
" Jadi ini semua hanya karena wanita itu?" kata Zidane dengan tawa nya.
" Aku rasa ini bukan sebuah lelucon hingga kau bisa tertawa seperti itu, setelah apa yang sudah kau lakukan pada Cleo!!" tegas Zea yang kini emosinya mulai terpancing.
" Jadi wanita itu sudah menceritakan semuanya pada mu?" sahut Zidane masih dengan tawanya.
" Ooohh ... aku suka drama ini. Kau tahu apa yang sudah aku lakukan padanya?" kata pria itu dengan mendekatkan wajahnya pada Zea.
Zea tak menjawab, dia hanya memundurkan wajahnya agar tak terlalu dekat dengan pria brengsek itu.
" Aku sudah menyentuh tubuh nya, bahkan aku sudah mencicipi miliknya yang ranum dengan lidahku hingga dia mendesah tak karuan. Tapi sayang nya aku tak berhasil merenggut kehormatan nya."
BUG ...
Zea langsung melayangkan pukulannya ke pipi pria brengsek itu dengan keras hingga pria itu tersungkur ke lantai.
Reza dengan sigap menahan tangan Zea yang akan memukul pria itu lagi dan berdiri di hadapan Zea.
Semua orang yang ada di restoran itu melihat kearah mereka dan langsung keluar dari restoran itu.
" BERANI KAU MELAKUKAN HAL ITU LAGI PADA CLEO AKU AKAN LANGSUNG MEMBUNUH MU!! BRENGSEK!!" teriak Zea dan menendang tubuh pria itu dengan keras.
" Zea ... tahan emosi mu. Bukan ini tujuan kita bertemu dengannya," kata Reza menahan pinggang Zea agar tak lagi gegabah.
" Aku hanya ingin memberi pelajaran pada pria brengsek ini, Reza!!" teriak Zea sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan Reza.
Zidane bukanlah seorang billioner seperti Dev yang kemanapun di dampingi oleh para bodyguard bayangan.
Hanya seorang asisten yang menemaninya, dan itupun terlihat bahwa asistennya itu tak begitu mahir bela diri. terbukti saat Zea memukul bosnya, pria itu hanya diam saja dan terlihat tegang.
" Lalu apa mau kalian?" kata Zidane bangkit dari lantai sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan dari Zea yang cukup keras tadi.
" Lepaskan Cleo. Hanya itu yang kami inginkan," kata Reza dengan suara berat nya, sambil masih menahan tangan Zea agar tak menyerang pria itu lagi.
Lalu Zidane itu menatap pada asistennya. Pria itu langsung tahu apa maksud dari tatapan sang bos dan langsung mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.
Dia meletakkan bekas perjanjian kontrak kerja Cleo ke meja di hadapan Reza.
" Baca isi surat kontrak itu, dan jika kalian ingin aku melepaskan Cleo. Kalian harus membayar kan uang penalti yang cukup besar padaku," kata Zidane dengan menahan emosinya. Karena takut dengan tatapan Zea yang menatapnya dengan tatapan seperti ingin membunuh.
" Aku akan membayar nya. Tapi kau harus berjanji tidak akan menggangu Cleo lagi," kata Zea masih dengan tatapan nya.
" Selama dia tidak muncul lagi di hadapan ku," kata Zidane sambil mengangkat kedua bahunya.
Zea langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan nya pada tubuh Zidane.
" Katakan dengan benar. Atau kau ingin peluru ini mendarat di jantung mu," kata Zea dengan nada yang dingin.
Zidane menelan saliva nya melihat senjata yang kini mengarah kepadanya sambil mengangkat kedua tangannya.
' Sepertinya wanita ini bukan wanita sembarangan,' batin Zidane.
" KATAKAN!!" bentak Zea.
" Oke - Oke. Aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Cleo dan tak akan menggangu nya," kata Zidane.
" Cepat tanda tangani berkas itu," perintah Zea masih mengarah kan pistolnya pada Zidane.
