My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 86



Dimas memeluk tubuh Gita dari belakang. Pria itu mendarat kan dagunya di bahu sang istri.


" Kemana kita hari ini?" tanya Gita.


" Aku ingin kau bertemu dengan seseorang," jawab Dimas.


Gita melepaskan tangan Dimas yang melingkar di perut nya. Wanita berbalik dan langsung melingkar kan tangan di leher sang suami.


" Siapa? Seorang wanita? atau pria?" tanya Gita sambil menatap kearah mata Dimas.


" Aku ingin kau bertemu dengan ayah kandung mu," kata Dimas to the poin.


Dia ingin tahu bagaimana reaksi Gita saat mendengar tentang ayah kandungnya.


" Kau pasti sedang bercanda," sahut Gita sambil tertawa pelan.


" Bagaimana kalau aku tidak sedang bercanda?"


Senyum di bibir Gita langsung menghilang. Wanita itu menatap lekat mata Dimas. Seakan mencari jawaban dari tatapan mata itu.


Lama dia terdiam dan seolah sedang mencari jawaban untuk perkataan Dimas yang terlihat sedang sangat serius.


" Bawa aku bertemu dengannya jika memang dia masih hidup," kata Gita akhirnya.


" Apa kau mau bertemu dengan nya?" tanya Dimas sekali lagi.


Gita melepaskan tangan nya yang melingkar di leher Dimas.


" Ya. Aku ingin tahu seperti apa wajah laki-laki yang sudah tak mengharapkan ku," kata Gita.


Lalu dia pergi dari hadapan Dimas dan masuk kedalam kamar mandi.


Dimas hanya menatap kearah sang istri yang kini sudah masuk kedalam kamar mandi.


.


.


" Temui dia, Honey," kata Wilda pada Ardo.


" Aku tak punya keberanian untuk menampakkan wajah ku di hadapan nya, Sayang," sahut Ardo sambil terus menatap kearah luar jendela.


" Dia tidak pernah tahu wajah mu seperti apa. Hanya kau yang mengetahui wajah nya. Setidaknya kau mau melihat nya meskipun dari jauh," kata Wilda sambil mendekat kearah punggung sang suami yang sedang membelakangi nya.


Ardo tak menjawab. Dia seolah sedang berpikir keras dan mengumpulkan keberanian nya untuk menemui putri yang tak tahu kehadiran nya.


" Apa kau yakin dia tak pernah tahu siapa ayah kandungnya?" tanya Ardo.


Wilda menghampiri Ardo dan dia membalik tubuh nya agar menghadap kearahnya.


" Dia bahkan tak pernah tahu ayah kandungnya masih hidup apa tidak," kata Wilda sambil menatap mata Ardo.


Ardo menatap mata Wilda dan terdiam.


" Baiklah," kata Ardo.


Wilda tersenyum dan mengecup bibir sang suami.


" Bersiaplah. Kita akan makan malam bersama di luar," kata Wilda.


Lalu mereka pun bersiap-siap untuk acara makan malam yang sudah lama di rencanakan oleh Dimas dan Wilda.


Setelah selesai bersiap, Wilda dan Ardo langsung keluar dari kamarnya. Mereka berjalan menuju tempat parkir mobil yang sudah disiapkan oleh sopirnya.


Dalam perjalanan menuju restoran yang telah direncanakan. Wilda melihat ke arah Ardo yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Lalu dia juga mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Wanita paruh baya itu menuliskan pesan singkat pada Dimas.


"Kita sudah ada dalam perjalanan." Tulis Wilda. Lalu dia menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.


.


.


Dimas menerima pesan dari Wilda, lalu dia langsung berangkat menuju restoran yang sudah direncanakan.


"Kita akan makan malam di mana?" tanya Gita.


"Kau akan tahu sendiri nanti setelah kita sampai," sahut Dimas.


"Apa kita hanya makan malam berdua? tanya Gita.


"Ada dua orang lagi yang akan bergabung makan malam bersama kita," sahut Dimas sambil fokus dengan kemudinya.


"Apakah pria itu dan istrinya?" tebak Gita.


Dimas tak menjawab. Dia hanya terus fokus dengan kemudinya.


Lalu Gita pun melihat kearah luar jendela. "Apa yang akan aku bicarakan pada pria itu. Jika bertemu dengannya," batin Gita galau.


Restoran itu adalah restoran yang terkenal di kota Paris, bukan hanya karena gedung nya yang mewah tapi juga makanannya yang enak. Dan viewnya yang sangat indah dengan pemandangan menara Eiffel.


