
Jam menunjukkan pukul 9 pagi.
Namun Valerie masih sangat enggan untuk bangkit dari ranjang nya. Dia bahkan meminta pelayan untuk mengantarkan makan pagi nya ke kamar.
Wajah nya pucat dan tampak lemas. Dia hanya membaringkan tubuhnya di ranjang dan Irza tak menampakkan batang hidungnya lagi di kamar itu.
Hingga terdengar suara ketukan di pintu dan membuat Valerie kembali membuka matanya. Dia lekas melihat kearah pintu yang perlahan mulai terbuka.
Wilda muncul dari balik pintu dengan membawa kan minuman hangat untuk sang menantu. Wanita paruh baya itu tersenyum dan menghampiri Valerie yang masih merebahkan tubuhnya di ranjang.
" Sayang ... kenapa kau tak keluar Dr kamar? kau membuat ku cemas," ucap Wilda sambil meletakkan minuman itu di meja nakas yang ada di samping ranjang.
Valerie tersenyum dan mencoba bangkit. Wanita itu kini duduk dan menyandarkan kepalanya di dashboard ranjang.
" Ada apa? apa kau masih tidak enak badan? kau terlihat pucat," kata Wilda sambil meletakkan tangan nya di kening Valerie untuk memeriksa suhu tubuh nya.
" Hmmm ... aku hanya malas untuk keluar dari kamar ini, Mom. Karena aku masih merasa lemas," sahut Valerie dengan suara seraknya.
Wilda tersenyum dan mengambilkan minuman yang dia bawa tadi dan memberikan pada sang menantu.
" Minum ini dulu, agar tenggorokan mu tidak kering," ucap Wilda lembut.
Valerie tersenyum karena dia masih di perhatikan oleh sang mertua. Dia mengambil gelas itu dan lekas menyesap minuman itu.
" Terimakasih, Mom."
Valerie mengembalikan gelas itu di meja nakas.
"Dimana Irza, Mom?" tanya Valerie.
" Irza kembali ke rumah sakit untuk menemani Leyra. Kau mengenal Leyra, kan?" tanya Wilda.
Valerie menganggukkan kepalanya dan merasa hatinya tercubit karena Irza tak berpamitan pada nya. Bahkan pria itu lebih memilih untuk menemani wanita lain di rumah sakit tanpa menanyakan keadaan nya.
" Ku harap kau mengerti, Leyra sahabat Irza sejak dulu dan hingga kini. Wanita malang itu mengalami kecelakaan hingga dia tak sadarkan diri. Dia koma," ucap Wilda menjelaskan.
Valerie hanya terdiam dan mendengar kan penjelasan dari Wilda. Namun tetap saja perasaan nya tak nyaman.
' Seharusnya aku mendengar penjelasan ini dari mulut Irza. Bukan dari Momy,' batin Valerie.
Valerie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Hmmm ... Istirahatlah. Mommy ada di luar, jika kau perlu sesuatu panggil saja Momy," kata Wilda dan Valerie hanya menganggukkan kepalanya.
" Apa perlu Momy panggil kan dokter untuk memeriksa keadaan mu, sayang?" tanya Wilda.
" Tidak perlu, Mom. Aku hanya sedang malas untuk keluar dari kamar. I'm Oke, right?"
Wilda tersenyum dan mengecup kening sang menantu. Lalu dia keluar Dr kamar itu.
Valerie kembali membaringkan tubuhnya dan pikirannya kembali melanglang buana memikirkan sang suami yang kini tengah menemani wanita lain yang katanya adalah sahabat dekat nya.
" Kau pergi tanpa berpamitan ataupun menjelaskan kemana dirimu semalam dan dengan siapa kau semalam. Apa aku sudah tak berarti lagi bagimu, Ir? kau seolah lebih mementingkan kondisi Leyra dari pada aku," gumam Valerie dan air matanya pun kembali menetes.
Entah kenapa perasaan nya sangat sensitif dan dia mudah menangis. Valerie mengusap air matanya dan kembali memejamkan matanya meskipun sangat sulit baginya untuk bisa tertidur.
.
.
Sementara itu di rumah sakit. Irza tampak berbicara dengan seseorang yang tak lain adalah anak buahnya.
" Bagaimana hasilnya?" tanya Irza.
" Pria itu memang mengaku salah, Tuan. Malam itu dia dalam keadaan mabuk hingga tak menyadari bahwa lampu lalulintas sudah berubah menjadi merah. Polisi sudah menyelidiki kasus kecelakaan ini dan menemukan botol minuman beralkohol di dalam mobil pria itu. Kejadian itu murni kecelakaan karena pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan dalam keadaan mabuk," sahut anak buahnya menjelaskan.
Irza tampak menghela nafasnya panjang dan menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.
Tak ada yang mencurigakan dan itu murni kecelakaan karena Leyra sudah merencanakan hal itu dengan sangat matang dan sempurna.
Wanita itu benar-benar nekat dan rela mengorbankan nyawa nya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian Irza dan menghancurkan hubungan pria itu dengan sang istri.
Dan seperti nya rencananya itu berhasil. Karena Irza kini memfokuskan dirinya pada Leyra dan tak memperdulikan istri nya sendiri.
Mungkin jika Leyra sudah sadar, wanita itu akan tertawa senang karena rencananya berjalan dengan lancar.
Namun tuhan mungkin juga memberikan peringatan pada Leyra. Hingga wanita itu mengalami koma dan meskipun tersadar mungkin dia akan mengalami kelumpuhan karena tulang punggung nya yang patah.