My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 32



Ke esokan harinya.


Pasangan pengantin baru itu masih betah didalam kamar nya. Mereka menikmati kebersamaan itu dan tak keluar sama sekali dan melewatkan makan paginya karena mereka baru tertidur pukul 5 pagi.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi namun mereka belum bangkit dari ranjang empuknya. Setelah melakukan percintaan panas nya, bukannya mereka langsung bangun dan membersihkan tubuhnya.


Tapi mereka malah asik mengobrol di atas ranjang sambil berpelukan dengan tubuh polosnya.


" Kau berjanji akan melanjutkan cerita dari Bibik Nevi. Aku menunggu nya hingga saat ini, Honey."


Irza tersenyum dan mencium puncak kepala sang istri. Dia menatap mata indah Valerie dan mengecup bibirnya.


" Jadi kau masih menunggu kelanjutan dari cerita itu?" tanya Irza dan hanya di balas anggukan kepala oleh Valerie.


" Aku kira kau sudah melupakan nya setelah kita melewati malam panas kita," sahut Irza dan membuat Valerie mencebik.


Wanita itu mencubit kulit pinggang Irza dan membuat pria itu terpekik.


" Kau sudah berjanji padaku, Tuan!!" tegas Valerie.


" Oke-oke. Aku akan menceritakan nya," sahut Irza dan Valerie langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Irza.


" Sampai dimana Bibik Nevi menceritakan dongeng itu?" tanya Irza.


Valerie tampak berpikir dan mengingat akhir cerita dari Bibik Nevi.


" Sampai putri Bibik Nevi bunuh diri karena mereka terusir dari rumah kecil itu," sahut Valerie.


Irza mengangguk kan kepalanya dan terlihat sedang berpikir.


Valerie mendengar kan cerita itu dengan seksama dan tampak penasaran dengan kelanjutan nya.


" Dan mereka bekerja di villa ini sampai villa ini menjadi milik mu, begitu?" tanya Valerie menyimpulkan.


Irza tersenyum tapi menggeleng kan kepalanya.


" Tidak se simpel itu, Honey," sahut Irza sambil mencolek hidung mancung Valerie.


" Keberuntungan masih tak berpihak pada mereka. Salah satu anak dari pemilik villa ini, dia bersikap tak sopan dan selalu memperlakukan Bibik Nevi dan Paman Beno dengan SE enaknya. Hingga membuat Bibik Nevi jatuh sakit dan Paman Beno memutuskan untuk pergi dari villa itu tapi Bibik Nevi tetap Kekeh untuk tetap berada di villa ini. Hingga suatu hari itu, aku menghadiri pesta dari rekan bisnis ku yang kebetulan di adakan di villa ini. Aku jatuh hati pada villa ini sejak pertama menginjakkan kaki ku disini. Dan aku bahkan menyewa satu kamar disini selama satu Minggu dan selama aku disini, aku melihat sendiri bagaimana mereka memperlakukan Bibik Nevi dan Paman Beno dengan sesuka hati serta menghina mereka. Aku sangat tidak bisa membiarkan hal itu terjadi dan aku memilih untuk mencari tahu tentang Bibik Nevi dan Paman Beno dan milik siapa villa ini. Lalu aku membeli villa ini dengan harga yang cukup tinggi."


Wajah Valerie tampak sendu saat mendengar cerita itu.


" Lalu?" tanya Valerie.


" Awalnya mereka menolak hingga aku memberikan harga yang cukup fantastis agar bisa membeli villa ini. Dan setelah itu aku memberikan kunci dari Villa ini pada Paman Beno dan Bibik Nevi. Awalnya mereka menolak dan ingin meninggalkan villa ini, tapi aku berusaha dengan begitu keras agar mereka mau tinggal dan merawat villa ini," sahut Irza.


" Aku lega, Akhirnya mereka kembali hidup damai," sahut Valerie.


" Ya. Apa kau tidak lapar, Honey? aku merasa perutku sudah kosong," kata Irza dan membuat Valerie terkekeh.


" Hmmm ... aku juga lapar."


Mereka bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Mereka mandi bersama dan tak membutuhkan waktu lama. Setelah itu mereka memakai pakaiannya dan keluar dari kamar.