My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 79



Dimas langsung memotret sang istri yang sedang berpose di tengah-tengah kebun apel.


Wajah Gita terlihat sangat bahagia dan berseri. Senyum cantiknya selalu mengembang di bibirnya.


Dimas menghampiri Gita dan berselfi bersama.


" Disini aku terlihat sangat cantik," kata Gita dengan PD nya.


" Kau paling cantik di mata ku," ucap Dimas sambil mencium pipi sang istri.


" Aku akan mengirim foto liburan kita pada gadis tengil itu. Lihat saja nanti dia akan iri padaku," celetuk Gita.


Wanita itu langsung mengirimkan beberapa foto nya ke ponsel Zea.


.


Sementara itu jauh di negara kampung nya. Zea sedang di sibukkan dengan urusan pekerjaan nya.


Bahkan papahnya juga meminta dirinya untuk mengurusi perusahaan yang akan di berikan pada Gita.


Drt drt


Ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Zea melihat kearah ponselnya yang terdapat nama Dimas disana.


Dia membuka pesan yang masuk. Senyumnya tersungging saat melihat beberapa foto liburan Gita yang dikirim ke ponsel nya.


Lalu dia menghubungi nomor tersebut.


" Hallow ... Gadis tengil. Uuupss, sepertinya kau bukanlah seorang gadis lagi," celetuk Gita dari seberang telepon.


" Aku memang bukan gadis lagi. Tapi percayalah, pesona ku bahkan melebihi seorang gadis," sahut Zea.


" Iiishhh ... Dasar gadis tengil. Bagaimana? Kau sudah melihat foto-foto ku, bukan?" ucap Gita.


" Jadi kau yang mengirim nya? Ku pikir Dimas yang mengirim nya. Karena aku kira Dimas sudah mulai tak waras setelah menikah dengan mu, Anggita," sahut Zea sambil tertawa mengejek.


" ZEAA ... kau menyebalkan," kata Gita mencebik. Dia hanya mendengar suara Zea yang sedang tertawa di seberang sana.


" Kapan kau akan pulang?" tanya Zea.


" Aku baru dua hari disini dan kau sudah menanyakan kapan aku pulang? Ck CK ck sepertinya kau mulai merindukan ku," kata Gita.


" Ya. Aku merindukan mu. Aku akan langsung memeluk mu dan mengurung mu di ruang perusahaan nanti setelah kau pulang. Enak sekali kau berlibur disana, sementara aku disini sedang sibuk mengurusi perusahaan mu, Menyebalkan," ucap Zea yang membuat Gita tertawa di seberang sana.


" Sorry, Honey. Aku ingin menikmati bulan madu ku dulu sebelum beraktivitas di perusahaan itu. Tenang saja, secepatnya aku akan kembali," sahut Gita.


" Ya ya ya ... Nikmati liburan mu sebelum kau terpenjara di perusahaan mu nanti, Bye."


Zea langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia langsung larut dalam pekerjaan nya lagi.


Wanita itu sudah kembali bekerja di perusahaan nya. Dev tak bisa menghalangi kemauan Zea karena itu juga resiko atas kekalahan nya bertanding dengan sang istri.


Zea meminta untuk aktif mengurus perusahaan nya lagi. Dan mengendarai motor kemanapun.


CEKLEK


Pintu ruangan nya terbuka. Tampak asistennya masuk kedalam ruangan Zea.


" Nona Zea. Anda sudah di tunggu di ruang meeting," kata asisten nya.


" Baiklah, ayo."


Zea bangkit dari kursi kebesaran nya dan berjalan keluar dari ruangan nya.


Setibanya di ruang meeting. Dia terpaku saat melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang duduk di salah satu kursi di ruangan meeting.


" Jo ... kau kah itu?" sapa Zea pada pria yang berperawakan tampan di sana.


Pria itu berdiri dan menghampiri Zea dengan merentangkan kedua tangannya.


" I Miss you, Ze," ucapa pria itu.


" No. Jangan memeluk ku karena kau pasti akan celaka," ucap Zea.


Pria itu tertawa dan langsung melakukan tos sama seperti saat kuliah dulu.


" Ternyata kau masih mengingat tos kita," kata Zea.


" Ya. Kau satu-satunya wanita tengil yang aku kenal. Tak mungkin aku melupakanmu," ucap Jo.


" Ayo, duduk. Kita mulai dulu meeting kita," kata Zea.


.


Wilda sedang menatap ponselnya. Wanita paruh baya itu terlihat sedang menunggu balasan pesan dari seseorang.


