
Satu Minggu sudah Irza dan Valerie berada di villa itu. Mereka sering Melawati hari dengan berkeliling di sekitar kebun teh.
Bahkan mereka juga pernah berkemah serta mengajak Bibik Nevi dan Paman Beno camping meskipun hanya di belakang villa.
Valerie sangat menikmati kebersamaan itu, dan dia juga sangat dekat dengan Bibik Nevi yang sangat perhatian dan baik padanya.
Wanita itu juga sering membantu Bibik Nevi memasak karena dia juga ingin belajar memasak pada Bibik Nevi. Masakan dari wanita paruh baya itu sangatlah enak dan cocok di lidah Valerie dan juga Irza.
Jadi Valerie mempelajari beberapa resep masakan dari Bibik Nevi yang sangat di sukai oleh Irza.
Kini mereka sedang berada di dalam kamar. Valerie tampak sibuk memasukkan barang-barang nya ke koper. Karena hari ini mereka akan kembali melanjutkan perjalanan bulan madu nya.
Sementara Irza tampak sibuk dengan ponselnya sambil menyandarkan tubuhnya di dashboard ranjang.
" Setelah ini kita akan kemana?" tanya Valerie sambil menata barang-barang nya.
" Kita akan ke Turki, Honey," sahut Irza masih fokus dengan ponselnya.
Valerie tampak sumringah saat mendengar kata Turki.
" Hmmm ... aku ingin menaiki balon udara di Cappadocia," sahut Valerie tersenyum.
Irza menatap kearah sang istri yang tampak tak sabar dan dia meletakkan ponselnya di ranjang. Pria itu bangkit dan menghampiri sang istri yang masih sibuk dengan kegiatannya.
" Kau senang?" tanya Irza sambil memeluk Valerie dari belakang.
Wanita itu tersenyum dan melepaskan tangan Irza yang melingkar di perut nya. Lalu dia membalikkan tubuhnya menghadap kearah sang suami.
" Aku sangat sangat senang, asal kau selalu bersama ku," sahut Valerie sambil melingkarkan tangannya di leher kokoh irza.
" I love you," ucap Irza lirih.
" Me too."
Irza tersenyum dan langsung memagut bibir sang istri dan Valerie pun membalas ciuman itu.
.
.
Kini Irza dan Valerie sudah berada di beranda depan villa. Paman Beno tampak memasukkan koper yang di bawa Irza kedalam mobilnya.
" Bibik, aku pasti akan sangat merindukan mu," kata Valerie sambil memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
Bibik Nevi tersenyum dan membalas pelukan hangat dari Valerie. Jujur Bibik Nevi juga sempat galau karena kepergian Valerie, dia sangat bahagia saat bersama Valerie dan sangat menyayangi wanita itu.
Mereka memang sangat dekat, dan Bibik Nevi pun sudah menganggap Valerie seperti anaknya sendiri.
Valerie melepaskan pelukannya dan menangkup wajah berkerut itu.
" Aku akan sering menghubungi Bibik, dan aku akan meminta suami ku untuk mencari kan pelayan tambahan agar Bibik tak merasa kesepian lagi," sahut Valerie tersenyum.
Bibik Nevi pun ikut tersenyum dan membelai lembut rambut Valerie.
" Jaga dirimu baik-baik, Nak. Berbahagialah, dan Bibik doakan agar kau segera hamil," kata Bibik Nevi dan mereka berpelukan kembali.
" Semua nya sudah siap, Tuan!"
Irza tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Bibik Nevi.
" Aku pamit dulu, Bibik. Jaga Villa ini, bukan untuk ku, tapi untuk kalian."
Bibik Nevi tersenyum dengan menetes air matanya.
" Baik, Tuan," sahut Bibik Nevi.
" Dan aku akan menambah satu pelayan untuk Bibik. Kau sudah semakin tua dan tak boleh terlalu lelah," lanjut Irza.
Bibik Nevi hanya tersenyum karena dia memang sering di perhatikan seperti itu oleh Irza.
Lalu Irza menggandeng tangan Valerie masuk kedalam mobil. Pria itu menoleh pada Bibik Nevi yang masih berdiri disana.
" Jaga kesehatan mu, Bibik! Aku akan kesini lagi setelah memiliki seorang anak," kata Irza yang membuat Bibik Nevi tertawa kecil.
Pria itu langsung masuk kedalam mobil. Begitu pun dengan Paman Beno yang akan mengantar kan Irza ke bandara dimana pesawat pribadi nya yang sudah menunggu disana.
.
.
" Jaga Bibik Nevi, Paman. Dan jaga kesehatan mu," kata Irza saat sudah ada di bandara.
Paman Beno tersenyum dan menundukkan kepalanya.
" Baik, Tuan."
" Aku pergi dulu," sahut Irza.
" Hati-hati dijalan, Tuan."
Irza tersenyum begitu pun dengan Valerie. Lalu Irza menggandeng tangan Valerie menaiki tangga pesawat itu.