
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Dev.
"Masuk," kata Dev dari dalam kamar.
Lalu Dimas masuk Kedalam kamar itu.
"Apa rencana mu, Dev?" tanya dimas to the poin.
"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Dev tanpa menoleh ke sumber suara.
Lalu Dimas duduk di sofa yang berada di kamar itu.
"Hmm ... kuharap Rencana mu kali ini tidak gagal seperti yang sebelumnya," kata Dimas sambil menyenderkan tubuhnya di sofa empuk itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Gita yang tiba-tiba masuk kedalam kamar itu.
"Apa kalian sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak ku?" kata Gita lagi.
Dev dan Dimas hanya melempar pandangan dan itu membuat Gita semakin curiga pada tingkah 2 lelaki itu.
"Heh, Dokter gadungan. Kau kemari untuk memeriksa keadaan saudariku, kan? kenapa kau malah duduk santai disitu? Atau kau kemari untuk tujuan yang lain?" kata Gita penuh curiga.
'Shiit, gadis ini benar-benar. Tapi kenapa aku malah menyukai sikapnya ini,' batin dimas.
"Perjalanan dari rumah ku menuju mansion ini cukup jauh, Nona. Apa salah jika aku ingin beristirahat sejenak di sofa ini?" jawab Dimas yang masih bersantai di sofa itu.
"Gita bersikaplah sopan pada calon suami mu," kata Adi yang tiba-tiba masuk kedalam kamar itu bersama Lisa dan langsung bergabung dengan Dimas yang duduk di sofa itu.
"WHAT ... Dia bukan calon suami ku, Pah," sahut Gita ketus.
"Heii, aku sudah melamar mu di hadapan kedua orang tua mu tadi, apa kau tuli?" kata Dimas tegas.
"Ohh ... jadi kau pikir itu sebuah lamaran yang resmi, Tuan? Aku pikir itu hanya sebuah lelucon," jawab Gita ketus dan berjalan menghampiri ranjang Zea.
"Heii ... itu bukan sebuah lelucon, Nona!" kata Dimas serius.
"Oh ya?? I don't care, kau hanya melamar ku pada orang tuaku. Apa kau ingin menikahi orang tuaku??" jawab Gita cuek.
Dev yang mendengar perdebatan kecil itu tersenyum smirk dan mengingat setiap perdebatan yang biasa dia lakukan bersama Zea.
'What ... sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi' batin Dimas.
.
.
"Heii gadis tengil, apa kau tidak bosan terus berbaring di ranjang itu. Aku saja sudah mulai bosan melihat mu hanya tiduran di ranjang itu," kata Gita sedikit ketus lalu duduk di samping Zea.
"Kalau bosan tak usah kemari," sahut Dev yang masih fokus dengan laptopnya.
"Iiishhh ... suami mu itu benar-benar menyebalkan. Kau tahu Ze, dia yang membuatku malas menemuimu," ucap Gita.
"Kalau malas tak usah kemari lagi," sahut Dev lagi tanpa melihat kearah Gita.
"Heii Tuan, bisakah kau diam!!" kata Gita membentak.
Semua orang yang ada di sana tertawa pelan mendengar perdebatan dari Gita dan Dev.
Gita mengambil tangan Zea dengan perlahan dan menggenggam nya.
"Heii bangunlah, apa kau tidak merindukan motor kesayangan mu di rumah? Kau tahu, motor kesayangan mu mungkin sudah mati karena kabel-kabelnya di makani tikus," kata Gita sedikit ketus.
" Kau tahu Ze, aku kesepian di mansion Papah karena tak ada lagi gadis tengil yang bisa ku goda disana. Tapi Ze, kenapa setiap aku melihat mu seperti ini dadaku terasa sesak," kata Gita dengan suara yang lembut bahkan terdengar sendu.
"Sayang ... kau menangis?" tanya Lisa menghampiri Gita dan memeluk nya.
"Aku menyayangi nya, Mom. Hatiku begitu sakit melihat nya seperti ini, aku ingin pergi dari sini. Aku tak ingin melihatnya seperti ini lagi Mom," kata Gita sambil terisak dan masih menggenggam tangan Zea.
"Iishh ... kau ini, apa kau tak ingin melihat saat dia membuka matanya?" jawab Lisa mengelus punggung Gita.
Lalu Gita menaruh tangan Zea ke tepi ranjang dan hendak pergi dari kamar itu, tapi tiba-tiba tangan Zea menggenggam erat tangan Gita sama yang terjadi beberapa Minggu yang lalu pada Dev.
Semua orang yang ada di kamar itu terkejut melihat genggaman Zea. "JANGAN PERGI," ucap Zea lirih tapi masih belum membuka matanya.
Semua orang yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zea langsung menghampiri ranjang itu termasuk Abel yang berada di ambang pintu.
"Sayang ... kau sudah sadar," kata Adi berlutut di samping ranjang Zea.
Sementara Dev langsung naik ke atas ranjang mendampingi sang istri.
"Dimas, cepat cek keadaannya," kata Dev.
"Beby, ayo buka matamu, aku disini," ucap Dev mengelus puncak kepala Zea.
"Permisi, akan aku periksa dulu," kata Dimas mendekati ranjang itu. Dan langsung memeriksa kondisi Zea saat ini.
"Semuanya terlihat normal, tapi ada satu masalah, jantungnya berdegup begitu cepat dan ini diatas normal," kata Dimas dan membuat semua orang yang ada di kamar itu khawatir.
Bahkan Gita semakin terisak mendengar keadaan Zea sambil menggenggam tangan nya.
"Nona Zea, apa kau bisa mendengar ku?" kata Dimas.
"Beby, buka matamu," kata Dev.
Zea merasakan jantungnya berdetak begitu kencang dan nafasnya mulai berat, semua yang melihat tampak begitu khawatir.
"Suster, siapkan alat bantu pernapasan," Perintah Dimas pada suster yang memang bertugas menjaga Zea disana.
Lalu dimas menyuntikkan sesuatu ke cairan infusnya dan memasang alat fentilator pada Zea.
Zea tampak begitu kesulitan untuk bernafas sehingga terlihat seperti kehabisan oksigen.
Melihat keadaan Zea yang seperti itu membuat semua orang disana menangis histeris karena takut terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.
"Dokter, apa yang terjadi padanya?" tanya Adi dengan suara yang bergetar dan terlihat begitu khawatir dengan kondisi putrinya.
Dimas tak menjawab dan tetap melakukan penanganan khusus pada Zea.
"Nona, kau bisa mendengar ku? Sekarang coba buka matamu," kata Dimas.
Zea mendengar ucapan dokter itu dan merasakan jantungnya kembali normal serta deru nafasnya yang mulai normal.
Lalu Zea membuka matanya yang terasa sangat berat secara perlahan, akhirnya Zea membuka matanya dan tersadar dari komanya.
"Oh my, thanks God," ucap Dev mengucap rasa syukunya melihat sang istri membuka matanya.
Zea melihat ke sekelilingnya sambil mengerjapkan matanya dan menatap semua orang yang ada disana.
"Beby" ucap Dev mencium tangan istrinya.
"Ya tuhan, terimakasih akhirnya kau mengembalikan putriku," ucap Adi mencium kening Zea.
"SIAPA KALIAN?" tanya Zea dengan suara yang begitu lemah.
Dan pertanyaan itu membuat semua orang yang ada disana begitu terkejut dan menatap kearah Dimas.