My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 44



Gita sedang bercengkrama dengan para mahasiswa yang lain, mereka saling berpelukan dan saling mengucapkan selamat.


Tak lupa, Gita juga membagikan undangan pesta pertunangan nya pada teman-temannya.


" Wow, sang primadona kampus sudah menemukan pangeran tampan nya," ucap salah satu teman Gita.


" Ya, dunia ini tidak adil. Kenapa tuhan hanya mempersatukan pria tampan dengan wanita cantik saja," kata seorang teman lagi.


" Maka dari itu, datanglah ke acara ku. Karena pasti akan banyak pria tampan yang hadir di pesta ku." jawab Gita dan disambut tawaan dari para gadis itu.


" Honey, kau sudah selesai?" tanya Dimas datang menghampiri kerumunan para gadis di situ.


Gita menoleh dan tersenyum pada Dimas.


" Ya, aku sudah selesai."


" Wah, mereka memang pasangan yang sangat serasi," ucap teman Gita.


" Hei, tutup mulutmu itu sebelum air liur mu keluar," kata Monik.


Dan disambut tawaan dari para gadis yang sedang berkumpul.


.


Kini Dimas dan Anggita sudah berada di dalam mobil milik Dimas. Keluarga Gita sudah pulang terlebih dahulu.


" Kau cantik, Honey," ucap Dimas mencium punggung tangan Gita.


" Ya, aku memang cantik," sahut Gita narsis.


" Ya, dan aku pria beruntung yang akan menikahi mu." Dimas merangkul bahu Gita dan mencium puncak kepalanya.


Lalu mobil yang di kendarai Dimas dan Gita berhenti di sebuah resort pinggir pantai milik Dev.


" Hei, dimana ini? kenapa kita berhenti disini , Dimas?" tanya Gita mengedarkan pandangannya.


Tiba-tiba Dimas menutup mata Gita dengan sebuah kain lalu menuntunnya keluar dari mobil.


" Kenapa kau menutup mata ku? dan aku rasa, aku tidak sedang ber ulang tahun, Dimas." Gita mengikuti langkah Dimas yang menuntun nya ke sebuah dermaga.


" Ikuti saja, dan jangan bawel," sahut Dimas dan langsung menggendong tubuh Gita yang terlihat sangat ribet dengan pakaian nya.


Gita mengalungkan tangannya di leher Dimas dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan pria itu. Serta merasakan deru nafas Dimas menerpa di wajahnya.


' Kenapa aku merasa jantungku seakan mau melompat keluar,' batin Gita merasa kan debaran di jantungnya.


Lalu Dimas menurunkan Gita di atas dermaga yang sudah di sulap menjadi tempat yang sangat indah dengan di hiasi banyak bunga disana.


Dimas membuka kain yang menutupi mata Gita. dan menyuruh nya untuk membuka matanya.


Perlahan Gita membuka matanya dan mengerjapkan matanya, senyumnya tersungging ketika melihat dermaga yang indah di depan matanya.


Dimas menjentikkan jarinya, lalu terdapat tulisan I love you dengan sangat indah dari sebuah kain putih yang terbentang di atas kapal.


" Wow, Ini sangat indah, Dimas. Thank you," ucap Gita masih terpaku melihat kejutan indah yang di berikan oleh Dimas.


Lalu Dimas berlutut di depan Gita sambil memberikan setangkai bunga mawar pada Gita.


" I LOVE YOU MY SWEET HEART ... WILL YOU MERRY ME ...."


Gita merasa sangat terharu dengan pemandangan indah di depannya dan tak terasa air matanya menetes.


" YES I WILL MERRY YOU ...." ucap Gita menerima setangkai bunga mawar dari Dimas.


Lalu mereka pun berpelukan dan Gita membisikkan sesuatu di telinga Dimas.


" I love you to dokter tampan ku."


Dimas tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya mendengar ucapan dari Gita serta mengangkat tubuh Gita serta memutarnya.


Zea memandang ke arah dua sejoli yang sedang berbahagia itu dari kejauhan.


