dimas menggandeng tangan Gita masuk kedalam mansion dan langsung di sambut oleh para pelayan di depan pintu utama mansion.
" Selamat datang, Tuan. Nyonya," kata pelayan senior disana.
" Hmmm. Hai ... salam kenal. Namaku Anggita, istri dari tuan kalian," kata Gita tersenyum sumringah.
" Salam kenal, Nyonya Ganendra. Kami akan melayani Anda dengan baik disini," kata pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
Dan membawa kan koper Gita dan Dimas yang berjalan di depan nya.
" Waaww ... didalam nya juga sangat indah, apa tidak ada orang yang tinggal disini?" kata Gita.
" Tidak ada, hanya para pelayan yang ada disini. Dan setiap weekend Kak Sia akan kesini," sahut Dimas sambil terus menggandeng tangan Gita menuju lantai dua.
" Aku ingin mengelilingi mansion ini, Honey," kata Gita.
" Ya. Nanti aku akan mengajak mu berkeliling di mansion ini," sahut Dimas.
" Tapi aku inginnya sekarang ...," kata Gita mencebik.
Dimas berhenti dan langsung membuka pintu kamarnya. Dia langsung masuk dan menutup kembali pintu kamarnya setelah pelayan yang membawa koper mereka keluar dari kamarnya serta menguncinya.
Gita mengerutkan keningnya melihat Dimas mengunci pintu kamar itu.
" Aku ingin berkeliling tapi kau malah mengunciku disini," kata Gita mencebik.
Lalu Dimas mendorongku tubuh Gita hingga menempel di dinding.
Dia langsung mencium bibir Gita dengan panas dan menuntut hingga Gita kewalahan di buatnya.
" Kau harus menuntaskan apa yang sudah kita mulai di dalam mobil. Setelah itu baru kau ku ajak berkeliling di mansion ini," kata Dimas saat melepaskan pagutannya.
Gita tersenyum dan langsung memagut bibir sang suami. Dimas tak tinggal diam, dia mulai melucuti pakaian sang istri dan membuangnya ke sembarang tempat.
Kini dia sedang menatap tubuh polos sang istri yang sangat di rindukannya. Senyumnya tersungging dan langsung menyesap leher jenjang sang istri.
Dia terus menciumi seluruh tubuh polos sang istri dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana.
" Aahh ...," desah Gita. Saat sang suami bermuara di bagian paling sensitif dari tubuh nya.
Tangannya mencengkram rambut tebal sang suami. dan salah satu pahanya bertengger di pundak pria itu.
Dimas terus bermain di area itu sampai sang istri mendapatkan puncaknya.
Lalu tanpa basa-basi lagi, Dimas langsung mengangkat tubuh sang istri dan membaringkan nya di atas ranjang king size yang ada di kamar itu.
Dia langsung ke adegan inti dari kegiatan itu.
" Aah ...." Dimas mendesah saat milik nya sudah masuk sepenuhnya dan mulai menggerakkan pinggulnya.
Tangannya memijat lembut benda bulat yang ada di hadapannya dan memagut bibir seksi Gita yang terbuka.
******* mereka memenuhi ruang kedap suara itu. lenguhan demi lenguhan terdengar bersahut-sahutan di kamar yang menjadi saksi bisu percintaan panas itu.
Dimas menambahkan tempo gerakan nya. Mereka saling menatap dan menunjukkan perasaan nya yang sangat mendalam.
Hingga akhirnya mereka mengerang secara bersamaan saat sama-sama mencapai puncak nya.
" I love you," kata Dimas menciumi wajah sang istri.
" I love you to," sahut Gita.
Lalu Dimas langsung menggendong tubuh polos Gita menuju kamar mandi. Mereka mandi bersama dengan di selingi iklan panas yang selalu di lakukan oleh Dimas hingga mereka melakukan percintaan mereka lagi.
.
.
Dev menatap tajam mata sang istri saat mereka sedang makan siang bersama.
Zea menyadari hal itu tapi dia tak menggubrisnya karena dia tahu apa yang ada di pikiran sang suami.
