
Kini Dev sudah berada di mansionya, dia duduk disamping sang istri yang masih tak sadarkan diri.
Dev mengambil tangan Zea Lalu mencium nya.
"Beby, bangunlah. Aku sangat merindukanmu," ucap Dev lalu tersenyum getir sambil meletakkan tangan Zea di pipinya.
"Tapi aku tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi mu saat tahu bahwa kita sudah menikah. Apa kau akan marah? Ya, kau pasti akan marah. Dan aku sudah siap menerima kemarahan mu itu, asal kau tersadar dari koma mu dan kau tidak pergi dariku," ucap Dev mencoba melakukan terapi yang di sarankan oleh dokter untuk memancing kesadaran Zea.
Tiba-tiba ponsel Dev berbunyi.
"Hallo," ucap Dev ketika menjawab telepon itu.
"Bos, kami sudah membawa Nico dan anak buahnya ke kantor polisi dan mereka langsung di tahan dengan semua bukti yang sudah kami bawa," kata seseorang di balik telepon itu.
"Hmm, bagus. Pengacara ku akan kesana Untuk mengurus masalah ini dan memastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang berat," sahut Dev dengan tangan yang masih menggenggam tangan Zea dan mematikan panggilan itu lalu menghubungi pengacaranya untuk menangani kasus Nico.
"Hei, Beby dengar ini. Mantan kekasih mu itu sudah di tangkap polisi Karena dia sudah merencanakan sesuatu yang buruk padamu, untungnya suamimu ini bisa mencegah rencana jahatnya itu," kata Dev membelai pipi wanita yang sedang tertidur pulas itu.
Lalu Dev mendekatkan bibirnya di telinga Zea.
"Kalau sampai dia berani menyentuh mu, maka aku pastikan dia akan habis di tangan ku, kau dengar nyonya Devandra," bisiknya di telinga Zea.
Dan Zea langsung merespon pembicaraan Dev dengan menggerakkan salah satu jemarinya yang sedang di genggam oleh Dev.
"Oh my. Beby kau mendengar ku?" kata Dev ketika merasakan gerakan jemari Zea di genggamannya.
Saking senangnya, Dev langsung memeluk tubuh Zea yang masih terbaring dan menghujani ciuman di seluruh wajah wanita cantik itu.
"Aku senang kau bisa merespon pembicaraan ku, Beby. Sekarang buka matamu, sayang. Bangunlah dari tidurmu itu," kata Dev lagi dengan menangkup wajah Zea dan mengecup bibirnya.
Lalu Dev beranjak ingin menghubungi dokter Dimas dan ingin memberitahukan keadaan Zea saat ini.
Tapi tiba-tiba tangan Zea menggenggam erat tangan Dev.
Pria itu begitu kaget melihat tangannya digenggam oleh sang istri dia menatap wajah sang istri yang masih memejamkan matanya.
"Baby, bangunlah. Aku di sini menantimu. Aku akan menghubungi dokter Dimas dulu," tapi genggaman tangannya belum saja dilepaskan.
"Baby, aku hanya sebentar dan aku tidak akan meninggalkanmu," kata Dev mencium punggung tangan Zea dan langsung menghubungi dokter Dimas untuk memberitahu perkembangan Zea.
"Ada apa, Dev?" tanya Dimas.
"Apa kau sudah merencanakan kencan romantisku dengan Anggita?" tanya Dimas lagi.
"Shut up, aku menghubungimu bukan untuk hal konyol itu, ini tentang istriku," jawab Dev.
" WHAT KONYOL? hei, Tuan. Aku sudah membantumu menikahi Zea dan sekarang giliranmu untuk menikahkanku dengan Anggita," jawab Dimas.
"WHAT ... kau gila Dimas?" sahut Dev kaget karena tiba-tiba Dimas ingin menikahi Gita.
" Ya, aku tergila-gila padanya," jawab Dimas.
" Aku ingin membicarakan kondisi Zea, Dimas. Jadi seriuslah!!" kata Dev tegas.
"Oke oke, katakan," jawab Dimas mulai serius.
" Barusan jari jemari Zea bergerak dan kini tangannya menggenggam tanganku dengan begitu erat," ucap Dev serius.
"Apa yang baru kamu lakukan padanya? sehingga dia merespon pembicaraanmu," tanya Dimas.
"Aku hanya membisikan tentang rencana Niko padanya dan aku hanya berbincang ringan," sahut Dev.
"Adakah yang lain lagi yang kau ucapkan padanya?" tanya Dimas lagi.
"Ya, aku menyebutnya dengan nama nyonya Devandra. Dan Dia langsung meresponnya dengan menggerakkan jemari nya," jawab Dev mengingat.
" Itu dia, Dev. Dia begitu kaget mendengarmu menyebutnya dengan nyonya Devandra, dan itu adalah responnya," jawab Dimas.
"Lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini, Dimas?" tanya Dev bingung.
" Tidak ada. Dan lakukan seperti yang aku perintahkan padamu sebelumnya. Dan kau hanya harus menunggu nya untuk membuka matanya, dan kuharap kau ada di sampingnya ketika dia membuka matanya," sahut Dimas.
"Oke, aku akan selalu mendampinginya," sahut Dev setelah itu dia mematikan teleponnya.
"Beby, kau suka aku menyebut mu dengan nama Nyonya Devandra?" tanya Dev sambil mengusap pipi Zea.
Lalu terdengar pintu yang diketuk.
"Masuk," kata Dev dan melihat kearah pintu.
"Mom, kemarilah," kata Dev.
Abel pun masuk dan begitu heran melihat Dev yang biasanya langsung menghampirinya tapi kini putranya itu hanya duduk saja di samping Zea.
"Mom, lihatlah," kata Dev menunjukkan tangannya yang masih di genggam erat oleh sang istri.
"Apa dia sudah sadar, Dev?" tanya Abel begitu terkejut.
"No, Mom. Tapi dia sudah bisa merespon apa yang aku bicarakan dan dia akan segera sadar," sahut Dev dengan nada yang bersemangat.
"Oh God, benarkah?" sahut Abel.
Lalu dia menaiki ranjang itu dan memeluk tubuh menantunya itu.
"Sayang ... aku tak sabar menunggu kau membuka matamu," ucap Abel memeluk kepala Zea di dadanya.
"Momy begitu bahagia dengan perkembangan mu, cepatlah bangun, sayang. Momy Begitu menyayangimu," kata Abel lagi lalu mencium kening Zea.
"Mom, dia menangis," kata Dev ketika melihat air mata Zea mengalir di pipinya.
"Benarkah?" tanya Abel lalu melihat pipi Zea yang basah karena dia mengeluarkan air matanya
"Ohh sayang ... jangan menangis. Momy berjanji padamu Momy tidak akan pernah meninggalkan ku," kata Abel mengusap air mata yang mengalir di pipi Zea.
.
.
3 Minggu berlalu semenjak Zea merespon pembicaraan Dev dan Abel, setiap hari Dev selalu berada di dekat sang istri, bahkan pria itu menjadikan kamarnya sebagai ruang kerja.
Ya, Dev tidak pernah datang ke kantor semenjak insiden yang terjadi pada Zea dan membuat wanita itu koma.
Kini sudah hampir 1 bulan Zea terbaring koma dan Dev begitu setia menjaga sang istri.
Dev menyerahkan tugas di kantor nya kepada sang asisten, karena dia takut ketika Zea membuka matanya tapi Dev tidak ada di sampingnya.
"Dev ... ini Momy bawakan kau makanan, makanlah dulu, Momy tahu kau pasti belum sarapan," kata Abel masuk ke dalam kamar Dev.
"Ya, Mom. Sebentar lagi," sahut Dev yang matanya masih fokus ke depan laptop nya.
"No, Honey. Kau harus makan dulu," kata Abel menarik tangan Dev agar berhenti dulu dengan pekerjaannya.
Dan menggandeng tangan Dev menuju sofa yang sudah ada makanan yang tertata rapi disana.
"Oke ... oke," sahut Dev menyerah pada sang Momy.
"Hmm, cepat makan dan habiskan. Aku ingin memeluk menantu ku dulu," sahut abel lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Zea.
"Sayang, kau merindukan pelukan Momy?" tanya Abel dan langsung memeluk tubuh Zea.
"Aku tahu kau pasti sangat merindukan pelukan Momy dan begitu pun sebaliknya. Momy juga merindukan pelukan dari mu, sayang," kata Abel lagi.
"Dia tidak akan merindukan Momy, karena setiap malam aku selalu memberinya kehangatan," sahut Dev sambil menyantap makanannya.
"Heii Dev, kau akan Momy pisahkan darinya kalau kau berani menyentuhnya," ancam Abel pada putrinya.
"Mom. Aku suaminya dan aku berhak atas tubuhnya," jawab Dev.
"Ya, Momy tahu itu. Tapi jangan lakukan itu sekarang Dev, dia belum sadarkan diri. Malam ini aku akan tidur disini!" kata Abel tegas dan tak ingin di bantah.
"Tapi Mom. Dia selalu tidur dalam pelukan ku setiap malam," sahut Dev.
"Shut up Dev, cepat selesai kan makanan mu dan lanjutkan pekerjaan mu, Momy ingin tidur disini untuk menemani menantu Momy," sahut Abel lalu memejamkan matanya di samping Zea sambil memeluk tubuhnya.
"Iishhh Mommy ... kenapa kau selalu menggangguku," kata Dev mencebik.