" Honey ... apa yang kau lakukan disana?" tanya Ardo yang baru saja datang dari perusahaan dan melihat sang istri yang tampak melamun dengan Ponsel yang dia genggam.


" Tidak. Aku hanya menunggu telpon dari temanku. Mereka mengajak ku makan siang di luar," sahut Wilda.


Ardo menghampiri sang istri dan duduk di sebelah nya.


" Kau akan makan diluar? padahal aku ingin sekali makan siang bersama mu," kata Ardo sambil merangkul bahu Wilda.


Wilda tampak gelisah. Dia sudah terlanjur ada janji dengan Dimas untuk membahas tentang Gita.


Tapi dia juga tak bisa meninggalkan sang suami.


" Eemm ... baiklah. Aku akan menemani mu makan siang disini," sahut Wilda tersenyum pada Ardo.


" Terimakasih, Honey. Kau lebih mementingkan aku dari pada teman mu," kata Ardo lalu mengecup kening Wilda.


" Kenapa kau sudah pulang dari perusahaan? apa ada yang ketinggalan?" tanya Wilda.


" Tidak. Aku baru saja menghadiri meeting di luar kantor dengan salah satu relasi ku. Dan aku melihat sepasang kakek nenek yang makan siang bersama di restoran itu. Lalu aku teringat padamu dan disinilah aku sekarang," ucap Ardo menjelaskan.


" Jadi kau iri pada pasangan tua itu?" tanya Wilda sambil tertawa.


" Ya. Aku ingin kita tetap mesra dan harmonis meskipun sudah termakan usia," ucap Ardo yang membuat Wilda tersenyum.


" Kita akan selalu bersama. Karena aku sudah mengutuk mu Agar tak bisa jauh dariku," sahut Wilda.


" Ehemm ... ehem," Irza berdehem melihat keromantisan kedua orang tuanya.


" Ck. Kenapa kau selalu mengganggu kemesraan orang tua mu ini, Ir?" ucap Ardo yang akan mencium sang istri namun gagal saat mendengar putra tengilnya berdehem.


" Jangan lakukan hal itu di ruang tamu, Dad. Kalian bisa menodai mataku yang suci," sahut Irza.


Wilda tertawa mendengar perkataan dari Irza. Putra kesayangan nya itu berjalan menghampiri nya dan mencium punggung tangan nya.


" Aku pergi dulu, Mom. Mungkin aku pulang malam. Jadi jangan menunggu ku," kata Irza lalu mencium kening Wilda.


" Ya. Jangan pulang terlalu larut, Son," sahut Wilda melihat sang putra yang sudah berjalan kearah pintu mansion tanpa pamit pada Ardo.


" Son ... kau melupakan sesuatu!" teriak Wilda.


Ir langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.


" Entah kenapa aku sering melupakan mu, Dad." Ir langsung mencium tangan sang Daddy.


" Itulah dirimu. Kau seolah tak membutuhkan daddy tapi kau selalu menggunakan uang Daddy," sahut Ardo.


Ir dan Wilda tertawa.


" Karena memang itulah tugas Daddy di keluarga ini, kan?" ucap Ir yang membuat Ardo memukul keras lengan kekar Irza.


" Aku pergi dulu, bye."


Pria itu langsung pergi dari mansion dan berangkat menuju kampus nya dengan mengendarai motor Bugatti hitam nya.


Pria tampan yang berperawakan tinggi besar itu adalah putra semata wayang dari Ardo dan Wilda.


Irza sedang menempuh pendidikan di universitas ternama di negara itu.


Wilda langsung mengirimkan pesan untuk membatalkan pertemuan makan siang nya dengan Dimas, saat sang suami masuk kedalam kamarnya.


.


Gita masih betah berada di kebun apel itu. Dia memetik banyak buah apel yang manis untuk di bawa pulang ke mansion keluarga Ganendra.


Wanita itu juga mencoba beberapa produk cemilan yang terbuat dari apel.


Saat dirinya sedang berselfi ria. Tiba-tiba ponsel Dimas yang dia pegang berbunyi tanpa ada pesan masuk.


Dia melihat nomor yang tak dia kenal dan tertulis nama W disana. Karena penasaran, Gita membuka pesan yang masuk ke ponsel sang suami.


" Sorry. Aku tak bisa menemui mu hari ini. Kita atur ulang saja pertemuan kita." Tulis isi pesan tersebut.


Gita mengerutkan keningnya melihat pesan itu.


"Siapa ini? apa salah satu rekan bisnis Dimas?" gumam Gita.