" I love you Beby," ucap Dev memeluk tubuh Zea dari belakang.


" I love you to Beby," sahut Zea menyenderkan kepalanya ke dada bidang sang suami.


.


.


.


Di tempat lain, tepatnya di bandara internasional. Seorang pria paruh baya turun dari pesawat pribadi nya.


Dia adalah Yosi Ganendra, Dady dari Dimas Ganendra.


Pria itu menyusul putranya karena Ingin mengetahui wanita seperti apa yang berhasil membuat putranya itu membantah keinginan nya.


" Kita langsung ke mansion," ucapnya pada asistennya.


" Baik, Tuan."


Lalu mobil itu melaju kearah mansion keluarga Ganendra.


Yosi melihat keluar jendela yang kini sudah banyak berubah, karena memang dia sudah sangat lama tidak pulang ke negara nya.


Kini mobilnya sudah berhenti tepat di depan mansionnya. Pria paruh baya itu turun dari mobil dan menatap mansion keluarga yang masih tetap sama.


" Selamat datang, Tuan," ucap seorang pelayan yang sudah lama bekerja disana.


" Hmm ... Terimakasih kau sudah merawat mansion ini dengan sangat baik," kata Yosi sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan di mansion itu.


" Itu sudah kewajiban ku, Tuan. Apakah tuan mau saya buat kan kopi?" tanya pelayan itu sopan.


" Ya," jawab nya singkat dan melangkah kan kakinya menuju ke halaman belakang mansion, dengan di ikuti oleh asisten nya.


Pria itu duduk dan langsung mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang yang tak lain adalah Dimas.


.


Dimas yang sedang bersantai di pinggir pantai bersama Gita, melihat layar ponselnya yang berbunyi dan menatap nama yang tertera di layar ponselnya.


" Siapa? kenapa kau tak langsung mengangkatnya, Honey?" tanya Gita yang bersandar di dada bidang Dimas.


" Daddy ...," ucapnya lirih.


Lalu mengangkat teleponnya.


" Hallo, Dad?"


" Hallo, Son. Daddy sudah ada di mansion." Dimas terpaku tak percaya mendengar perkataan Yosi yang menyebutkan dirinya berada di mansion.


Karena terakhir Dimas berpamitan pada Daddy nya, dia bilang tidak akan pernah menghadiri acara pertunangan nya.


" Hmmm, aku akan pulang setelah ini." Dimas langsung menutup teleponnya.


" Ada apa, Honey?" tanya Gita melihat ekspresi wajah Dimas yang berubah tegang, setelah menerima telepon dari Daddy nya.


" Kita pulang sekarang, Ada urusan penting yang haru aku selesaikan sebelum acara pertunangan kita," sahut Dimas bangkit dari kursi malas itu.


" Baiklah, apa masalah serius?" tanya Gita yang sudah di gandeng oleh Dimas.


Pria itu menghentikan langkahnya lalu menangkup wajah wanita yang dia cintai.


" Seserius apapun masalah ini, tidak akan bisa menggagalkan acara kita. I promise." Dimas menatap mata indah Gita lalu mencium keningnya.


Gita tersenyum mendengar ucapan dari Dimas, lalu mereka pun pergi dari resort itu.


Dev dan Zea tidak ikut pulang, karena mereka ingin mengawasi persiapan acara pesta di resort itu.


Dan Abel sudah jalan menuju ke resort milik Dev untuk membantu mengawasi persiapan nya bersama adik Dev yang baru tiba.


" Mom, aku penasaran sama sosok wanita yang sudah merubah kak Dev," Kata Alina sambil menyandarkan kepalanya di bahu Abel.


" Kau pasti akan senang mendapatkan kakak ipar yang cantik dan baik seperti Zea," jawab Abel sambil mengusap puncak kepala putrinya.


" Benarkah? aku takut dia wanita yang cuek dan sinis seperti kak Lena, mantannya kak Dev," sahut Alina.


" Tidak sayang, dia berbeda, dan dia juga wanita yang spesial." Abel mengintip kebiasaan Zea yang memang berbeda dari wanita lainnya.