Gita mengedarkan pandangannya ke segala arah di restoran itu, senyumnya tersungging saat melihat menara Eiffel yang begitu cantik di hadapannya dengan lampu kelap-kelip yang berkilauan di sana.


"Ini sangat indah," kata Gita.


Dimas merangkul bahu sang istri.


"Kau pasti akan suka juga dengan makanannya," kata Dimas.


Lalu mereka masuk ke dalam restoran itu, Dimas membawa Gita naik ke atas lantai dua restoran itu.


Dia sudah memesan meja di sana karena pemandangan dari atas juga tak kalah indah.


"Pemandangan dari sini juga sangat indah," kata Gita.


Wanita itu melihat ke arah menara Eiffel dari atas lantai 2 yang juga bisa melihat suasana di bawah restoran itu.


Lalu Dimas membawa Gita duduk di kursi yang sudah dipesannya. Seorang weters menghampiri mereka dengan membawa buku menu di tangan nya.


"Silahkan ... ini menu-menu dari restoran kami," kata weters itu sopan.


Gita membuka buku menu itu.


"Apa menu rekomendasi makanan di sini?" tanya Gita.


"Berikan saja 4 menu makanan yang best seller di restoran ini, beserta minuman nya," sahut Dimas sebelum weters itu menjawab pertanyaan dari Gita.


" Baik, Tuan. Apa ada lagi yang ingin di pesa?" tanya nya lagi.


" Aku juga minta dessert yang paling favorit disini. Cukup itu saja, terima kasih," kata Gita.


Lalu weters itu pun pergi setelah menerima pesanan dari Dimas dan Gita.


Gita penasaran, siapa yang akan makan bersamanya di restoran mewah itu.


Dimas menggenggam tangan Gita lalu mencium punggung tangannya.


"Apa kau sudah siap bertemu dengannya?" tanya Dimas.


Gita hanya terdiam dan tertunduk. Dimas mengangkat dagu Gita agar menatap ke arahnya.


"Dia tidak pernah tahu bahwa dia memiliki seorang putri, dia sangat senang setelah mendengar kabar kalau dia memiliki seorang putri. Tapi dia tidak punya keberanian untuk menemui putrinya itu," kata Dimas mulai bercerita.


"Benarkah? dari mana kau tahu?" sahut Gita.


"Sebenarnya aku sudah lama merencanakan ini bersama istrinya, Aunty Wilda," kata Dimas.


Lalu Gita mengingat beberapa pesan yang pernah dia baca di ponsel sang suami, yang namanya berinisialkan w.


'Jadi w itu adalah Aunty Wilda?' batin Gita.


"Apa dia akan menolak aku, jika bertemu denganku?" tanya Gita.


" Tidak. Dia tidak akan pernah menolakmu karena dia sangat menyesali apa yang dibuatnya. Dia menyesal karena sudah menelantarkan putrinya sendiri. Bahkan dia tidak tahu kehadirannya," sahut Dimas.


Lalu ada seorang wanita paruh baya menghampiri meja Dimas dan Anggita.


Wanita itu menggandeng seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang sudah tak muda lagi.


"Apa kami terlambat?" tanya Wilda.


Dimas dan Gita menoleh pada asal suara. "Tidak, Aunty. Kita juga baru saja sampai," jawab Dimas.


Ardo terpaku sambil menatap ke arah Gita. 'Inikah putriku!' batin Ardo.


Begitupun sebaliknya, Gita menatap ke arah pria paruh baya itu.


'Apa dia Ayah kandungku?' batin Gita.


Mereka saling menatap tanpa ada kata yang mereka keluarkan.


"Silahkan duduk. Aunty, Uncle," kata Dimas yang membuat Gita dan Ardo pun tersadar dari lamunannya.


Gita tersenyum kaku pada Wilda dan Ardo. Lalu Ardo dan Wilda pun duduk di kursi yang menghadap kearah Dimas dan Anggita.


"Kalian sudah memesan makanan?" tanya Wilda.


"Sudah Aunty, kami sudah memesan makanan yang direkomendasikan di restoran ini," jawab Dimas.


Wilda menatap ke arah Gita dan Ardo yang masih saling bertatapan tanpa ada yang berani mengeluarkan suara.


"Apakah benar kau yang bernama Anggita?" tanya Wilda dengan suara lembutnya.


"Ya, Aunty. Aku Anggita," sahut Gita tersenyum.


"Apa kau tahu dia adalah Ayah kandungmu?" tanya Wilda yang membuat Ardo menatap tajam ke arahnya.