
2 Minggu berlalu.
Dimas dan Anggita sudah mengelilingi beberapa kota indah di sekitar Paris dengan menyewa campervan. Dan kini mereka sudah ada di mansion keluarga Ardo.Ayah kandung Anggita.
Wanita itu sudah tahu bahwa itu semua adalah rencana Adi yang ingin mempertemukan dirinya dengan ayah kandungnya.
Dan Anggita menerima hal itu. Dia bersikap sangat dewasa bahkan dia berterima kasih pada Adi.
Namun mereka semua menyembunyikan hal itu pada Lisa. Karena Dokter Nadin menyarankan untuk tak mengingat kan apapun yang menyangkut masa lalu nya yang bisa menimbulkan trauma berat itu kembali.
Gita memahami hal itu. Bahkan Ardo ingin sekali menemui Lisa untuk meminta maaf pada wanita itu.
Namun Adi melarang nya. Karena tujuannya sudah tercapai, yaitu mempertemukan Gita dengan ayah kandungnya.
.
Pagi yang cerah. Gita merasakan pusing dan sakit kepala yang sangat hebat di kepalanya.
Wanita itu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang dengan tangan yang memegang kepalanya.
CEKLEK
Wilda masuk kedalam kamar Gita untuk mengajak nya sarapan pagi. Karena semua sudah menunggu di bawah.
Kecuali Dimas dan Ardo yang sudah berangkat ke perusahaan mereka masing-masing.
" Sayang ... kau kenapa? wajah mu sedikit pucat," kata Wilda menghampiri ranjang Gita.
" Kepala ku sangat pusing, Aunty," sahut Gita sambil memejamkan matanya.
" Oh my. Kau sakit?" tanya Wilda duduk di tepi ranjang dan memeriksa kening dan leher Gita.
" Tapi kau tidak sedang demam, sayang," kata Wilda.
" Entahlah. Beberapa hari ini aku sering merasakan pusing di pagi hari, Aunty," sahut Gita sambil memegang kepalanya.
" Baiklah. Istirahat lah dulu. Aku akan mengambilkan makanan untuk mu."
Gita mengangguk kan kepalanya dan langsung membaringkan tubuhnya.
Wilda keluar dari kamar Gita. Dia turun ke ruang makan dan mengambil kan makan pagi dan membuat minuman hangat untuk Gita.
" Dimana kak Gita, Mom?" tanya Irza sambil menyantap makanannya.
" Dia sedang tak enak badan, Ir. Aku akan mengantarkan makanan dulu ke kamarnya."
Wilda langsung kembali ke atas dan menikmati ruang makan.
" Mom ... Setelah ini aku akan ke kampus!!" teriak Irza dari ruang makan.
" Oke, Honey. Hati-hati dijalan!!" sahut Wilda.
CEKLEK
Wilda membuka pintu kamar Gita dengan membawa kan makanan untuk putri sambungnya itu.
" Sayang ... Ayo makanlah. Setelah itu aku akan memanggil kan dokter untuk memeriksa mu kemari," kata Wilda.
Gita bangun dan Wilda langsung menyusun beberapa bantal di belakang Gita. Agar dia bisa bersandar dengan nyaman.
" Terimakasih, Aunty. Aku meras memiliki 2 Momy," kata Gita yang membuat Wilda tersenyum dan mengusap kepala nya.
Lalu dia pun mulai memakan makanannya.
" Aunty sudah makan?" tanya Gita sambil menyantap makanannya.
" Sudah, kau makanlah. Habiskan makanan mu, aku akan menghubungi dokter dulu."
Wilda keluar dari kamar Gita dan menuju kamar nya untuk menghubungi dokter yang sering menangani keluarga nya.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Wilda kembali memasuki kamar Gita dengan seorang dokter yang berjalan di belakangnya.
" Kau sudah menghabiskan makanan mu, sayang?" tanya Wilda saat melihat piring dan gelas yang dia bawa tadi sudah kosong.
" Iya, dan aku merasa sangat kenyang," sahut Gita.
" Apa yang kau keluhkan, Nona?" tanya dokter itu sambil membuka tasnya dan mengeluarkan alat untuk memeriksa Gita.
" Aku hanya merasakan pusing dan kepala ku yang seperti di tusuk-tusuk. Aku merasakan hal itu hampir setiap pagi selama beberapa hari ini," kata Gita.
Lalu dokter pun memeriksa keadaan Gita.
" Tidak ada yang salah dengan keadaan nya. Semua nya normal. Kapan terakhir kali Anda mendapatkan tamu bulanan mu, Nona?" tanya dokter itu.
" Astaga!! aku melupakan hal itu, Dokter."
