My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 82



Dev menggandeng tangan Zea keluar dari mansion. Dia membuka kan pintu mobil untuk sang istri, lalu Zea masuk kedalam mobil itu.


Lalu Dev langsung mengendarai mobil nya meninggalkan area mansion setelah dia duduk di kursi kemudi nya.


Dev ingin membawa sang istri ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Zea.


Zea menatap keluar jendela sembari melihat kearah jalanan yang tak terlalu ramai.


Senyumnya mengembang saat melihat kedai kue coklat yang ada di pinggir jalan.


" Berhenti di depan, Dev. Aku ingin membeli kue itu," kata Zea sambil menunjuk kearah kedai kue coklat itu.


Dev langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Aku yang akan membelikan nya untukmu. Kau tunggu disini saja, oke," ucap Dev sambil melepas sitbelt nya.


" Tidak. Aku ingin ikut, aku ingin memilih dan melihat kue apa saja yang ada di kedai itu," sahut Zea sambil membuka sitbelt nya juga.


Lalu mereka keluar dari mobil nya secara bersamaan.


Jauh di belakang mobil mereka ada mobil yang sedari tadi mengikuti mobil Dev.


" Serang wanita itu sekarang," perintah seseorang dari dalam mobil itu pada seseorang yang duduk di samping nya.


" Baik bos," sahut pria itu, lalu langsung keluar dari dalam mobil itu.


Saat dirinya sudah keluar dari mobil. Mobil itu tampak langsung pergi dari tempat itu. Sementara orang tadi dengan santainya berjalan mendekati yang Zea sedang berdiri di depan kedai itu.


Zea sedang asik memilih kue mana yang ingin dia beli. Sementara Dev, pria itu tampak sibuk mengangkat panggilan dari ponselnya.


Pria yang mengenakan baju serba hitam berjalan dengan santai kearah Zea. Dia terlihat melihat situasi sekitar sambil terus mendekat kearah Zea.


JLEBB


Pria itu langsung menancapkan pisau lipat pada perut bagian bawah Zea. Dan langsung melarikan diri setelah menusukkan pisau itu ke tubuh Zea.


Zea yang shock tampak memegang perut nya yang kini sudah mengeluarkan darah.


Lalu wanita yang akan memberikan pesanan Zea berteriak saat melihat darah yang keluar dari tubuh Zea.


" Aaakkkhh ... Daraaahh!!" teriak wanita itu.


Semua orang tampak melihat kearah nya. Termasuk Dev. Lalu Dev melihat baju yang di kenakan Zea yang terdapat banyak darah.


" Zea!!" teriak Dev yang langsung menghampiri sang istri dan langsung menangkap tubuh Zea yang akan terjatuh.


" Buka matamu!! Siapa yang melakukan ini padamu!!" teriak Dev.


" Tadi ada seseorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam mendekat kearah nya, Tuan. Lalu pria itu langsung melarikan diri," kata seorang saksi mata yang melihat sekilas kejadian itu.


" Apa kau bisa menyetir? Aku harus membawa istri ku kerumah sakit dan menjaganya agar tak menutup matanya," kata Dev cemas.


" Aku akan mengantar kan mu, Tuan."


Lalu Dev langsung menyerahkan kunci mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil dengan menggendong tubuh Zea.


Pria itu langsung mengendarai mobil itu menuju rumah sakit terdekat.


" Beby ... Buka matamu. Sadarlah," kata Dev sambil mengguncang tubuh Zea.


Zea masih setengah sadar. Dia berusaha untuk tetap membuka matanya yang sudah sangat berat.


Lalu Dev melihat darah di tangan Dev saat menggendong tubuh Zea.


' Kenapa keluar darah di bagian itu?' batin Dev bertanya-tanya.


Pikiran nya mulai kalut melihat keadaan Zea dengan perut yang bersimbah darah. Dan dia tak mau memikirkan hal lain.


Tapi itu juga cukup mengganggu pikirannya.


Kini mereka sudah tiba di rumah sakit. Dev langsung menggendong tubuh Zea keluar dari mobil dan berlari kearah ruangan UGD.


" CEPAT TANGANI ISTRI KU!! DIA MENGELUARKAN BANYAK DARAH!!" teriak Dev.


Lalu para perawat dan dokter langsung menangani Zea.


Dev dengan perasaan yang kalut menunggu sang istri di luar ruangan. Pria itu terlihat mondar-mandir tak karuan dan tak bisa berpikir.


