My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 75



Wilda membuka paket itu. Terdapat amplop warna coklat disana, Wilda langsung mengambil amplop itu.


Dia membuka dan langsung membacanya bersama sang suami.


" Siapa Lisa? Istri mu yang lain?" tanya Wilda.


Lalu melanjutkan membaca isi dari surat itu.


Disitu tertulis data-data tentang Lisa beserta akta kelahiran Anggita dan golongan darah dari Ardo yang sama.


" Jadi kau punya seorang anak di masa lalu? dan kau tak mengatakan ini padaku?" kata Wilda dengan nada yang terdengar sedang menahan kekesalannya.


" Aku baru tahu kalau ternyata aku memiliki seorang putri," sahut Ardo masih terkejut dengan informasi itu.


Lalu dia melihat kearah kotak paket dan melihat beberapa foto di sana.


Ardo langsung mengambil nya dan melihat beberapa foto itu.


Wilda mengerutkan keningnya saat melihat foto Lisa yang terlihat berantakan setelah di perkosa oleh Ardo. Lengkap dengan tanggal kejadian dan tulisan .


"Saat kau merenggut kehormatannya."


" Kau yang memperkosa nya?" tanya Wilda penuh selidik.


Ardo tak menjawab, dia langsung melihat foto selanjutnya. Disana terdapat foto saat Lisa hamil anak dari hasil pemerkosaan itu beserta tanggalnya.


" Saat Lisa melarikan diri dari ku dan aku salah paham pada nya, karena dia mengandung anak dari pria lain. Dan ternyata itu anak mu BRENGSEK." Tulis Yosi di foto itu.


Lalu Ardo melanjutkan melihat foto yang lain.


Ada foto Anggita saat baru lahir lengkap dengan tanggal lahirnya.


" Putri ku," gumam Ardo lirih dan tak terasa air matanya menetes.


Lalu dia melihat foto yang terakhir.


Ada foto wanita cantik disitu dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


" Anggita Pradipta. Putri mu sekarang sudah menikah dengan putraku Dimas. Gadis cantik itu mengira bahwa dirinya tak di inginkan oleh ayahnya dan hal itu sangat menyakiti hatinya hingga kini. Mereka sedang berbulan madu di Paris, ku harap kau bisa menemuinya dan menjelaskan padanya. Karena dia tak pernah tahu siapa ayah kandungnya." Tulis yosi di foto itu.


Wilda menoleh pada sang suami yang saat ini wajahnya sudah memerah karena menangis. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang berjambang. Tangan nya mengepal dan memukuli keningnya.


" Bodoh ... bodoh ... Harusnya aku tak meninggalkan nya. Harusnya aku bertanggung jawab padanya," kata Ardo sambi memukuli wajah nya sendiri.


" Stop ... Honey. Stop!! perbuatan mu memang sangat keterlaluan. Tapi kau masih bisa memperbaiki nya dan meminta maaf, Oke." Wilda menangkup wajah sang suami lalu memeluknya di dadanya.


" Aku pria brengsek. Aku sudah menyakiti hati putriku. Ooohh putri ku, aku memiliki seorang putri, Honey. Aku memiliki seorang putri tapi aku malah menelantarkan nya," kata Ardo sambil terisak.


Wilda terus memeluk sang suami dan menenangkannya.


" Kita akan menemuinya."


" Tidak!! aku tidak punya keberanian untuk muncul di hadapan nya dan langsung mengaku sebagai ayahnya. Aku tidak bisa," kata Ardo melewati pelukan Wilda.


" Tapi kau harus menemui nya, Honey."


" Tidak. Aku malu untuk menemui nya, dia tidak akan mau menerima ku," kata Ardo putus asa. Lalu pergi dari ruangan itu.


" Aku harus menemui putri nya," gumam Wilda menatap kepergian Ardo.


.


.


Kini Dev dan Zea sedang dalam perjalanan touring nya bersama para geng motor Reza.


Dev mengendarai motornya dengan kecepatan sedang tepat di belakang Zea.


Sesekali dia berteriak pada sang istri yang terlihat merentangkan kedua tangannya karena Memeng Zea sangat mahir berkendara motor gedde bahkan dia dulu sering melakukan atraksi dan balapan.