Dev terus menatap sang istri dan tak menyentuh makanan nya sampai Zea menghabiskan makanannya.
" Kau tak ingin makan? aku akan memakannya," kata Zea mengambil piring makanan Dev yang masih tak tersentuh.
Zea meletakkan kembali sendok dan garpu nya. Lalu menatap sang suami.
" Aku hanya sedikit memberinya pelajaran agar dia mau melepaskan Cleo," kata Zea menjelaskan.
Dev terus menatap nya dengan tajam.
" Oke. Maaf. Aku hanya tak ingin mengganggu kesibukan mu, Dev. Jadi aku langsung bertindak sendiri and, See ... semua sudah selesai," kata Zea.
" Jangan lakukan itu lagi karena itu akan berbahaya bagi dirimu. Sesibuk apapun, aku pasti akan punya waktu untuk mu," kata Dev menggenggam tangan Zea dan mencium nya.
Zea tersenyum mendengar ucapan dari sang suami sambil menatap kearah pria tampan itu.
" Hmm, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. I love you," kata Zea mencium tangan Dev.
" I love you to. Dan aku sekarang ingin makan," kata Dev mengambil lagi makanan nya yang tadi di ambil oleh Zea.
" Dev ... aku juga pengen," kata Zea mencebik.
" Aku akan menyuapi mu," sahut Dev dan langsung menyuapi sang istri makanan nya.
Mereka makan berdua dan saling menyuapi satu sama lain. Sembari bercengkrama dan bercanda bersama.
Dari kejauhan ada mata tajam sedang menatap kearah mereka.
" Sepertinya aku harus memberi sedikit ujian untuk kalian, dan kita akan lihat. Apakah kalian akan tetap seperti itu setelah nya," gumamnya pelan.
.
.
Disebuah mansion mewah di Paris. Seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usia nya yang tak lagi muda. Sedang berkutat di meja kerja nya.
Tok tok tok
Pintu ruangan nya di ketuk. Dan tak lama setelah itu pintu pun terbuka.
" Honey, ada paket untuk mu," kata Wilda pada sang suami sambil menunjuk sebuah paket yang ada di tangan nya pada sang suami.
" Hemm, kemarilah. Kita buka sama-sama paket itu," kata Ardo pada sang istri.
Wilda pun masuk dan langsung duduk di pangkuan sang suami.
" Paket ini dari ... Yosi Ganendra."
Deg
Ardo langsung terpaku setelah mendengar nama yang di sebut oleh sang istri. Dia seakan ingat sesuatu di masa lalunya yang sudah terkubur.
Wilda melihat wajah sang suami yang kini berubah tegang saat mendengar nama itu.
" Kau mengenalnya?" tanya Wilda.
Namun Ardo tak menjawab. Dia masih terpaku tanpa ekspresi.
" Hei ... ada apa, Honey?" kata Wilda mengusap lembut pipi Ardo.
" Aku terpikirkan sesuatu. Mungkin paket ini akan berhubungan dengan masalah ku di masa lalu. Apa kau siap untuk itu?" kata Ardo.
" Hmmm, tak masalah. Itu hanya sebuah masa lalu, bukan? jadi untuk apa aku menghawatirkan nya," sahut Wilda.
Dia mulai membuka paket itu.
Sementara Ardo, pria itu sedang mengira-ngira apa yang akan terjadi setelah ini.
" Tunggu ...," kata Ardo menahan tangan Wilda yang ingin membuka paket itu.
" Ada apa, sayang? kau terlihat sangat khawatir. Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Wilda curiga.
" Mungkin ini akan menyakiti hati mu, apa kau siap untuk hal itu?" tanya Ardo.
Wilda menyipitkan matanya melihat sang suami yang menurutnya sedang menutupi sesuatu dari nya. Dan itu membuat nya semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam paket itu.
" Apa kau punya istri di masa lalu mu dan kalian masih berhutang sampai saat ini? benar begitu?" tanya Wilda penuh selidik.
Ardo hanya menghendikkan bahunya.
" Aku akan membukanya," kata Wilda langsung membuka paket itu.