My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 58



Dev meninggalkan Dimas dan Anggita yang sedang asik berciuman, dia menggandeng tangan Zea menuju kamar nya.


" Dev, lepaskan tanganku. Kenapa kita malah kekamar?" kat Zea sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dev.


Dev membuka pintu kamar dan terus menggandeng tangan Zea masuk kedalam kamar.


" Dev, apapun yang terjadi kita tetap akan bertarung," kata Zea menghempaskan tangan Dev.


" Ya, kita akan tetap bertarung. Dan aku sudah memutuskan kita akan bertarung di atas ranjang," kata Dev dengan seringai tipis di bibirnya.


" No, kita akan bertarung di atas ring yang sudah disiapkan oleh Jack dibawah," kata Zea kekeh.


" What ... jadi kau menyuruh Jack untuk menyiapkan ring tinju di pernikahan kita?" kata Dev terkejut.


" Yup, ini akan menjadi pernikahan terheboh dan seru pastinya. Karena ada sepasang pengantin baru yang bertarung di atas ring," jawab Zea berbalik dan melipat kedua tangan di dadanya.


" Beby, kau bercanda?" kata Dev berjalan menghampiri Zea.


" No. Aku serius, Beby. Bahkan sangat sangat serius," sahut Zea membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


" Tapi untuk apa, Beby?" tanya Dev.


" Apa kau merasa takut berhadapan dengan ku, Beby?" kata Zea sambil mengalungkan lengannya di leher kokoh Dev.


Dev menelan saliva nya dengan susah payah, karena melihat lipatan dada sang istri yang begitu menggoda untuk di sentuh.


" Bukan begitu, Tapi apa perlu kita bertarung di tengah pernikahan kita ini, Beby?" tanya Dev sambil melihat kearea dada Zea yang terlihat sangat indah di matanya.


" Aku ingin para undangan ikut menyaksikan pertarungan kita, Dev," sahut Zea membelai tengkuk leher Dev dan mendekatkan dadanya pada dada Dev.


" Beby, kau memancing ku," kata Dev merasakan junior nya menggeliat di balik celananya.


" Emmhemm, aku ingin menyiksamu terlebih dulu sebelum kita bertarung," kata Zea menciumi leher sang suami.


Dev merengkuh pinggang Zea yang terbuka dan membelai nya.


" Jangan harap kau bisa menang dariku, Beby," kata Dev lalu memagut bibir seksi Zea.


Zea tersenyum dalam ciuman itu, lalu membalas ciuman sang suami dengan menyesapnya.


Dev mengerutkan keningnya dan melanjutkan ciuman itu.


Pria itu sudah merasa gairahnya terpancing dengan apa yang di perbuat oleh Zea.


Pasalnya wanita itu menempelkan miliknya ke senjata Dev yang sudah mengeras.


Lalu Zea mendorong dada bidang Dev hingga melepas ciuman itu.


Zea menatap wajah sang suami yang sedang berkabut gairah sambil tersenyum miring.


Lalu perlahan Zea mendekati tubuh sang suami lalu mendorong nya hingga terjatuh di atas ranjang.


Dev tersenyum dengan tubuh telentang di atas ranjang, menatap Zea yang mulai mendekati dirinya.


Tapi tak di sangka Zea hanya mengambil coatnya yang ada di atas ranjang.


" Cepat bersiap. Aku tunggu diatas ring, bye ... Beby," kata Zea lalu pergi meninggalkan Dev yang masih terlentang di atas ranjang.


" SHIITT ... dia benar - benar mempermainkan ku. Oke kau ingin bermain dengan ku rupanya. Bersiaplah Beby, aku akan meladeni mu," kata Dev lalu bangkit dari ranjangnya dan masuk kedalam kamar mandi.


.


.


Dimas dan Anggita berjalan memasuki area pesta dengan bergandengan tangan.


Senyum kebahagiaan terpampang di wajah mereka dan Yosi melihat nya.


Lalu Adi menghampiri meja Yosi dan Abel.


" Permisi, Tuan Yosi. Apa kita bisa bicara?" kata Adi dengan sopan.


Yosi melihat kearah Adi dan tersenyum miring.


" Bicara lah," kata Yosi.