" Beby !!! berkendara lah dengan benar!!" teriak Dev. Dia sangat takut jika ada sesuatu yang terjadi pada istrinya itu.


" Come on, Dev ... Zea tak selemah itu!!" teriak Reza yang berkendara di barisan paling belakang.


" Ini sangat menyenangkan Dev!! cobalah!!" teriak Zea merentangkan satu tangan nya sambil berdiri.


" Maka aku akan membunuhmu!!"


Semua yang mendengar ucapan dari Zea tertawa.


" Oh my. Galak sekali istri ku," kata Dev sambil menggelengkan kepalanya.


" Bagaimana bisa kau jatuh hati pada gadis brutal itu, Dev?" kata Reza.


" Entahlah. Tapi dia cukup brutal saat di ranjang," sahut Dev gamblang.


Mendengar perkataan dari sang suami, Zea melempar botol kosong yang ada di plastik yang dia bawa.


CETOK


Botol itu mengenai helm yang di kenakan Dev.


" Untung saja aku memakai helm," kata Dev.


" Ze !!! kau akan ku denda karena sudah membuang sampah sembarang!!" teriak Reza mengingat kan peraturan yang ada dalam geng motor nya.


Geng motor itu bukanlah geng motor biasa. Mereka sering berdonasi dan melakukan kegiatan sosial bersama. Dan touring kali ini mereka akan menuju desa yang sangat terpencil. Bahkan tak ada jalan aspal menuju desa itu.


Mereka akan membantu warga disana untuk membangun balai desa dan pos, serta ikut memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak akibat angin kencang yang menimpa desa itu.


Dan kini mereka sudah tiba di desa itu. Mereka langsung di sambut hangat oleh para warga yang memang sudah mengenal anggota geng motor itu.


Dev yang tadinya ber anggapan bahwa geng motor itu hanya membuang-buang waktu saja. Kini berubah pikiran, ternyata dia salah karena geng motor itu ternyata melakukan hal yang positif.


Zea membantu untuk membangun pos dan Dev membantu dalam pembangunan balai desa. Mereka semua kompak saling membantu dan berbaur dengan warga tanpa rasa canggung.


Bahkan Dev saat ini menjadi donatur terbesar untuk biaya pembangunan di desa itu.


" Dev ... bisa kau bantu aku!!" teriak Reza yang sedang berada di atas atap warga.


" Ya ... apa yang bisa ku bantu!!" sahut Dev dari bawah.


" Tolong letakkan beberapa genteng itu ke dalam ember itu, aku akan menariknya dari sini," kata Reza.


Lalu Dev langsung meletakkan beberapa genteng itu dan Reza langsung menariknya.


" Terimakasih Dev!!" teriak Reza.


Dev hanya mengacungkan jempol nya pada Reza. Lalu pandangan nya tertuju pada Zea yang kini sudah berada di atas atap pos ronda yang sedang di bangun.


" Beby !!!" teriak Dev.


" Haii, Beby ... aku disini!!" teriak Zea dari atas sambil melambaikan tangannya pada Dev.


" Kenapa kau naik ke atas sana!!" sahut Dev.


" Aku hanya ingin melihat pemandangan yang sangat indah dari atas sini!!" teriak Zea.


" Turun sekarang!!" tegas Dev.


" Beby ... sebentar saja!" bujuk Zea.


" Tidak! cepat turun atau aku akan merobohkan pos itu lagi!!" tegas Dev.


" Baiklah ... baiklah.


Zea langsung berjalan perlahan menuju tangga kayu yang dilewatinya tadi.


" Kenapa Dev sangat protektif padaku belakangan ini, dan aku tak bisa membantah perintah nya. Menyebalkan!" kata Zea menggerutu saat menuruni tangga kayu itu.


Namun karena terus menggerutu, dia jadi tak terlalu memperhatikan pijakan kaki nya.


CETAKK


Kayu yang di pijakan kaki Zea patah sehingga membuat Zea langsung kehilangan kendali dan terjatuh dari atas tangga.


" ZEAA !!!" teriak orang-orang disana.