Lalu dengan cepat Zidane menandatangani berkas kontrak yang akan berakhir itu, serta berkas perjanjian yang sengaja sudah di siapkan oleh Zea.
" Bagus. Terimakasih atas kerjasama nya," kata Reza.
Lalu Zea meletakkan kembali pistol itu. Dia berjalan menghampiri Zidane dan langsung menarik kerah baju pria itu.
" Kalau kau berani melanggarnya, maka aku sendiri yang akan menghajar mu!!" tegas Zea lalu menghempaskan tubuh Zidane hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Zidane menatap kepergian Zea dan Reza dengan kekesalan nya. Dia merasa sangat di permalukan disini karena dia di hajar dan di ancam oleh seorang wanita.
" Aku tidak akan lagi mengganggu Cleo. Tapi aku akan langsung membalas perbuatan mu ini, biitcch!!" kata Zidane pelan namun dengan penekanan.
.
.
Kini Dimas dan Anggita sudah sampai di Paris. Anggita yang sangat excited dengan perjalanan nya ini menatap setiap jalanan kota Paris dengan senyuman yang tersinggung dari bibirnya.
" Kau senang?" kata Dimas mengusap punggung tangan Anggita.
" Ya. Aku sangat senang," kata Anggita tanpa melihat kearah Dimas.
" Lalu?" kata Dimas mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Anggita langsung menoleh pada sang suami dan memeluk nya.
Cup Cup Cup
Anggita menciumi wajah sang suami hingga lehernya. " Thank you. I love you, Pak Dokter," kata Gita.
Dimas tersenyum lalu menatap sang istri.
" I love you my **** wife," kata Dimas mencium bibir Gita.
Lalu dia menekan tombol yang ada di belakang kursi kemudi. Dan ada sekat yang turun di belakang kursi kemudi agar supir tak melihat aktifitas yang ada di belakang.
Mereka berciuman panas di dalam mobil itu. Dimas mengangkat tubuh Gita dan mendudukkan nya di atas pangkuan nya.
Gita melingkar kan tangan nya di leher kokoh sang suami. " Hemmp ..." desah Gita dalam ciuman nya itu.
Lalu Dimas membuka kancing kemeja Gita dan langsung melahap dada bulat sang istri tanpa melepaskan branya.
Gita melenguh saat Dimas bermain di area dadanya. Dia mencengkeram kuat rambut tebal Dimas dan menghadap kan kepalanya keatas saat merasakan sensasi saat suaminya memagut benda mungil yang bertengger disana.
" I Miss you so much, Honey. I want to now," kata Dimas masih terus berkutat dengan dada sang istri yang terlihat begitu menggoda untuk di sentuh.
" I know. Tapi aku tak mau melakukan nya disini," lirih Gita.
" Why ..." tanya Dimas menghentikan kegiatannya dan melihat kearah Gita.
" Aku ingin sesuatu yang berkesan saat kita bercinta pertama kali saat tiba di kota ini," sahut Gita.
" Ini akan menjadi pengalaman yang seru, Honey. Ayolah ...," sahut Dimas memohon.
" No. ada pak supir di depan, Honey. Jika saja tak ada supir mungkin aku mau melakukan nya. Bersabarlah, Oke," kata Gita mencium kening Dimas.
" Tapi aku sudah tak bisa menahan nya lagi, Honey."
Lalu Gita turun dari pangkuan sang suami. Dia berlutut di depan Dimas dan membuka kancing celana Dimas.
" Ooouwwhh ... Honey," desah Dimas panjang saat Gita langsung mengulum milik nya.
Tangannya memegang tengkuk leher sang istri dengan sesekali mendorong nya agar miliknya semakin tenggelam di mulut sang istri.
Gita langsung menyergap sesuatu yang sudah menantang di balik kain yang di kenakan oleh Dimas. Dia memberikan pelayanan terbaik nya pada sang suami hingga Dimas mencapai puncak nya.
Lalu Gita mendongak dan tersenyum tengil pada Dimas dan berkata.
" Kau puas dengan pelayanan ku?"