" Ayo, aku akan mengantar kalian ke suatu tempat," kata Abel.


Lalu Adi dan Yosi mengikuti langkah Abel.


Abel membawa mereka ke halaman resort bagian belakang dan disana terdapat beberapa kursi panjang yang menghadap ke laut.


Lisa mengikuti langkah mereka, dia terus berjalan sambil menundukkan kepalanya dan berhenti tepat di belakang sang suami.


" Anda yang ingin berbicara, atau istri anda yang ingin bicara?" kata Yosi melihat kedatangan Lisa.


" Saya yang ingin berbicara dengan Anda, Tuan," kata Adi sopan.


" Suruh istri anda pergi dari sini!! kalau anda keberatan maka aku yang akan pergi dari sini!" kata Yosi tegas.


Lisa memberikan berkas yang di bawanya kepada Adi. Lalu pergi dari tempat itu bersama Abel.


Abel hanya membawa Lisa menjauh dan tak benar-benar pergi dari tempat itu.


" Itu semua hanya salah paham," kata Adi memulai pembicaraan.


" Anda tidak tahu apa-apa tentang masalah itu, jadi jangan ikut campur," kata Yosi sinis.


Lalu Adi memberikan berkas yang tadi di berikan oleh Lisa pada Yosi.


Yosi tak langsung mengambilnya, dia hanya menatap pada Adi sambil mengerutkan keningnya.


" Bacalah, ini adalah bukti-bukti yang tidak sempat kau selidiki dahulu," kata Adi.


" Aku tidak membutuhkan bukti apapun, dia hanyalah wanita murahan yang sudah menghianati ku di masa lalu. Jadi bukti itu tidak di butuhkan untuk saat ini," kata Yosi lalu berbalik menghadap ke laut.


" Mungkin kau memang tidak membutuhkan bukti-bukti ini, tapi aku akan tetap membacakan nya agar anda tidak salah paham lagi. Dan bisa menerima pernikahan Dimas dan Anggita."


" Jadi kau hanya ingin membicarakan hal yang tak penting itu?" kata Yosi.


" Ini penting, Tuan. Sangat penting, jadi aku ingin meluruskan hal ini," kata Adi dengan penuh penekanan.


Yosi tak menjawabnya dan terus menghadap ke laut lepas.


" Di awali dari tanggal sekian, Anda berpisah dengan Lisa di depan butik A," kata Adi menceritakan awal mula dari permasalahan itu.


" Itu tidak ada hubungannya dengan masalah kami, Tuan," kata Yosi menyela.


" Anda hanya tinggal mendengarkan, Tuan." Adi menatap pada Yosi yang menyela pembicaraan nya.


Yosi langsung terdiam.


" Lisa berjalan sendirian di jalanan yang terlihat sepi, dan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, dia panik dan sedikit berlari dan masuk kedalam gang yang buntu."


" Kau ingin menjelaskan sesuatu atau mendongeng, Tuan. Ini hanya membuang waktu ku saja," kata Yosi beranjak dari kursi itu dan berjalan menjauhi Adi.


" DIA DI PERKOSA OLEH SESEORANG KARENA KELALAIAN ANDA, TUAN!!" kata Adi dengan nada yang tinggi karena dia gerram dengan sikap Yosi.


Deg ...


Yosi langsung menghentikan langkahnya mendengar perkataan dari Adi dan berbalik menghadap pada Adi.


" Omong kosong apa ini?" kata Yosi tak langsung percaya.


" Kau pikir ini hanya omong kosong belaka? Semua bukti sudah aku kumpulkan bersama Dimas," kata Adi menghampiri Yosi.


Yosi tak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adi.


" Maaf, aku minta maaf karena aku tak bisa melindungi diriku sendiri saat itu. Aku minta maaf," kata Lisa tiba-tiba menghampiri mereka.


Yosi melihat kearah Lisa yang menundukkan kepalanya.


" Dia diperkosa oleh orang lain di malam itu," kata Adi sambil memberikan bukti cctv di jalan yang di lewati Lisa sebelum masuk kedalam gang itu.


Yosi melihat foto-foto itu, disitu tertera tanggal dan waktu nya juga.


Yosi melihat beberapa foto dan melihat kondisi Lisa sebelum dan sesudah melewati jalan itu.