
Bab 32 (Sikap Azelia)
"Dev, bawa Zea agar istirahat di kamar nya," ucap abel pada putranya, setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Iya, Mom," jawab Dev lalu mendorong kursi roda Zea menuju kamar mereka.
"Maaf, aku selalu merepotkan mu," ucap Zea.
"Aku sudah bilang, kan. Aku siap untuk direpotkan oleh istri cantik ku ini," jawab Dev menggoda Zea.
"Tidak usah menggodaku karena itu tak akan mempan," sahut Zea.
Dev tertawa mendengar jawaban dari istrinya dan kini mereka sudah ada di dalam kamar nya.
"Aku ingin ke kamar mandi, Dev," ucap Zea.
"Apa perlu ku bantu?" tanya Dev.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," sahut Zea.
Setelah beberapa menit, Zea keluar dari kamar mandi.
Dev melihat Zea yang kesusahan saat ingin keluar dari kamar mandi dengan kursi rodanya, lalu dia menghampirinya nya.
"Seharusnya kau memanggilku, Beby," ucap Dev langsung menggendong Zea dan menurunkannya di atas ranjang.
"Terimakasih, maaf jika aku belum bisa memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri," jawab Zea dengan menundukkan pandangan nya.
"Heii ... jangan terlalu memikirkan hal itu, Beby. Kau baru sadar dari koma dan kau harus memulihkan kesehatan mu dulu, sebelum aku menghajar mu di ranjang setiap hari," sahut Dev dengan sifat tengilnya sambil memegang dagu Zea agar bisa menatap matanya.
"Iiishhh ... dasar messum," jawab Zea memukul lengan Dev.
Dev tertawa pelan mendengar ucapan dari sang istri yang dahulu selalu menyebutnya dengan pria mesum.
"Akhirnya, aku bisa mendengar kata-kata itu lagi dari mulut mu," kata Dev menggenggam tangan Zea.
"Kata-kata apa?" tanya Zea.
"Kau ingat? Dulu aku selalu menggoda mu dan kau selalu menyebutku dengan pria messum," ucap Dev tersenyum mengingat masa-masanya yang terbilang singkat dengan Zea.
"Benarkah? Ya, sebutan itu memang sangat cocok untukmu," sahut Zea tersenyum.
"What ...." Dev langsung menggelitiki Zea sampai wanita itu kegelian dan membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu Dev menindihnya.
Sesaat mereka berpandangan lama dan Dev mendekatkan wajahnya ke bibir Zea.
'Apa ini? kenapa jantungku berdegup begitu kencang?' batin Zea.
'Tahan Dev, kau harus mengendalikan diri mu sementara,' batin Dev.
Lalu mengecup bibir wanita yang dia cintai dan merebahkan tubuhnya di samping Zea.
Mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain, lalu tersenyum.
"Apa dulu aku menyebalkan?" tanya Zea akhirnya.
"Ohh God, Sangatt. Kau sangat menyebalkan. Tapi aku menyukai mu," jawab Dev sambil menyentuh pipi Zea.
"Eemm ... ceritakan bagaimana kita pertama kali bertemu?" tanya Zea sambil menatap langit-langit kamar itu.
"Kita pertama bertemu saat kau dalam bahaya, aku melihat mu berkelahi dengan seorang perampok di jalan dan aku membantumu," ucap Dev yang juga menatap langit-langit kamar itu.
"Benarkah? Jadi aku bisa bela diri?" tanya Zea mencoba mengingat masa-masa itu.
"Ya, Beby. Kau lumayan jago bela diri," jawab Dev.
"Hmm ... aku pikir dulu aku seorang wanita yang lemah," kata Zea.
"Kau wanita yang tangguh, Beby. Dan aku beruntung memiliki mu," sahut Dev menoleh pada Zea.
"Bagaimana kalau kapan-kapan kita tanding bela diri?" kata Zea menoleh pada Dev juga.
"WHAT ... kau yakin?" tanya Dev.
"Ya, aku sangat yakin dan aku pasti bisa mengalahkan mu, Pria messum," sahut Zea tersenyum tengil.
"Baiklah, jika kau menginginkan itu," jawab Dev tersenyum miring.
"Tapi apa keuntungan ku jika aku berhasil mengalahkan mu?" tanya Dev lagi.
"Jika kau mengalahkan ku, maka sejak hari itu aku akan menjadi pelacurmu," ucap Zea dengan percaya diri.
