My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 55



~ Kecemasan Irza ~


Irza pergi dari kamar perawatan Leyra dan tak menghiraukan teriakan Leyra yang meraung-raung memanggil nama nya. Dia sudah tak perduli lagi dan saat ini yang ada di pikiran nya hanya lah Valerie.


Para perawat yang mendengar teriakkan Leyra langsung memasuki kamar itu dan melihat keadaan Leyra yang sudah mengamuk dan bahkan sudah mencabut selang infus nya.


Leyra bahkan sudah turun dari ranjang dan berusaha untuk berjalan untuk mengejar Irza yang sudah pergi meninggalkan nya.


Perawat itu langsung memanggil perawat yang lain untuk membantu nya menghadapi amukan dari Leyra.


Hingga perawat itu pun terpaksa harus menyuntikkan obat penenang hingga wanita itu tak sadar kan diri.


Dua perawat itu tampak saling menatap saat sudah membawa Leyra kembali ke ranjang nya.


" Sepertinya Tuan Irza sudah mengetahui kebohongan nya, dia terlihat marah tadi dan tak menghiraukan teriakan Nona Leyra," kata perawat yang tadi berpapasan dengan Irza.


" Ya. Ini sudah resikonya karena dia sudah membohongi semua orang dengan kondisinya," sahut perawat lain.


Dan satu perawat pun keluar dari ruangan itu, sementara satu perawat tetap berada di kamar itu untuk menjaga Leyra.


Ya. Ternyata lagi-lagi Leyra sudah merencanakan semua ini dengan sangat matang. Bahkan dia juga sudah membayar Dokter untuk mengatakan kondisinya lumpuh pada semua orang. Padahal keadaannya baik-baik saja dan hanya patah tulang biasa.


Dan lagi-lagi Irza dengan mudahnya mempercayai itu semua.


.


.


Irza tiba di mansionya dan sudah melihat Wilda yang masih terlihat khawatir di ruang tengah.


" Mom ..." Irza menghampiri Wilda dan memeluknya.


" Aku sangat mengkhawatirkan nya, Ir. Dia tidak ada di mansion dan kita sudah mencari nya," sahut Wilda.


Irza tampak berpikir dan melepaskan pelukannya.


" Apa tadi dia tak mengatakan apapun pada Momy? atau pada pelayan?" tanya Irza.


" Nona Valerie tadi pagi langsung keluar dari mansion setelah makan pagi, Tuan. Dia di antar oleh supir," sahut seorang pelayan yang masih ada di ruangan itu.


Irza menoleh pada pelayan itu dan tampak berpikir.


" Panggil kan semua supir di mansion ini sekarang!" tegas Irza.


Pelayan itu langsung pergi dari hadapan Irza dan Wilda untuk memanggil kan semua supir yang bekerja di mansion itu.


Irza melihat kearah sang Momy dan menenangkan nya.


" Aku akan mencari nya, Mom. Momy tenanglah," sahut Irza.


Tampak 3 orang pria yang berusia paruh baya pun memasuki mansion itu. Mereka berdiri tepat di hadapan Irza dan Wilda.


" Siapa dari kalian yang tadi mengantarkan Valerie?" tanya Irza to the point.


Semua supir itu tampak saling menatap dengan raut wajah yang cemas. Lalu salah satu dari mereka pun mengangkat tangan nya.


" Saya, Tuan," sahut paman Beno dengan suara yang bergetar karena merasa takut dengan situasi ini.


Irza langsung menatap kearah paman Beno dan berjalan mendekati supir lawas itu.


" Kemana paman mengantarkan Valerie?" tanya Irza dengan suara yang di buat seramah mungkin karena dia tak ingin membentak orang yang lebih tua darinya.


" Tadi pagi saya mengantar kan Nona ke rumah sakit x, Tuan. Lalu setelah itu kami langsung pulang. Tapi setelah itu Nona Valerie meminta ku untuk mengantarkan nya ke Asrama untuk mengantarkan barang-barang yang di minta oleh Tuan Lenski dan aku mengantar nya ke asrama," kata supir itu menjelaskan.


" Lalu?" sahut Irza menatap intens mata Paman Beno.


" Lalu Nona Valerie menyuruh saya pergi karena dia akan lama disana dan akan menghubungi Anda untuk menjemput nya," sahut supir itu lagi.


Irza langsung menghela nafas nya yang berat dan memijat batang hidungnya.


" Disitulah letak masalah nya, dia tidak tahu aku sudah pulang atau tidak tapi paman langsung mempercayai nya?" sahut Irza.


Pria itu langsung meninggalkan ruangan itu dan berjalan masuk kedalam ruangan kerjanya untuk menghubungi semua anak buahnya.


" Kalian pergilah dan istirahat, terimakasih atas penjelasannya," kata Wilda dan langsung meninggalkan ruangan itu.


Wilda memilih untuk menghampiri sang putra di ruangan kerjanya. Dia membuka pintu ruangan Irza dengan perlahan dan melihat sang putra sedang menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Valerie.


Irza tampak lesu dan meletakkan ponselnya di meja. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran nya sambil menyandarkan kepalanya.


Wilda menghampiri Irza dan mengusap bahunya.


" Tenangkan dirimu," kata Wilda.


" Mungkin dia kecewa pada ku, Mom," sahut Irza dengan suara lemasnya.


Pria itu begitu mencemaskan sang istri yang entah dimana keberadaan nya saat ini.