Dokter itu pun tersenyum.
Dokter itu langsung keluar dari kamar Gita. Sementara Wilda masih di kamar itu dan menghampiri Gita.
" Sayang. Jika kau memang sedang hamil, ini akan menjadi kabar bahagia untuk semua orang," kata Wilda menggenggam tangan Gita.
Gita hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Baiklah. Sekarang bersiaplah, kita akan langsung ke rumah sakit setelah ini."
Wilda pun langsung keluar dari kamar Gita. Gita bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebentar.
.
.
Kini Wilda dan Gita sudah tiba di rumah sakit. Mereka sedang menunggu antrian untuk masuk ke ruangan dokter SpOG itu.
Setelah namanya di panggil. Gita dan Wilda langsung masuk kedalam ruangan dokter itu.
" Selamat pagi. Saya ingin memeriksa putri saya, karena dia di perkirakan sedang hamil oleh seorang dokter," kata Wilda.
" Baiklah. Aku akan langsung memeriksa mu, berbaring lah," kata dokter itu.
Lalu Gita pun berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu.
" Aku sudah melihat rekam medis mu, Nona. Dan semua terlihat normal. Semoga saja kita mendapatkan kabar baik setelah ini," ucap dokter wanita itu sambil mengoleskan gel ke perut rata Gita.
Lalu dia pun mulai menggerakkan sebuah alat di atas perut Gita.
" Nah. Itu dia," ucap dokter itu.
Gita dan Wilda langsung melihat ke layar monitor yang ada di hadapannya.
" Lihatlah titik kecil ini. Dia adalah calon bayi mu," ucap dokter itu yang membuat Wilda dan Gita tersenyum sumringah.
" Jadi aku benar sedang hamil, Dokter?" tanya Gita yang matanya sudah berkaca-kaca.
" Ya. Kau sedang hamil, usianya sudah 6 minggu. Apa kau tak merasakan mual-mual?" tanya dokter itu.
" Tidak, Dokter. Aku hanya merasa pusing selama beberapa hari ini. Dan penciuman ku yang sangat sensitif," sahut Gita.
" Baiklah. Pemeriksaan selesai, aku akan meresepkan obat dan vitamin untuk mu. Dan kau harus menjaga kehamilan mu," kata dokter itu.
Gita pun bangkit dari ranjang dan duduk di kursi yang ada di seberang meja Dokter itu.
" Apa kehamilan nya tidak bermasalah, Dokter?" tanya Wilda.
" Tidak. Janinnya tumbuh dengan baik di usia nya. Dan sangat sehat. Cukup minum vitamin nya dan lakukan lah aktivitas seperti biasanya asal jangan mengangkat beban yang berat."
Wilda dan Gita mengangguk kan kepalanya mendengar nasehat dari dokter itu.
" Sekali lagi selamat atas kehamilannya, Nona Gita. Semoga di beri kelancaran sampai hari H nanti," ucap dokter itu.
" Terimakasih, Dokter."
Wilda dan Gita pun langsung keluar dari ruangan itu setelah berkonsultasi. Dan kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju mansion.
" Apa kau tidak menginginkan sesuatu, sayang?" tanya Wilda.
" Tidak, Aunty. Terimakasih," sahut Gita.
" Atau mungkin kau ingin ke perusahaan untuk mengabari Dimas?" tanya Wilda.
" Aku punya ide yang cukup menarik, Aunty. Dan aku butuh bantuan mu," kata Gita.
" Katakanlah. Aku pasti akan membantu mu," ucap Wilda.
Lalu Gita membisikkan sesuatu ke telinga Wilda.
" Apa kau yakin dengan rencana mu itu, sayang?" tanya Wilda.
" Ya. Ini surprise untuk mereka, Aunty. Aku mohon bantu aku, please ..."
Gita menyatukan kedua tangannya sembari memohon.
" Baiklah," sahut Wilda akhirnya.
" Thank you, Aunty."
Gita langsung memeluk erat ibu sambungnya itu.
" Aku sangat bersyukur. Disini aku punya ibu sambung yang sangat menyayangi ku. Dan disana, aku punya Ayah sambung yang juga menyayangi ku, Thanks God ...," ucap Gita senang.
Wilda tersenyum sambil mengusap lengan anak sambungnya itu.
" Sejak dulu aku sangat ingin memiliki seorang putri. Dan sekarang, tuhan mengabulkan keinginan ku," ucap Wilda.
" Aku menyayangimu, Mom. Boleh aku memanggilmu dengan sebutan itu?" tanya Gita.
" Oouuwh ... aku sangat senang jika kau memanggilku Momy, sayang."
Lalu mereka pun kembali berpelukan.