
~ FLASH BACK ~
Sekitar 8 tahun yang lalu.
Ardo sedang di sibukkan oleh setumpuk berkas di mejanya. Matanya terlihat sangat fokus dengan beberapa berkas yang ada di tangan nya.
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu ruangan nya. Dia lekas mengangkat wajahnya dan memberi perintah pada seseorang yang mengetuk pintu itu untuk segera masuk
CEKLEK
Pintu terbuka. Nampaklah seorang asisten nya yang muncul dari balik pintu.
" Tuan, ada Tuan Kinos dan Nyonya Willie datang ingin bertemu dengan, Anda."
Sejenak Ardo tampak berpikir dengan kening yang berkerut. Ada apakah gerangan yang membuat pasangan itu ingin menemui nya bahkan secara mendadak.
" Suruh mereka masuk!"
" Baik, Tuan."
Lalu asisten Ardo menyuruh tamu sang bos untuk masuk kedalam ruangan itu.
" Selamat siang, Ardo. Maaf menganggu di jam sibuk mu," kata Kinos sambil melangkah masuk kedalam ruangan Ardo.
Ardo meletakkan berkas nya di meja dan bangkit untuk menghampiri sahabat nya itu.
" Tidak. Kau tidak menggangu ku, silahkan duduk Kinos, Willie."
Ardo menyambut tamunya dengan baik dan ramah. Dia duduk di sofa setelah tamu nya duduk.
" Ada apa, Kin? apa ada masalah?" tanya Ardo to the poin.
Dia heran, tumben sekali Kinos menemui nya di jam kantor seperti ini. Apa lagi dia sampai mendatangi nya di kantor bersama sang istri.
Kinos dan Willie tampak saling menatap. Tangan mereka saling terpaut dan tampak gelisah.
' Pasti ada masalah yang penting,' pikir Ardo.
" Begini, Ar. Aku ingin meminta bantuan mu," kata Kinos mengawali pembicaraan nya dengan permintaan tolong.
Dan itu semakin membuat Ardo penasaran.
" Hmm ... katakan! apapun itu aku pasti akan membantu kalian," sahut Ardo dengan sangat yakin.
Kinos menghela nafasnya untuk memulai pembicaraan nya.
" Begini. Kita terlibat perebutan harta dengan beberapa ipar ku, mereka tidak terima karena harta yang jatuh pada Willie adalah harta yang paling banyak karena Willie bukan anak kandung dari ayahnya. Mereka bersikeras untuk merebut kembali harta warisan itu yang sudah dengan jelas atas nama Willie."
Ardo tak menyela perkataan Kinos dan terus mendengarkan.
" Kau tahu kita hanya memiliki satu perusahaan kecil, itupun masih dengan bantuan mu. Harta ini tak terlalu banyak di bandingkan dengan separuh harta mu, Ardo. Tapi kita ingin mempertahankan hak kita untuk masa depan anak kami. Valerie dan Lenski. Aku membutuhkan bantuan mu, aku ingin menitipkan harta yang tak banyak ini padamu," lanjut Kinos.
Dia mengambil sebuah dokumen penting dari balik jaket nya. Dia sengaja menyembunyikan itu di balik jaket nya tanpa membawa tas ataupun semacamnya.
Ardo mengerutkan keningnya. Dia curiga, mungkin ada yang mengawasi mereka atau mengikuti mereka. Pikirnya.
" Terimalah ini, Ardo. Aku titip kan ini padamu, berikan ini pada putra putri kami nanti. Karena kami harus pergi jauh untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu," kata Kinos.
" Kita tak ingin mengambil resiko dengan membawa Valerie dan Lenski bersama kami, Ardo. Dan kami juga ingin menitipkan mereka pada mu," lanjut Willie dengan nada memohon.
" Siapa yang sudah menteror kalian! beri tahu aku, dan aku akan langsung membereskan masalah kalian hingga tuntas tanpa kalian harus berpisah dengan anak-anak kalian!" tegas Ardo.
" Tidak. Kau tak perlu tahu, Ardo. Kau cukup membantu ku dengan menjaga anak-anak ku dan memberikan ini pada mereka," sahut Kinos.
" Aku mohon, Ardo. Aku bisa mengatasi hal ini, dan aku akan segera kembali setelah semua nya membaik," kata Kinos memohon dengan menyatukan kedua tangannya ke depan wajah nya.
" Janganlah seperti itu, Kinos. Aku pasti membantu mu, aku berjanji akan menjaga amanah mu ini. Dan aku akan menjaga kedua anak mu," sahut Ardo menurunkan tangan Kinos yang memohon pada nya.
" Terimakasih, Kinos. Aku yakin kau pasti bisa menjaga mereka," kata Kinos.
" Dimana mereka?" tanya Ardo.
" Mereka sedang di rumah. Baiklah, kita sudah tak ada waktu lagi. Aku pamit," kata Kinos bangkit dari sofa.
" Kalian akan kemana setelah ini?" tanya Ardo yang juga bangkit dari sofa.
" Kami akan pulang dulu. Dan akan mengantar kan Valerie dan Lenski ke rumah mu nanti malam," sahut Kinos.
" Hmmm ... baiklah."
Lalu Kinos dan Willie keluar dari ruangan Ardo. Sementara itu, Ardo mengambil dokumen yang di letakkan Kinos di meja.
Pria itu berjalan dan kembali duduk di kursi kebesaran nya dengan membuka dokumen itu.
" Aku harus menyelidiki ini semua, harta ini sudah atas nama Willie dan mereka masih ingin merebut nya? dasar tamak!" gumam Ardo dan meletakkan dokumen itu di brankas yang ada di bawah mejanya.