"Tapi jika aku berhasil mengalahkan mu, kau harus menuruti semua perintah ku selama satu minggu, bagaimana?" kata Zea dengan yakin dan mengulurkan tangannya pada Dev.
"Apa kau yakin bisa mengalahkan ku, Beby?" tanya Dev tengil.
"Oke, aku terima tantangan mu," kata Dev membalas uluran tangan dari Zea.
Lalu Dev mendekatkan bibirnya ke telinga Zea.
"Persiapkan tenagamu Untuk bertarung di ranjang, Beby." ucap Dev berbisik dan membuat Zea bergidik mendengar perkataan Dev.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuan," jawab Zea lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Dev.
Dev tertawa pelan melihat Zea salah tingkah dan Dev pun memeluk tubuhnya dari belakang.
Wanita itu mengusap tangan Dev yang melingkar di perutnya, lalu memundurkan tubuhnya hingga menempel dengan tubuh Dev seakan mencari kehangatan di malam yang dingin itu.
'Shiitt,' umpat Dev dalam hati saat bokong Zea menempel sempurna dengan junior miliknya.
"Kau memancing ku, Beby?" tanya Dev sambil mengecup tengkuk leher Zea.
"Tidak, aku hanya mencari kehangatan dari suami ku," sahut Zea sambil memejamkan matanya.
Dev tertawa mendengar jawaban dari Zea sambil memukul pelan bokong istrinya yang montok.
"Tidurlah, Beby. Aku akan menemani mu," ucap Dev mencium puncak kepala Zea.
"Hmm, good night," sahut Zea sambil memejamkan matanya yang sudah berat efek dari obat yang dia minum.
Dev dengan setia menemani Zea tidur di ranjang itu dan setelah wanitanya tertidur pulas, Dev beranjak dari ranjangnya dan melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai.
.
.
.
Zea terbangun di pagi hari, saat sinar matahari masuk dari celah-celah jendela kamar itu.
Wanita itu menoleh ke sampingnya dan tak melihat Dev di sebelah nya.
Lalu dia pun bangkit dari tempat tidurnya dan perlahan berdiri. Wanita itu perlahan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Dev masuk ke kamarnya setelah melakukan joging di pagi hari dan tak melihat zea di ranjang, lalu dia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Beby, kau di dalam?" tanya Dev di balik pintu kamar mandi.
"Ya, Dev. sebentar lagi aku selesai," sahut Zea dari dalam kamar mandi.
Lalu Dev pun duduk di tepi ranjang sambil memeriksa email yang masuk di ponselnya.
Setelah beberapa menit, Zea keluar dari kamar mandi menggunakan bath rop nya.
Dia melihat kearah Dev dan sempat tergoda dengan penampakan indah dari tubuh atletis Dev yang tak memakai baju, serta terlihat begitu sexy dengan keringat yang menempel di tubuhnya.
Lalu berjalan perlahan menuju walkin closet.
"Beby ... kau sudah tak pusing lagi?" tanya Dev melihat istrinya yang sudah bisa berjalan meskipun masih sangat perlahan.
"Aku harus cepat pulih, Dev. Karena aku akan mengalahkan mu nanti," jawab Zea.
Dev tertawa mendengar jawaban dari sang istri, lalu menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Dev, aku tidak memakai apapun di balik bath rop ini," ucap Zea berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Aku tahu, aku hanya ingin memelukmu sebentar," sahut Dev menyenderkan kepalanya di bahu Zea.
'Aku cukup nyaman dengan hubungan ini, dan aku akan berusaha menerima pernikahan ini,' batin Zea menikmati pelukan dari Dev.
Lalu Dev pun melepaskan pelukannya dan mencium pipi Zea.
"Aku akan mandi dulu, setelah itu kita sarapan bersama," ucap Dev lalu masuk kedalam kamar mandi.
Sementara itu, Zea mengganti pakaiannya di walkin closet. Setelah beberapa menit Dev menyelesaikan mandinya, dan melihat Zea sedang duduk di depan meja riasnya dengan penampilan yang sudah cantik.
Dev keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya dan itu terlihat sangat menggoda di mata Zea.
Pria itu berjalan mendekatinya lalu memeluknya dari belakang.
"Dev, gantilah dulu bajumu. Aku sudah sangat lapar," kata Zea memandang wajah suaminya dari pantulan cermin.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengganti bajuku," sahut Dev melepaskan pelukannya dan mencium puncak kepala sang istri.
Zea menatap punggung kokoh suaminya dari belakang.
'Dia sangat manis, Oh God sepertinya aku akan jatuh dalam pesonanya,' batin Zea.