My Lovely Girl

My Lovely Girl
98.



Ke esokan harinya. Zea menghubungi Gita, dia ingin memberi tahu Gita bahwa dia bisa pergi ke Paris untuk menemui Daddy nya.


Drt drt drt


Ponsel Gita berbunyi. Wanita itu langsung mengangkat telepon itu saat melihat nama Zea disana.


" Ada apa, Ze?" tanya Gita.


" Besok kau bisa langsung ke Paris. Dev sudah menemukan seorang asisten yang bisa dipercaya untuk menangani perusahaan Dimas disini," kata Zea.


" Benarkah? apa Dimas setuju?" sahut Gita.


" Ya. Dev bilang dia setuju dan akan menyelesaikan pekerjaan hari ini, agar besok bisa langsung berangkat.


" Syukurlah. Terimakasih, Ze."


Lalu mereka sama-sama memutuskan sambungan teleponnya.


.


.


Ke esokan harinya. Dimas dan Anggita langsung berangkat ke Paris dengan menggunakan pesawat pribadi milik Devandra.


Dimas akan berada di sana kurang lebih satu bulan karena Yosi yang akan menangani perusahaan nya disini.


Gita tak memberi tahu kan keberangkatan nya pada Lisa. Dia hanya berpamitan pada Adi.


Sesampainya di Paris. Gita dan Dimas langsung menuju mansion Ardo. Dia sangat merindukan daddy nya itu yang katanya memang sedang tidak sehat.


" Apa yang kau pikirkan?" tanya Dimas saat melihat wajah Gita yang tampak termenung.


" Aku memikirkan kesehatan daddy," sahut Gita.


" Doakan saja, Dady pasti baik-baik saja," sahut Dimas sambil merangkul bahu Gita.


Kini mereka tiba di mansion Ardo. Mereka sudah di kejutkan oleh sebuah ambulance yang juga baru tiba di mansion itu.


" Ada apa ini? kenapa ada ambulance disini?" tanya Gita.


" Tuan Ardo sedang sakit, Nona. Dan dia harus di bawa ke rumah sakit karena kondisi nya yang semakin melemah," kata seorang pelayan yang sudah mengenal Gita.


Wanita itu langsung berlarian masuk kedalam mansion dan masuk kedalam kamar Ardo.


Dimas menggendong Arkana yang sedang tidur dan langsung menidurkan putra nya itu di salah satu kamar tamu disana.


" Mom ..." panggil Gita lirih.


Wanita itu menoleh dengan air matanya yang masih mengalir.


" Syukurlah kau datang, sayang," kata Wilda memeluk Gita.


" Ada apa dengan Daddy?" tanya Gita melepaskan pelukannya.


" Oh my. Semoga tak jadi hal-hal yang buruk pada daddy."


Gita langsung menghampiri Ardo yang sudah ada di ranjang yang di keluarkan dari ambulance.


" Dad ... aku datang, dad. Aku sudah ada di samping mu," kata Gita menangis sambil menggenggam tangan Ardo yang terdapat selang infus disana.


Mendengar suara Gita. Ardo langsung membuka matanya perlahan. Dia menatap kearah Gita dan mengangkat tangan nya mengusap lembut pipi sang putri.


" Aku senang kau datang, putriku," sahut Ardo lirih.


" Daddy kuat. Daddy pasti kuat, aku akan selalu disini bersama Daddy jadi Daddy pasti akan baik-baik saja."


Lalu para perawat langsung mendorong ranjang itu menuju ambulance.


Wilda masuk kedalam ambulance untuk menemani Ardo.


Sedangkan Dimas dan Gita mengikuti ambulance itu menggunakan mobil Ardo yang terparkir di halaman.


" Aku takut. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada Daddy. Oh God, semoga kau memberikan kesempatan agar aku bisa lebih lama menemani Daddy," gumam Gita dalam mobil.


Dimas menggenggam tangan Gita dan mengusap nya.


" Daddy pasti akan baik-baik saja," sahut Dimas.


.


.


" Apa Gita sudah mengangkat teleponnya?" tanya Dev.


" Belum. Sepertinya terjadi sesuatu yang darurat disana," sahut Zea.


" Aku akan menghubungi Dimas."


Dev langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Dimas.


Namun hasilnya sama saja. Dimas tak mengangkat teleponnya. Itu membuat Dev dan Zea semakin yakin pasti ada sesuatu disana.


" Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka," ucap Zea sambil mendekap tangan nya di dada dan menatap kearah langit yang mulai gelap.


Dev datang menghampiri Zea dan memeluknya dari belakang.


" Jangan khawatir kan mereka. Aku yakin Dimas pasti menjaga Gita dengan sangat baik disana," ucap Dev sambil mencium pipi Zea.


Zea tersenyum dan mengusap punggung tangan Dev yang ada di perut nya.


.


.