Dia seakan Dejavu. Dev ingat saat Zea kecelakaan dan membuat wanita itu koma. Dia sangat takut hal itu terjadi lagi pada sang istri.


Setelah beberapa menit. Dokter tampak keluar dari ruangan itu dan menghampiri Dev.


"Bagaimana dengan keadaan istriku?" tanya Dev cemas.


" Begini. Luka tusuk itu lumayan dalam sehingga merobek selaput yang ada di dinding rahimnya. Kita harus melakukan tindakan operasi dan mengangkat janinnya."


DEG ...


" Kita harus bertindak cepat, Tuan. Dia sudah kehilangan banyak darah dari luka itu dan juga pendarahan dari kehamilan nya," kata dokter itu lagi.


Dev seakan tak punya tenaga untuk menopang bobot tubuhnya. Pria itu pun bersandar ke dinding dan mencoba mencerna perkataan dari dokter itu.


" Tuan. Kau harus kuat. Dan kau harus memutuskan, ini demi keselamatan istri anda!" kata dokter itu lagi dengan tegas.


Dev hanya mengangguk kan kepalanya.


" Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa istri ku," ucap Dev dengan nada yang bergetar.


" Baiklah. Kau harus menandatangani surat persetujuan ini," kata dokter itu.


Lalu perawat yang berdiri di belakang dokter itu menghampiri Dev dan memberikan dokumen yang harus di tandatangani oleh Dev.


Dengan ragu Dev menggerakkan tangan nya yang menggenggam erat bolpoin di atas kertas putih itu.


Setelah itu dia langsung terduduk di lantai rumah sakit dengan mencengkram kuat rambut kepalanya.


Air matanya menetes dan dia pun menangis.


Seseorang dari jauh melihat kearah Dev yang terduduk di atas lantai dan menghampiri nya.


" Dev ..." panggil dokter Nadin.


Dev tak menoleh. Dia hanya terus menangis sambil menundukkan kepalanya.


" Dev ... Ada apa?" tanya dokter Nadin.


Namun Dev tak menjawab nya. Lalu dokter Nadin pun langsung masuk kedalam ruangan UGD.


Dia begitu terkejut melihat Zea yang sedang di tangani oleh salah satu dokter.


" Ada apa dengan nya?" tanya dokter Nadin.


" Dia tertusuk sampai merobek bagian dinding rahimnya. Dan kita terpaksa harus mengangkat janinnya," kata dokter itu menjelaskan.


Dokter Nadin sampai tak bisa berkata-kata.


" Cepat siapkan ruang operasi nya." Perintah dokter itu pada salah satu perawat nya.


.


.


Jauh di Paris Prancis. Gita tampak sedang mondar mandir dengan ponsel genggam nya.


" Kemana gadis tengil ini. Kenapa dia tak mengangkat telepon ku," kata Gita kesal.


" Mungkin dia sedang sibuk di perusahaan nya, Honey," kata Dimas yang duduk di tepi ranjang.


" Tidak. Aku sudah menghubungi perusahaan tapi Zea sedang tak masuk. Dimana dia?" ucap Gita geram.


" Tenanglah. Kau bisa menghubungi nya lagi nanti, Oke," kata Dimas menghampiri sang istri dan mengusap lengannya.


" Aku akan menghubungi Momy." Gita langsung duduk di sofa dan mencoba menghubungi Lisa.


Panggilan pertama tak terjawab.


" Kenapa semua orang seakan sedang sibuk sekali hari ini," gumam Gita sambil terus menghubungi ponsel sang Momy.


Panggilan kedua tak terjawab. Dan setelah panggilan ketiga baru ada jawaban.


" Mom ... Kenapa lama sekali mengangkat telepon ku. Apa kalian disana sudah melupakan ku!!" kata Gita dengan nada yang kesal.


Namun tak ada jawaban dari Lisa.


" Mom ... Kau bisa mendengar ku?" kata Gita dengan perasaan yang mulai tak enak.


Wanita itu hanya mendengar isak tangis dari seberang telepon nya.


Gita langsung terdiam, dia begitu yakin jika sedang ada sesuatu yang terjadi dengan keluarganya.


" Momy ...," panggil Gita lagi dengan nada yang sedikit lembut.


" Zea tertusuk oleh seseorang, Gita. Dan dia harus kehilangan bayinya," kata Lisa dengan suara yang bergetar.


DEG ...


Gita langsung terpaku dan lemas seketika hingga menjatuhkan ponselnya.